Kenapa Resign?

Itu pertanyaan yang berulang kali ditanyakan ke gue beberapa bulan terakhir ini, dan sejujurnya gue lama-lama makin males ngejawabnya. Nggak, pertanyaan ini bagi gue nggak lebih mending daripada pertanyaan “Kapan nikah?” (And surprisingly, gue gak se-sering itu dapet pertanyaan kayak gitu, hahaha.)

Sebenernya banyak varian lain dari pertanyaan itu, misalnya, “Sekarang di mana?” (Yang bisa gue jawab setengah bercanda tapi bener: “Di sini! :)”), atau “Pindah ke mana?” (Kalo ini agak lebih susah ngelesnya, paling gue jawab “Gak ke mana-mana kok”, karena emang gak pindah company :D Atau kalo lagi jujur banget, gue bilang aja “Mau sekolah”.. tapi biasanya gue agak males jawab ini karena pasti banyak pertanyaan follow up nya.. yang setengah hati gue jawabnya karena emang belum dapet sekolah maupun beasiswanya, hehe..)

Dan ujung-ujungnya ketika orang tau gue simply resign walaupun belum dapet kampus dan bukan pindah ke company lain juga, pasti pertanyaannya jadi, “Lho terus kenapa resign? Gak sambil kerja aja? Kan sayang blablabla…”

Tentunya gue punya alasan dong. Tapi males gak sih ngejelasin ke tiap orang yang nanya kayak gitu. Akhirnya gue pun berpikir kalo ada lagi yang nanya kayak gitu, kayaknya mending gue respon dengan pertanyaan balik, “Kenapa nggak?” (Khususnya bagi mereka yang bekerja di ex-kantor gue tersebut, hahaha.)

Iya, kenapa nggak? It was my first job after graduating university, and I had been working there for almost 3 years. It seemed like a reasonable amount of time for someone in their early career to move on from a company. Bahkan ga sedikit dari temen-temen seangkatan gue yang udah berkali-kali pindah kerja. (Dengan pertimbangannya masing-masing ya tentunya..) So why should I stay in that company for so long?

Beberapa orang bilang, “Bukannya udah enak di D*none? Udah jadi manager pula.” Atau kalau orang sekantor bahkan lebih terheran-heran lagi, “Emang udah berapa lama? Belum 3 tahun? Kok bentar amat udah keluar, kenapa gak betah?” Errr mereka gak tau aja hari gini udah banyak orang pindah-pindah kerja.. Wajar sih bagi mereka itu hal yang seolah gak lazim, karena orang-orang yang kerja di sana banyak yang udah ‘mengabdi’ sampe puluhan tahun! Hahaha maaf ya tapi gue sih ogah.

Yah, dari sisi kerjaan/alasan eksternal mungkin gue gak perlu ceritain panjang lebar disini. Anyway, D*none isn’t all shiny and amazing as it may look on the outside kok.. Hmm mungkin juga itu hanya sindrom rumput-tetangga-selalu-terlihat-lebih-hijau. But after seeing how this company operates, somehow gue dan beberapa temen se-geng di kantor menemukan sebuah teori “Konspirasi Kemakmuran”..hahaha. Draft postingan yang pernah gue tulis tentang rekrutmen MT gue disitu pun gak jadi gue post in public supaya gue gak merasa berdosa menjerumuskan orang.. Oh well, that’s all I’m gonna say! LOL.

More to the personal reasons, well.. Gue emang ga merasa se-passionate itu dengan kerjaan gue di sana. Emang sih kerjaannya ga nyambung sama educational background gue, tapi dalam setahun kemaren kalopun gue dipindah ke bagian yang lebih nyambung sama background gue pun kayaknya gue ga berminat untuk stay in the company. I’d rather move to another company to enrich my resume, if I were moving to another company.

Yeah, well.. I finally decided that I’d rather try to follow my passion. It’s funny that somehow I realized this in the same year I was promoted as manager, but then again, I’m not sure I would’ve come to that realization if I were not given the promotion back then.

