Lebar..an?

Pertama-tama, gw mau ngucapin:

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Taqabbal ya kariim.

Selamat Hari Raya Idl Fitri 1432 H.

Mohon maaf atas semua perkataan, tulisan, candaan, dan lain sebagainya yang salah-salah.. Semoga semua ibadah kita mendapat Berkah dan Rahmat Allah SWT, dan semoga kita diberi kesempatan untuk meningkatkannya jadi lebih baik lagi di Ramadhan berikutnya.. amiin.

Now.. let’s get down to business.

Eh? Maksudnya?

Yaah..tau sendiri lah biasanya gw ga nulis di sini kalo bukan karena ada yang lagi kepikiran. (Yang namanya nulis kan perlu mikir juga, ya gak? Haha) So if you’re reading this, then you’re one of a few lucky people.. hahaha.

Di umur yang udah kepala dua ini, gw makin yakin bahwa istilah lebaran itu berasal dari kata lebar-an, as in, ‘tambah lebar’. Emang sih, pembuka kalimatnya ga nyambung sama inti kalimatnya, nyambungnya sama kalimat setelah ini, yang mana kalimat ini sebenernya ga ada penting-pentingnya buat ditulis tapi tetep gw tulis juga. (Eh capek deh..) Ternyata tidak bisa disangkal, makin ‘dewasa’, cewek pasti makin memperhatikan penampilan…termasuk gw, tanpa pengecualian. Gw yang dari dulu cuek bebek soal penampilan, di umur yang akhirnya mencapai kepala dua ini, ternyata otomatis jadi lebih peka soal penampilan. Tentunya ga terlepas dari hal yang paling sensitif dan tabu untuk para cewek: berat badan.

Yeap, sebagai cewek, gw pun turut memperhatikan hal sensitif satu ini. Hahaha. Kayaknya kok makin umur bertambah, berat badan juga bertambah ya? Huahaha. Entah pertambahannya berbanding lurus dengan bertambahnya tinggi badan apa nggak. (Kayaknya sih nggak -_-) Eniwei, demi hal sakral tersebut, akhirnya belakangan ini gw jadi pilih-pilih makanan. Bukan, bukan pilih-pilih makanan yang disuka doang kayak jaman masih bocah, tapi justru milih-milih makanan yang lebih bernutrisi, berserat, bervitamin, dsb. Berusaha membatasi makanan-makanan yang bisa berkontribusi dalam penambahan berat badan maupun lingkar perut. Hahaha.

Pas momen lebaran gini, jadi kepikiran juga. Apalagi karena dua bulan sebelumnya gw makan seadanya aja. Makanan-makanan lebaran itu semuanya ga sehat ya.. Semuanya nyumbang kalori, lemak, kolesterol, dsb dsb. Yah bayangin aja hidangan lebaran; opor, lodeh, semur, rendang, gulai, sambel ati, belum lagi hidangan sampingan kue-kue kering, kue cokelat, pudding, minuman bersoda, minuman berbagai rasa… walaaaah gimana ga gendut kalo begini makanannya? Pantesan cuma di Indonesia hari raya Idl Fitri ada nama lainnya; lebaran, karena tradisi menyajikan makanan kayak gini nih, bikin lebar-an! #kesimpulansotoy #semuaorangjugaudahtaukali

On a totally different matter but still related to the topic.. Gw kok kayaknya kurang dapet feel-nya lebaran kali ini ya. Apa karena lebarannya beda hari? (Ah biasanya juga beda hari mulu ama pemerintah) Atau karena emang Ramadhan kali ini gw kurang berhasil? Belum menang? Belum ada peningkatan kualitas ibadah maupun kualitas diri? Atau karena kali ini Ramadhan gw ga di rumah? (Alah, ini sih alesan!) Apa karena selama Ramadhan ini gw terlalu distracted? Apa gwnya aja yang ga fokus, kurang khusyuk, kurang merenung, kurang berpikir? Astaghfirullah.

Berikan, berikan aku kesempatan lagi ya Allah, pertemukanlah aku kembali dengan bulan Ramadhan ya Allah, biar kubuat lebih baik lagi dari ini….

Anyway, karena ga dapet feel-nya, gw pun berpikir. Kalo orang lain gimana ya? Apa yang mereka rasain di momen lebaran kayak gini?

Ya, gw emang sengaja ga pake kata Idl Fitri, karena, entah kenapa, yang kali ini, atau mungkin juga di tahun-tahun terakhir ini, yang terpikir sama gw justru momen lebaran. Bukan Idl Fitri. Kenapa? Karena kayaknya kok dari tahun ke tahun, lebaran ya gitu-gitu aja. Jadinya cuma kayak formalitas, jadi rutinitas yang diulang-ulang tiap tahunnya.

Mungkin ga cuma gw yang nyadar sama hal ini. Pasti ada orang-orang yang udah lebih dulu nyadar daripada gw, kalo rasanya lebaran di negeri ini cuma jadi rutinitas yang diulang-ulang tiap tahun.

