Tragedi Apa yang Kausebut Persahabatan Sejati…

Coba kau ulang namanya, orang-orang yang kausebut teman tuk jiwa. Lalu, telusuri sejarah pertama kali kau jumpa. Rekam jejak perjalanan. Hingga akhirnya kau membuatkan satu ruang dalam hati. Khusus untuk mereka. Menyebutnya sebagai sahabat. Saudara. Mungkin lebihi ikatan darah semacamnya.

Kini, ajukan satu pertanyaan untuk dirimu. Tak perlu verbal, jawab saja setulus agar tak ambigu. Untuk alasan apa, sebenarnya, nama-nama itu demikian istimewa? Demikian berarti di relung qolbu?

Tentu, semua orang punya alasan. Dan, memang itu yang kita tengah perbincangkan. Tentang alasan yang dipakai untuk menggodok keputusan. Sebab, perkara yang dibahas bukan sembarang.

Tidak tahukah dirimu Islam amat menggarisbawahi persahabatan? Jika di luar sana, ada bagian manusia menjunjung tingginya, dalam dien ini, kata itu jauh lebih bermakna. Sehingga, walau diksinya sama, tidak sama cara memprosesnya.

Sehingga, perhatikan… kembali ke pertanyaan. Untuk apa kau menyebut seseorang sebagai teman?

Oh, karena dia pandai membuat lawakan. Pagi dan petang terasa senang. Siang dan malam menjadi riang.

Atau, karena asyik diajak jalan-jalan. Mungkin karena orangnya pintar. Atau dia mendukung apa pun yang kau lakukan. Tak pelit dan perhatian. Mengerti kala kau susah dan himpitan. Punya hobi yang tak lain tak bukan. Tak kaku dan cair dalam pergaulan. Dan ini, dan ini. Juga itu, juga itu. Kadang, sulit juga mengungkapkan. Karena alasan yang paling absurd pun bisa jadi alasan terdepan. Cocok. Ya, tiga huruf, dua pengulangan. Entah di bagian mananya. Yang penting, cocok saja. Nyaman di dekatnya. Semangat kalau dia ada.

Anggap saja sekarang: semua itu adalah bahan-bahan. Nah, kita mau masak apa? Sahabat sejati. Itu nama hidangannya. Kemudian, poin-poin itu dicemplungkan dalam wajan pemikiran. Taburi juga bumbu-bumbu harapan. Dan, aduk-aduk. WALAH! Jadilah sajiannya. Kau cium aroma. Rasai cita. Ya, ya, inilah persahabatan. Dia sahabatku. Dia temanku. Dan itu yang tetap kauyakini tanpa zarrah prasangka.

Ini persepsi, Kawan. Begitulah cara kita “menemukan” apa itu teman. Kita menggunakan sudut pandang. Bahan-bahannya? Dalam diri kita. Pola pikir kita. Seperti apa kita dididik oleh keluarga dan lingkungan, itu yang kita jadikan pegangan untuk membentuk makna kawan. Jadilah, kita mencari-cari mereka, nama-nama yang sesuai dengan apa yang kita pikir “bahan” persahabatan. Bila ketemu, tak pelak lagi. Tak ayal, tak perlu pikir panjang. Dialah, merekalah, yang disebut teman. Kita kan bersamanya. Mencinta dan setia. Melakukan banyak, berbagi apa yang layak.

Mereka, yang kausebut teman hari ini, adalah orang-orang yang sesuai dengan apa yang kaupahami. Tak akan pernah jauh-jauh dari itu. Sama hal yang terjadi bila persahabatanmu bermasalah. Tak jauh-jauh pula cara kau menyikapinya. Tergantung dari bagaimana kau memaknainya. Makin dalam artinya, makin bijak kau menyelesaikan. Makin kuat pondasinya, makin teguh bangunan. Makin teliti, makin hati-hati dalam melabeli orang. Makin berani memilah: mana teman, mana bukan.

Tapi, percayakah dirimu, bahwa apa yang kaupikir dan kaupahami tentang sahabat telah paripurna dan membantu? Sudikah menengok sisi lain, yang mungkin luput dari perhatianmu?

Kuceritakan, nasib akhir persahabatan. Yang tercantum dalam Al-Quran.

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain…” (Q.s. Az-Zukhruf [43]: 67)

 Kini, list kembali orang-orang yang akrab denganmu. Dan, pandangi daftar itu dengan sedikit tambahan dari ayat Tuhanmu: kelak, di hari pembalasan, mungkin saja dia memusuhimu.

 Mungkin saja, setelah membaca, ini pikirmu:

 Ah, apakah benar?

 Bagaimana bisa?

Kami cocok luar biasa. Kami saling dukung dalam apa pun. Kami saling bantu, tertawa ceria. Tak mungkin rasanya kami kan bertengkar di hari kami bertemu kembali. Setelah mati memisahkan, harusnya rindu tak terbilang. Namun, kenapa malah bertengkar?

Dan, kenapa harus di hari yang menyulitkan?

