Layanan Transportasi, Aksi Anarkis, dan Promo Gratis

Oke, postingan ini mungkin telat seminggu, tapi berhubung udah terlanjur ditulis, yaudah deh dilanjutin dan dipublish ajah.

Sejujurnya, gue gak terlalu merhatiin aksi anarkis seperti apa yang dilakukan (oknum-oknum) supir taksi tempo hari. Gue cuma sempet dapet beberapa foto dan video aksi-aksi tersebut yang gak semuanya gue liat satu-satu. Gue rasa ga perlu lah gue liat aksi anarkisnya kayak apa, yang pasti itu tindakan yang merusak, ga efektif, ga positif, bikin mood jelek aja kayaknya. Energi gue kemarin lagi positif, dan ternyata energi positif bisa bikin lo ga pengen merhatiin hal-hal bernada negatif. True story, bro.

Anyway, cukup tau lah apa yang dilakukan sama supir-supir taksi atau oknum-oknum tertentu ketika demo tempo hari. Follow up nya, hari berikutnya (Rabu, 23 Maret 2016) salah satu perusahaan penyedia jasa transportasi itu ngasih promo yang kedengerannya fantastis: GRATIS BIAYA ANTAR SEHARIAN!

Dan respon orang pun bermacam-macam. Gak usahlah sibuk liatin orang debat dan berkomentar di channel berita, di timeline media sosial pun bertebaran berbagai komentar, dari yang mendukung, yang skeptis, yang kritis, yang makan petis.. ah apalah. Segala macem komentar pokoknya.

Saya cuma mau menyampaikan simpulan saya dari sudut pandang seseorang yang mencoba memanfaatkan promo tersebut. Jarang-jarang lho ada momen gratisan kayak gitu, walaupun awalnya sangsi, tapi apa salahnya untuk dicoba.. :)

Jadi kebetulan di hari Rabu itu gue ada jadwal ngajar di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang mana lokasinya cukup jauh dari domisili gue di Jakarta Selatan. Gue biasanya kesana naik motor karena tempatnya agak sulit akses angkutan umum dan itu capeknya amat sangat, maka hari itu pun gue memilih untuk memanfaatkan promo taksi gratis tersebut.

And you know what, yang namanya dapetin itu taksi aja susahnya minta ampun.

Pertama-tama, gue coba booking dulu pake aplikasi. Gue udah membuat praduga bakal susah banget dapet taksi via aplikasi di hari promo gratis ini, tapi jangankan nunggu order, bahkan berusaha connect ke aplikasinya pun sulit banget bro! Gue ga sekalipun berhasil masuk, selalu error dan timeout servernya. Parahhhh. Emang sih hari biasa pun aplikasi perusahaan taksi satu itu juga susah aksesnya, apalagi waktu ada promo gratis begini. Beuhhh.

Oke, akhirnya gue sambil jalan kaki ke pinggir jalan besar buat nyetopin taksi. Hasilnya? Nihil! Sebagian besar taksi yang gue setopin udah berpenumpang, dan yang keliatannya kosong ternyata gak berhenti juga, entah apa supirnya gak liat apa pura-pura gak liat. Asumsi gue, mungkin beberapa supir males narik karena adanya promo gratis, karena ngerasa ga dapet duit. (Tapi terus kalo ga ngangkut penumpang sama sekali, kapan dapet duitnya juga dong?)

Aaargh. Setelah lebih dari 5 taksi lewat gak satupun berhasil disetop, gue pun mulai bete.

Sementara itu gue sambil nyoba lagi booking pake aplikasi dengan pesimis, secara setiap detik mesti di-refresh saking ga bisa-bisa nyambung ke servernya.

Terus gue coba order by phone. Nihil juga! Gak bisa nyambung sama sekali.

