Deklarasi Jalan Santri Talents Mapping®

Hmm… Menarik, ya. Di program pengembangan diri yang pernah saya ikuti, Declaration Day alias deklarasi semacam ini dilakukan di bagian paling akhir program. Jadi terasa seperti momen kelulusan dari programnya. Sedangkan di program 90 Days Advanced Exercise For TM Practitioner… Deklarasi ini dilakukan di awal. Jadi seperti niat (intentionality) yang akan menentukan seperti apa perjalanan yang akan ditempuh selama kira-kira 3 bulan ke depan. Saya tidak sedang menilai mana yang lebih benar, apakah deklarasi di awal atau di akhir, karena menurut saya dua-duanya bernilai baik dan bermanfaat. Seberapa baik/bermanfaat? Tentu tergantung pada masing-masing individu yang menjadi pelaku dari perjalanan tersebut.

Oleh karena itu, di momen baik yang sudah dimaksudkan secara khusus untuk tujuan tersebut… Dengan mengucap “Bismillahirrahmanirrahim“, saya mendeklarasikan pengabdian diri saya sebagai santri dan praktisi Talents Mapping®.

Continue reading “Deklarasi Jalan Santri Talents Mapping®”

Legacy

This title has been left in the draft since April 2020, but apparently I’ve never even written anything in it, just a title. Hmm, wonder why.

I guess I’ve been thinking about this topic since two years ago, but never really gotten around to any substance until now. Most likely. Well, I guess the time is now? Let’s see where we’ll get to this time.


As mortal beings, I think it is natural for us humans to think about life and death and their meanings. The majority of human beings might be aware of the circle of life, but might not be likely to spend much of their time being aware of its meaning and consequences. Nevertheless, it is in our nature as biological beings to survive and ensure the survivability of our species. Even further, as intellectual beings, we also have the urge to ensure the survivability of each of our very own identity.

And I guess that is what we would call a legacy.

In the hustle and bustle of this modern society, I suppose it is really easy to get swept by the rushing lifestyle of the digital world. The quick and short and never-ending streams of information keeping us company as we go on about our lives, most likely to keep ourselves busy enough to not think of the uncomfortable question:

Continue reading “Legacy”

Bermanfaat

Beberapa tahun terakhir sepertinya saya lumayan sering merenungkan makna kata itu. Barangkali sejak memutuskan untuk banting stir arah karier keluar dari jalur korporat, memilih untuk eksplorasi passion, purpose & mission, lalu akhirnya mengalami major identity crisis yang pertama kali, hahahaha.

Mungkin juga karena sejak lama udah diajarin prinsip yang berasal dari hadits, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Tapi entah kenapa sejak mengalami major identity crisis yang pertama itu (dan ternyata bukan terakhir kalinya hahaha), meski saya selalu berpegang pada prinsip sesuai hadits tersebut, fokus pada tujuan/purpose, berorientasi pada mission bukan sekedar passion, ingin selalu berkarya memberi manfaat sebesar-besarnya buat orang lain, dll dst… tapi kok saya merasa lelah amat ya? Kayak setiap kali merasa udah di jalur yang benar… selalu aja kepentok dan jatuh dan hancur. Udah gitu sakitnya ga nanggung-nanggung lagi. Like my heart just got shattered into a million pieces. Again and again. Hahaha terdengar lebay, tapi aseli pedih men. Sadar sih ujianNYA emang selalu mendadak dan ga bisa ditebak, tapi ya kenapa mesti telak banget gitu sih, selalu kenanya di hati pula. Emang berarti belom lulus-lulus juga kali ya sayanya. Hahaha.

Continue reading “Bermanfaat”

Secukupnya

Kalo dinilai pake kriteria penilaian mayoritas masyarakat kapitalis modern, maka sepertinya hidup saya setahun terakhir (akhir 2021 – akhir 2022) tergolong tidak produktif. Soalnya, setahu saya, produktif di mata mereka itu artinya punya pekerjaan/pemasukan tetap atau ya apapun yang menghasilkan cuan. Lah saya malah cashflow aja minus (pemasukan ga ada, pengeluaran ada terus ha-ha-ha).

Entah ya, tapi kalo menurut KBBI Daring sih definisinya begini:

pro.duk.tif

  1. bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar):perkebunan itu sangat —
  2. mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dan sebagainya); menguntungkan:tabungan masyarakat dapat dipinjamkan kembali untuk keperluan —
  3. a Ling mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru:prefiks meng- merupakan prefiks yang —

Kalo pake definisi menghasilkan, ya saya masih bisa menghasilkan buah pikir berupa beberapa tulisan di blog ini dalam periode waktu tersebut, berarti saya masih masuk kriteria produktif dong ya. Hahaha.

Kalo ada yang ga sependapat, ya gapapa. Penilaian kan tergantung siapa yang menilai dan pake kriteria apa. Saya pake kriteria sesuai definisi KBBI, bukan kriteria mayoritas apalagi kriteria netizen. Kalo ga sepakat yowes ga perlu dinilai lah ya, mari sepakat untuk tidak sepakat. (Heran, masih banyak aja orang yang lebih milih sepakat untuk bersengketa daripada sepakat untuk tidak sepakat.)

Terus intro yang panjang dan mulai ngelantur ini ke mana sih arahnya?

Continue reading “Secukupnya”

Living Through (Written) Words

Having been keeping my distance from everyone for the most part of this year, I have to admit, there are times when it feels very… lonely. I enjoy solitude, I do. I very much prefer to spend my time alone rather than having to deal with the mess and the drama of relating with people. But being human, I guess it’s just by nature that a part of me longs for some sort of connection with people.

Maybe that’s why I write. Maybe that’s why I’m still writing -particularly here. Maybe I’m secretly hoping that my words are still being read, my voice is still being heard. Maybe it’s the only way for me to leave a mark. To leave a trace on this earth. To prove that I was ever here, and as of this day, I still am. For whatever good it may bring.

Lately, having been depriving myself from the use of social media (I have deactivated most of my social media accounts for a while), I was wondering whether I should still have some sort of online presence, at least to channel my thoughts, or let my voice to be heard somehow.

Then I came back to this blog… but I hesitated to write. There were words all around in my head, but I just couldn’t let it out.

Continue reading “Living Through (Written) Words”