Acaranya ya begitu-begitu aja. Dimulai dengan shalat Ied di pagi hari, pastinya, dilanjutin dengan sungkeman sama orang tua dan keluarga sendiri di rumah. Sampe sini, gw masih nganggep inilah inti dari Idl Fitri. This is all it means. Pulang ke rumah, kumpul bareng ayah-ibu-kakak-adik, saling bermaaf-maafan. Abis itu makan bareng keluarga besar; eyang-om-tante-sepupu.. makan-makan, sungkeman dan maaf-maafan. Ok, even though we don’t communicate in daily basis, but we still interact with each other frequently. Dan akhirnya lanjut ke acara dengan keluarga yang lebih besar lagi. Keluarga super (?) besar. Saudara-saudaranya eyang, lengkap dengan anak-anak beliau, cucu sampe cicitnya. Pretty much the same activity, but with the people you barely communicate, even people you barely know! Jujur, sampe sekarang gw ga hafal silsilah keluarga super besar ini. Bahkan banyak banget om-tante jauh dan sepupu-sepupu jauh yang gw ga tau namanya, padahal tiap lebaran ya ketemu juga. Kalo ketemu di acara begini paling cuma salam-salaman dan bilang “Maaf lahir batin ya..” But then again, what are we apologizing for? We barely even know each other.

Memang, seharusnya lebaran jadi momen silaturahmi, tapi..well let’s just face it, yang terjadi malah jadi basa-basi, formalitas, rutinitas tahunan belaka. Isn’t it?

Lebaran juga seharusnya jadi momen untuk saling bermaafan; minta maaf dan memaafkan. But let’s be honest, how many of them actually mean it? Berapa orang yang bener-bener minta maaf, ga cuma sekedar “Maaf lahir batin ya..” atau “Maafin semua salah gw ya..” atau “Maaf ya kalau gw ada salah perkataan atau perbuatan..”

Kayaknya momen lebaran justru bikin orang males mengakui kesalahan. Bikin orang males minta maaf beneran. Bikin orang males merenungi kesalahan, yang ada malah bikin orang minta maaf borongan. I mean, let’s just get real. Which mistake are you apologizing for? Who are you apologizing to?

Berapa banyak lo dapet sms minta maaf dari orang-orang yang ngobrol sama lo cuma sekali-sekali, kalo lagi ada perlunya doang? Berapa banyak lo dapet sms dari orang yang sering ketemu (papasan) sama lo tapi hampir ga pernah ngobrol? Berapa banyak lo dapet sms dari orang yang dalam setahun pun lo ga pernah ketemu? Atau bahkan dari orang yang bahkan hampir ga pernah berinteraksi sama lo sama sekali dalam setahun?

Then honestly, what are you apologizing for?

Bukan maksud gw ga usah minta maaf.. tapi gw cuma ga suka aja kalo momen ini malah dimanfaatin jadi momen minta maaf basa-basi doang. Tiba-tiba minta maaf ke semua orang. Kalo emang salah, ya minta maaf langsung aja, kan ga mesti minta maaf pas lebaran.

Apalagi zaman sekarang, where life is no longer private. Ada teknologi SMS, Facebook, Twitter, greeting cards, dsb..yang somehow menghilangkan esensi ‘pribadi’. Orang jadi males berinteraksi (dalam hal ini minta maaf) secara pribadi satu-persatu, karena ada status FB atau Twitter yang bisa nyampein satu maksud ke semua orang. Atau fitur SMS yang bisa ngirim sms yang sama ke beberapa nomor sekaligus. Yah, teknologi emang bikin segalanya jadi mudah, tapi tentunya itu pun datang dengan pengorbanan: manusia jadi malas, dan akhirnya menghilangkan esensi ‘pribadi’.

Coba inget masa-masa dulu, di mana teknologi ga secanggih sekarang. Di mana kapasitas kontak di hape ga sebanyak sekarang. How many people you actually send apologetic messages on Idl Fitri?

Orang-orang yang seharusnya kita mintai maaf pas lebaran itu ya orang-orang terdekat kita. Orang-orang yang terbanyak interaksinya dengan kita. Orang tua, kakak, adik, sahabat, temen se-gank (halah)…bahkan pembantu rumah tangga sekalipun. The people we communicate with on daily basis. Sama merekalah yang paling mungkin kita berbuat salah, karena hampir setiap hari kita berinteraksi sama mereka. Di antara sekian banyak interaksi kita dengan mereka itulah pasti banyak kesalahan di sana-sini. They’re the ones who deserve our apology  whom we must apologize to.

And I know whom I must apologize to right now. And I don’t even need a lot of words to say it. I just want you to know I really mean it.

You, yeah you, out there..you know yourself. I’m sorry we haven’t spoken for months. I’m sorry. Just… Sorry. For everything.

I do miss you.

Advertisements

Please do leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s