Ultimate You

Bukan, ini gue bukan mau mengulas bukunya Rene Suhardono. Tapi in syaa Allah intinya serupa. Sebelum itu, coba dengerin dulu lagu di bawah ini sambil liat mbake Lindsay Lohan main gitar solo (entah beneran apa ala-ala).

 

You’re the kind of friend who always bends when I’m broken
Like remember when
You took my heart and put it back together again?

I’ve been wasting time with clueless guys
But now it’s over
Let me tell you why I’m through
I’ve met someone new who’s just like you

You’re it, you’re the ultimate
It’s automatic, I’m sure of it
No lie
So don’t even try to tell me that you’re not the guy
‘Cause I’ve been waiting all my life
For someone just like you
But you’re it, you’re the ultimate you

You’re the kind of guy whose hands and mind
Send shivers up and down my spine
I want to do to you what you do to me

You’re the kind of guy that blows my mind
But now it’s my turn
You’ve been right in front of me
Everything I need, why didn’t I see?

You’re it, you’re the ultimate
It’s automatic, I’m sure of it
No lie
So don’t even try to tell me that you’re not the guy
‘Cause I’ve been waiting all my life
For someone just like you
But you’re it, you’re the ultimate you

Lindsay Lohan – Ultimate

Gue terinspirasi tentang ini ketika gue berada di sebuah kelas yang ditugaskan untuk menulis sebuah puisi.

Besoknya, setiap orang membacakan puisi mereka masing-masing dalam kelompok kecil. Awalnya gue ngerasa, “Ih kok puisi dia kayak lebih bagus ya”, atau “Ih puisi gue kayaknya lebih puitis deh”, dan lain-lain. Tapi kemudian gue sadar, ternyata semua orang itu berbeda. Setiap orang itu unik. Pun gue memiliki keunikan tersendiri.

Ada orang yang merasa perlu meningkatkan kemampuan dirinya. Ada orang yang perlu meningkatkan percaya dirinya. Ada orang yang perlu memperbaiki hubungan dengan orang lain. Ada orang yang tidak biasa berhubungan dengan orang lain.

Mereka semua menulis, membuat puisi, berdasarkan pengalaman dan sudut pandang mereka masing-masing. Gue pun begitu.

Disitu gue menyadari, ternyata masing-masing orang inspirasinya bisa beda-beda banget. Ternyata masing-masing orang emang fokusnya beda-beda, prioritasnya beda-beda, kepentingannya beda-beda. Pengalamannya beda-beda. Sehingga, gak pantes gue membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Disitu gue menyadari, gue nggak perlu membanding-bandingkan dengan orang lain. Entah apakah gue merasa lebih baik dari orang lain. Ataupun merasa minder dan lebih rendah ataupun gak semampu orang lain.

Gue gak bisa ngatur-ngatur orang lain. Gue hanya bisa mengatur diri gue sendiri.

Gue hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik dari diri gue sendiri.

The ultimate me.

Seperti motto (atau doa?) nya Loretta Claiborne dan Special Olympics:

“Let me win. But if I cannot win, let me be brave in my attempt.”

Yes. Your attempt counts. Your effort matters. Your process is important. It is almost never about the result. It is mostly about the process. About your willingness. It’s about how hard you would try.

And no matter what, you only have yourself to live with.

So be the best version of yourself.

Be the ultimate you.

IMG-20160320-WA0020

Jakarta, 23 Maret 2016. ©nadhilaaz

Advertisements

Please do leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s