Parah. Gue pun menyimpulkan, perusahaan-perusahaan taksi ini emang belum siap bersaing di era digital. Jangankan ngomongin aplikasi (yang mana kacrut bener), customer service aja segitu susahnya diakses. Baru juga sekali promo. Duhh. Layanannya kayak gini kok sibuk minta jasa transportasi lain ditutup. Mending perbaiki dulu tuh, sistem layanan perusahaanmu.

Oke, disclaimer dulu, gue bukannya ngebelain Uber, Grab, atau apapun itu ya. Bukan berarti layanan taksi online ini gak salah, malah udah banyak kayaknya yang nge-list segala “pelanggaran” taksi online. Ini gue cuma pengen menulis kesa-kesan pengalaman konsumen. Haha.

Anyway, akhirnya gue pun berhasil nyetopin taksi di jalan, walaupun semacam pake drama dulu sebelum itu taksi berhenti, hahaha. Maksudnya gue udah heboh nyetopin itu taksi, tapi dia kayak gak ada tanda-tanda mau berhenti pas gue setopin. Setelah gue pasang muka dan gesture bete karena ga berhasil nyetop taksi, doi baru berhenti beberapa meter setelahnya, hahaha.

Terus jadi ngobrol sepanjang perjalanan deh sama si supir taksi. Setelah denger cerita dari si pak supir (oh ya dia bukan termasuk supir taksi yang ikut demo), gue jadi mikir, kayaknya harusnya yang didemo tuh perusahaan taksinya deh, bukan pemerintah. Oke, pemerintah juga mungkin memang harus melakukan sesuatu, tapi bukannya kebanyakan justru kebijakan perusahaan yang berpengaruh langsung sama karyawannya ya?

Maksud gue, salah satu alasan mereka pada ribut kemaren itu kan karena banyak konsumen beralih ke taksi online daripada taksi reguler (dengan beragam alasan), sehingga mereka kehilangan konsumen, dan pemasukan pun berkurang. (Konyolnya, aksi demo anarkis oleh supir taksi yang bahkan gak ada larangan atau himbauan sama sekali oleh perusahaan untuk mencegah demo tersebut, justru tampaknya bikin calon konsumen semakin menjauh.) Oke, mungkin salah satu penyebab konsumen beralih adalah karena tarif taksi online yang lebih murah, karena katanya taksi online ga bayar pajak, sedangkan taksi reguler banyak peraturannya, banyak ini-itu makanya tarifnya tinggi, dll dsb.. Okelah memang ada tarif dasar yang ditetapkan pemerintah. Tapi gue rasa kalo manajemen sedikit lebih kreatif, kayaknya soal tarif gak selalu jadi harga mati yang bikin konsumen beralih, deh. Ada kan, produk-produk yang harganya relatif lebih tinggi, tapi tetap lebih dinikmati masyarakat. Biasanya karena ada harga, ada kualitas. Bukankah itu tugas manajemen perusahaan? Gimana nyari strategi bisnis untuk menarik konsumen dan mendapatkan keuntungan?

Nah, kembali lagi ke manajemen perusahaan taksi reguler itu, gimana caranya mereka menarik kembali perhatian konsumen. Bisa jadi dengan promo (seperti yang dilakukan BB kemarin itu), atau untuk jangka panjang, tentunya dengan peningkatan kualitas. Kasian sih, mostly karena kurang efektifnya manajemen, yang paling dirugikan justru yang di posisi paling ujung/bawah, ya para supir-supir taksi ini.

Dari kasus ini, gue pun belajar. Ternyata, memang jauh lebih mudah untuk menjadi korban dan menyalahkan atau mencari-cari kesalahan pihak lain, daripada berkaca pada kekurangan diri sendiri. Dan biasanya sih orang yang memposisikan diri sebagai korban, cenderung susah untuk maju. Kalah saing deh sama yang lain.

Jadi, mau pilih mana, terus menjadi korban dan menyerah pada keadaan, atau bergerak untuk mencari solusi lain yang lebih memuaskan? :)

Btw, bagi gue sih tetep.. KRL for the win! Hahaha

Featured image dari Mises Institute.
Advertisements

Please do leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s