Yaa.. setelah naik jabatan, gue jadi kepikiran tentang masa depan karier gue. Wajar dong, ya kan? Sooner or later, setiap orang terutama manusia kelas pekerja pasti mikir ke arah sana. Dan Alhamdulillah mungkin justru di momen gue naik jabatan dalam waktu singkat itu lah gue jadi berpikir serius tentang karier gue, kalo nggak, yaa mungkin aja gue masih kalem-kalem adem ayem (atau pontang-panting sih, more likely) kerja sebagai kacung korporat tanpa terlalu mikir macem-macem tapi saban hari ada aja keluhannya. Haha.. mungkin aja, who knows?

Anyway, itu juga sih salah satunya yang membuat gue memutuskan untuk resign dengan segera, walaupun yaa kalo dipikir-pikir, selepas gue cabut gue juga belum punya tempat mendarat selanjutnya. Tapi gue merasa di pekerjaan gue itu, gue udah terlalu banyak ngeluhnya daripada syukurnya. Iya sih, banyak hal yang bisa disyukuri dibanding ngeluh mulu. Iya sih, ngeluhnya bisa diubah jadi bersyukur. But I do need to consider my future anyway, don’t I? And honestly, I just didn’t (and still don’t) see my future in that company. And having worked in such company, I realized that I don’t like working in a corporate business. Or not consumer goods business anyway. (Padahal dulunya ngebet banget pengen kerja di consumer goods.)

Karena satu hal yang pasti jadi misi utama corporate business adalah: achieving target – gaining profit. That’s it. It’s just business, man! Ujung-ujungnya duit. Dan ngejar duit itu gak ada abisnya. Ngejar target itu gak ada abisnya. Target tercapai, berikutnya ada target baru yang lebih tinggi. Gitu aja terus sampe kiamat..(atau sampe company bangkrut.) And obviously, kerjaan gue waktu itu di supply chain intinya adalah making sure we achieve the target. That’s why it sort of hit me quicker. “Kerjaan kayak gini gak ada habisnya lho. Lo bakal di-push terus sama bos untuk achieve target. Target tercapai, tahun depan target naik. Tercapai lagi, dinaikin lagi. Gitu aja terus. Mau sampe kapan?”

Meanwhile, gue merasa apa yang gue kerjakan gak memberikan real impact other than to the business. Yah, oke, AQ*A punya banyak program CSR, atau produknya membantu/ mempermudah orang dapet air minum berkualitas, dll dsb. But hheh, in the business unit I was in, which is the 2nd brand, we didn’t seem to do such noble stuffs. Indeed, the business model was efficient and low-cost, but it was a rather “cruel” business. And now that I think about it, ehh..I’m not so proud of it.

Yah, intinya, gue merasa ada pekerjaan lain yang lebih ada value-nya, di mana gue rasa gue bisa lebih bermanfaat dan memberikan direct impact buat orang lain. Dan gue pun teringat bahwa gue punya cita-cita besar: “Gue pengen mengubah Indonesia melalui pendidikan.”

So I decided that this may be the time to actually do something about it.

And my decision to leave my corporate job is me being dead serious about doing it. Well, I realize that I am completely inexperienced in that field, and still rather clueless as of how exactly I will be doing that.. but hey, we all have to start somewhere, don’t we? As to what I have done and will be doing in this near future.. well, I’m not going to spoil it just yet. I do have made some steps into that direction, more like baby steps :) but well, everyone crawls before they can run, right?

Suddenly I remember that quote from Mr. Neil Armstrong:

“One small step for [a] man, one giant leap for mankind.”

Hey, this could be that giant leap for Indonesia’s future.. who knows? :)

Bismillah..

Advertisements

8 thoughts on “Kenapa Resign?

  1. Gue pengen mengubah Indonesia melalui pendidikan.<< aha!!! ayo ikutan jadi guru ;)

  2. welcome to the club !!!

  3. Good luck dhil..

  4. […] sort of write my dream in my previous post, though. But here I go […]

Please do leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s