Budaya Menghukum dan Menghakimi dalam Sistem Pendidikan Kita

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

Baca lanjutannya..

Galau: An Overrated, Over-abused Word

Rasanya, lama-lama, kata “galau” makin terlalu sering dipake dan disalahgunakan deh.

Dan terkadang, rasanya berlebihan, dan lama-lama bahkan menyebalkan, saking terlalu sering dikatakan. Kadang sesuatu yang sebenernya nggak galau pun jadi terkesan galau karena ada yang berkomentar sesuatu itu galau!

Apa nggak ada istilah lain selain “galau”? Kan banyak pilihan kata lain yang bisa mendeskripsikan suatu ekspresi, misalnya sedih, sendu, haru, pilu, gundah, masygul, atau apalah itu..

Kan nggak harus “galau”?

Sejak kapan kata sifat dalam Bahasa Indonesia menjadi sebegitu sempitnya?

Saya jengah dengan kata galau.

Ya, karena saya sering dibilang galau. Sebenarnya saya juga nggak ngerti kenapa saya dibilang galau. Saya nggak merasa galau, kok.

Saya menulis. Dalam bentuk apa pun itu; posting di blog, Tumblr, kicauan di Twitter, bahkan sampai komentar di wall Facebook, dan semacamnya.. Itu pun menulis, kan?

Menulis itu mengekspresikan diri. Menyalurkan emosi. Dan perlu diketahui, yang namanya emosi itu nggak cuma negatif. Ada juga emosi positif. Dan ada juga campuran antara keduanya.

Menulis itu cuma salah satu cara untuk menyalurkannya, dan menurut saya, ini satu cara yang positif. Bolehlah menulis, asal tahu tempat dan waktunya. Bolehlah menulis, memanfaatkan media yang ada.

Dan faktanya, banyak karya-karya terbaik, tulisan-tulisan terbaik, merupakan ekspresi dari emosi pembuatnya. Entah itu emosi positif, atau emosi negatif, atau kombinasi antara keduanya.

Tapi, haruskah dikatakan “galau”?

Ketika mungkin sang penulis mencoba mengekspresikan rasa yang lain?

Bagi Anda yang sering mengucapkan kata “galau”, apakah Anda tahu apa sebenarnya arti kata “galau” itu sendiri?

ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau

Itulah definisi “galau” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Lalu apakah ketika seseorang merasa sedih, sendu, pilu, ataupun haru.. lantas bisa dikatakan “galau”?

Ketika sebenarnya rasa itu sederhana, tidak kacau, dan tidak beramai-ramai?

Silakan Anda simpulkan sendiri.

Save Gaza, Save Humanity

My post for today is a tribute to all the people in Gaza. This isn’t about religion. This isn’t about race. This is about humanity. Please do read and let’s do everything we can do to help Gaza.

The picture below shows a Palestinian orphan sleeping beside his mother drawing. The kid misses his mother who became victim of Israel attack on Palestine.

This phenomenon depicts one of humanitarian impacts from Israel attack to Gaza. For decades, Israel has attacked Palestinians, especially those living in Gaza, causing death for thousand people anywhere in Gaza Strip. The exact amout of victims in Gaza is not clear as it keeps increasing. However, much more important than number, the impact of those tragedy for humanity is uncountable. A death of human being due to the attack could mean an abuse against right to life for him and losing everithing for others.

People around the world has condemning this tragedy and put it as humanitarian issue rather than religious affair. Obviously, this is considered as one of the biggest crimes against humanitarian after World War II. However, political leaders who have authority to stop this attack seems not showing any willingness to solve the tragedy. Protests by people around the world have yet to end up to responding polices, in fact the keys for problem solving are laid in their hands.

This petition insist world political leaders, among others, Benjamin Netayahu (Israel Prime Minister), Barrack Obama (President of United States) and Ban Ki Moon (UN Secretary General) on stopping Israel attack to Gaza Street. Those leaders are holding key authority to stop the attack by their policies or actions.

Support this petition for stopping Israel attack to Gaza!

Petition for Gaza: http://bit.ly/savegaza

– – –

Continue reading “Save Gaza, Save Humanity”

Kompas Karier Fair 2012

Oke, telat memang, udah seminggu lewat baru di-post.. Udah keburu abis euforia-nya -___- Tapi berhubung saya udah terlanjur ngumpulin dokumentasi, ya daripada sayang, mending di-post aja lah~

Jadi, tanggal 2-3 November 2012 yang lalu, ada lagi nih acara job fair.. Kali ini yang ngadain Kompas group. Itupun gue ikut secara dadakan, H-1 baru dapet info dari temen gue. Terus gue bela-belain ke Gramed Depok malem-malem abis ujan gitu buat beli tiket early bird nya.. Eh gara-gara itu gue malah kelewatan ngisi formulir online-nya, pas balik dari Depok, nongkrong depan PC berniat ngisi form, eh ga taunya pendaftaran online udah ditutup -__- Yah, setidaknya tiket udah di tangan.. Ngirit 10 rebu lah buat masuk.

Gambar dari sini. Lagi-lagi lupa ngambil foto banner on site.. Udah ga fokus nih, mulai desperate nyari kerja sih hahaha

Karena venue nya deket, gue langsung aja berangkat sendiri, ketemuan sama temen langsung di venue aja. Gue berangkat sekitar jam 8, ternyata masih rame ya busway jam segitu. Nyampe venue, temen-temen gue belom pada dateng, dan ternyata buat yang belum daftar online mesti ngisi-ngisi form dulu.. Yaudah sambil nunggu yang lain gue isi form dulu.. Walaupun ternyata ga perlu juga ngisi form, itu cuma buat panduan aja, toh nantinya mesti ngisi form di komputer.

Nah jadi di KKF ini sistemnya unik. Ga kayak jobfair yang diadain Jobstreet.com, untuk daftar online mesti input user ID (e-mail) sama password buat apply pekerjaan, kalo di KKF ini yang udah terdaftar online bakal dapet nomor kode, yang nantinya mesti diinput untuk apply pekerjaan. Jadi kalo mau daftar kerjaan di booth-booth perusahaan tertentu, tinggal masukin kode itu dan pilih posisi yang diinginkan, terus klik ‘submit’. Udah deh, beres. Asik juga. Simple dan ga lama/lemot, karena mereka pake jaringan intranet, bukan internet.

Lanjutin baca gih..

Dibiarkan Sendiri

Allah mengaruniakan kepada kita,
orang tua yang perhatian,
saudara yang baik,
teman yang hebat.
Sehingga kita merasa nyaman berada di antara mereka.

Namun, pernahkah kita merasakan kesendirian yang teramat sangat?
Bahkan di tempat yang ramai sekalipun?
Saya sering.
Saat kita dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan, terkadang tidak ada siapa – siapa di sana.
Bahkan untuk sekedar teman mendengarkan pun, tidak ada.
Satu persatu, menjauhi. Sibuk dengan urusannya.
Karena jarak, orang tua kita kadang tak mampu berbuat.

Bukan,
Bukan karena mereka tidak lagi peduli.
Lantas mengapa?
Mengapa kita dibiarkan sendiri dengan kesulitan dan kebingungan kita?

Baca lanjutannya..