Satu hal yang tidak bisa kauubah tentang arti hidup. Ini semua adalah adalah medan ujian. Tentang siapa yang paling dekat dengan Tuhan. Paling ikhlas. Yang paling baik amalnya. Jadi, persahabatan, dalam hal ini, bukan yang pertama. Bukan inti panggung besar ini dibuatNya. Ia, analoginya, hanyalah segores cat dalam lukisan, yang dibingkai pigura yang besar. Menganggapnya sebagai seluruh segala, jadi awal kau terkecoh dan kerdil memandang perkara.

Jadi, jangan bingung bila sahabat berubah musuh di yaumil ba’ats. Kebangkitan nanti mengubah semua standar. Tiba-tiba kita sadar apa yang harusnya jadi ukuran. Dan ukuran itu bukan dilihat dari pandangan pribadi. Sebab bukan kita yang mencipta alam. Mencipta hidup. Mencipta pengadilan. Bukan kita yang menetapkan apa yang benar, apa yang salah.

Tiba-tiba, kau sadar, Allah adalah Raja yang Paling Berkuasa….

Sehingga, semua makna dan dampak persahabatan, lagi-lagi kembali padaNya. Jika kau punya sahabat, tapi karena persahabatan itu kau jauh dariNya, apa yang menghalangi Allah untuk tidak membencinya? Bila karena persahabatanmu, kau rela melakukan hal-hal di luar koridor agama, apa alasan Allah untuk meridhainya?

Jadilah: keakraban, di detik itu, jadi sesuatu yang kaubenci. Karena gara-garanya, teman-teman akrabmu itu, Allah memandangmu dengan murka. Karena, di dunia, atas nama persahabatan, kau tergerak untuk melakukan hal-hal tercela. Atas nama solidaritas. Atas nama perkumpulan. Ikatan yang musnah dan debu di depan timbangan.

Itulah mungkin alasan Rasulullah mewanti-wantimu. Pilihlah teman sesuai petunjuk Rabb-mu. Jadikan Islam, dien yang telah diakui Allah sebagai satu-satunya jalan. Rambu. Parameter. Penyelamat. Bagi yang beriman. Agar kau tahu, teman-teman yang menasihatimu agar tetap di jalanNya, adalah mereka yang sesungguhnya teman sejati. Mencegahmu dari yang jahat. Menolongmu untuk berbakti. Mereka menyukai amalmu bila kau beramal salih. Mereka membenci perbuatanmu bila kau berbuat zalim.

Karena ukurannya Allah. Selalu Allah. Tidak ada yang lain. Merekalah yang disebut Az-Zukhruf di sisa lanjutan ayat yang tersisa.

“… kecuali orang-orang yang bertakwa.”

Kita ini berteman bukan untuk tujuan-tujuan pendek. Kepentingan-kepentingan dunia. Hingga menggadaikan nilai-nilai sempurna. Masih ada waktu: untuk merombak ulang arti sahabat dalam jiwa. Karena, jika kau setuju, sahabat sejati itu tidak hanya sampai di sini. Di dunia fana dan sebentar ini. Sahabat sejati adalah yang tetap kaujumpai di hari akhir nanti. Kalian bertemu bukan untuk saling caci. Tapi untuk berbahagia di dalam surga nanti. Sebab kalian menjalin persahabatan dalam ketaatan. Bersahabat untuk saling ingat dan manfaat. Saling bantu agar ia tak jatuh dalam maksiat. Agar kita bisa sama-sama di akhirat. Tak mengapa berpisah, jika harus jumpa di hadapanNya. Di dalam surga. Dan, untuk masuk sana, tidaklah kan dicapai oleh persahabatan atas dasar keinginan dan suka-suka. Melainkan atas dasarnya. Dasarnya yang kembali lagi: pada Allah, Ilahi Robbi.

Terakhir, sampailah kukatakan:

Percuma punya banyak kawan

Jika pada akhirnya semuanya menjadi lawan

Ketika di dunia dikelabui persahabatan

Yang berbalik menyerang dan menjatuhkan

Ke dalam kobaran

Bila banyak temanmu hari ini

Wanti-wanti: ke mana mereka mengajakmu selama ini?

Bagaimana kalian berkawan dan berinteraksi?

Apakah kalian saling dukung dalam dosa?

Atau kalian sebenarnya bergabung untuk alasan tak abadi?

Jika kalian bersahabat karena Allah, caranya pasti mengikut kata Allah. Jika kalian bersahabat karena selain Allah, kalian kan berpisah dan bermusuhan juga untuk alasan-alasan selain Allah.

Persahabatan adalah tindakan yang jujur dari hati. Tapi hati juga butuh dibimbing dengan ilmu. Bukan cuma ingin sekehendakmu. Hati bisa kotor. Hati bisa keruh. Dan untuk itu, tulisan ini hadir untukmu. Para kawanku. Yang jika kalian membenciku, bencilah amal jahatku dan nasihatilah aku. Yang bila kalian meridhaiku, bantulah aku agar selalu ingat tujuan hidupku. Berbahagialah untuk hal-hal dalam taat. Bersedihlah untuk hal-hal dalam maksiat. Semoga Allah mencintai persahabatan kita. Yang dijalin dan dijalankan dalam koridorNya. Dalam bakti dan sembah kita.

Allahu a’lam…

Dikutip dari note FB seorang teman
Ditulis oleh Asa Mulchias (http://asamulchias.multiply.com)
Advertisements

Please do leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s