Skenario Terindah

Sejujurnya gue telah memutuskan untuk berusaha menghindari menulis dengan bahasa campur-campur, tapi gue lagi terlalu capek dan males mikir untuk nulis dalam bahasa Inggris, sedangkan dalam beberapa hal gue merasa perlu mengekspresikannya dalam bahasa Inggris karena kalo pake Bahasa Indonesia tuh kadang jatohnya “rasa” yang dihasilkan berbeda.

So, I hope you don’t mind if I mix in some English sentences once in a while.
If you mind.. ya gak usah baca aja kaleee. :D

Oh dan satu hal lagi, mengingat gue itu kalo cerita suka heboh dan detail banget, ini posting sepertinya bakal cukup panjang. Cuma mau ngasihtau aja sih, daripada sampeyan misuh-misuh karena ceritanya kepanjangan, kalo emang gak terlalu suka baca tulisan panjang, ya gak usah dilanjutin aja bacanya. Hehehe.

Jadi begini..

Sampe sekarang gue masih sering gagal paham sama cara kerja skenarionya Allah. Bener-bener deh, rencana-Nya itu super ajaib. Seringkali sama sekali gak kita prediksi. Kok ya tau-tau aja bisa begitu, di luar kebiasaan, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah kejadian dalam 24 jam yang lalu dari hidup gue.

I don’t know if anyone noticed that in the last few months I’ve been in (another) lowest point in my life. Gue.. semacam depresi. Walaupun gue belum pernah secara resmi mendapat diagnosa, tapi gue cukup yakin kayaknya gue bipolar. Entah tipe berapa, atau mungkin cuma spektrum aja. Bukan bermaksud self-diagnose, tapi dengan gue sadar bahwa gue mungkin ada kecenderungan ke arah sana, seenggaknya gue bisa memulai untuk menerima diri gue sendiri, apapun keadaannya.

Oke, fokus ke kejadian 24 jam tadi dulu deh.

Singkat cerita, semalem gue ga bisa tidur sama sekali sampe pagi. Asli. Abis subuh pun ga bisa tidur. Kalo bener gue bipolar, mungkin saat ini gue lagi bergeser ke fase manik, di mana energi gue mulai naik dan gak abis-abis. Ide-ide bermunculan gitu aja, otak gak bisa berhenti mikir, jadi gak bisa tidur. Makanya mumpung energinya lagi ada, dan gue kepikiran banyak hal, gue akhirnya tulis aja apa yang kepikiran itu di jurnal. Baru abis matahari terbit, kayaknya udah hampir jam 7an, gue baru mulai ngerasa capek dan berusaha untuk tidur. Alhasil gue baru bangun menjelang Zuhur.

Gue pun gak tau gimana ceritanya, apa pemicunya yang bikin gue mulai produktif lagi setelah berminggu-minggu depresi, ansos, menghilang dari peredaran. Tau-tau aja naik lagi gitu energinya. Tau-tau jadi “sadar” lagi aja gitu.

Mungkin ada beberapa hal sederhana yang terjadi yang menginspirasi gue, tapi itu pun munculnya gak pada saat kejadian itu. Pun ketika gue udah dapet inspirasi beberapa waktu yang lalu, gue kayaknya belum punya energi yang cukup untuk melakukan sesuatu terhadap ide itu.

Tapi entah bagaimana, tadi malem gue mulai tergerak untuk ngelakuin sesuatu. Gue mulai edit-edit halaman sosmed buat rombakan personal project gue. Gue bikin-bikin desain konten. Yah, baby steps lah buat mulai ngerjain project ini. Mumpung gue lagi waras. Lagi punya semangat, lagi sadar tujuan, dan lagi punya energinya.

Sampe akhirnya gue mengakhiri “puasa Instagram” buat ngerombak akun project gue ini. Iya, gue deactivate akun Instagram plus uninstall, demi menjaga kewarasan. IG tuh cuma bikin depresi makin akut. Untungnya sosmed lain gak terlalu rame dan efek psikologisnya tuh beda sama IG, jadi gue masih kadang buka FB, dan seringnya Twitter walaupun sebenernya tetep rada toksik juga, tapi lebih ringan lah. Nah, ini pun gue balik ke Instagram cuma buat menghidupkan lagi project gue.

Oke, jadi kejadiannya, tadi pagi gue install app Instagram lagi.

Tadi siang menjelang ashar, gue bikin desain konten buat Instagram dan gue post. Sekalian ngerapiin postingan buat konten-konten baru nantinya.

Tak dapat dihindari, gue pun ngeliat postingan dan InstaStory beberapa teman.

Lalu gue menemukan Story seorang life mentor panutanqu, isinya ngiklanin acara talkshow di mana dia jadi narasumber ngobrolin bahasan seputar hijrah diri, keluarga dan finansial.

Wow. Menarique.

Loh? Acaranya sore ini ba’da ashar di Istiqlal? Wah.

Jujur, gue amat sangat jarang bahkan nyaris gak pernah berkunjung ke Mesjid Istiqlal. Selain gak terbilang deket (jauh juga gak terlalu sih), bagi gue Istiqlal itu tempatnya ribet, gede buanget, gak kondusif dan gak nyaman untuk berlama-lama. Apalagi gue orangnya paling ga tahan di dua jenis tempat: 1) rame, 2) panas; sedangkan Istiqlal adalah kombinasi kedua hal itu. Bahkan acara yang pengisinya semenarik dan sekeren Fatih Seferagic ataupun Nouman Ali Khan di Istiqlal, gue ga tergerak untuk dateng. Gue seringkali mikirnya, “Ah males banget pasti rame, sumpek, mending nonton ceramahnya di YouTube ajalah, biasanya muatannya kurang lebih sama.”

Ya begitulah. Itu acara yang udah gue dapet infonya dari jauh-jauh hari. Lah ini gue baru dapet info acara 2 jam sebelum acara dimulai. Tapi entah kenapa, entah bagaimana, dalam waktu yang super singkat setelah ngeliat info acara tersebut dan cek ricek lebih lanjut, gue memutuskan untuk datang ke acara tersebut.

Iya, gue yang udah entah berapa minggu super ngansos, ga keluar rumah, minim interaksi sama manusia selain orang rumah, tiba-tiba saja memutuskan untuk pergi ke suatu acara yang baru gue temukan infonya dalam waktu sekian menit.

Entah bagaimana, gue tergerak untuk hadir.

Sungguh, Dia Maha Membolak-balikkan hati.

Sejujurnya gue pun sempet agak ragu mau dateng, gue takut ketemu wajah-wajah familiar. Gue takut ketemu orang yang gue kenal. Iya, gue masih dalam mode ansos semi-depresi. Gue males ditanya-tanya kabar.

Tapi entah bagaimana gue bisa mengabaikan rasa was-was itu. Gue cuma pengen nyimak cerita sang mentor panutanqu. Gue pengen belajar. Orang yang pemikirannya sekeren dia bisa merendahkan hati untuk terus belajar. Gue pun seharusnya masih punya kesempatan untuk belajar. I see a glimpse of hope.

Sampe sana gue sempet ngeliat wajah yang gue kenal. Oh no. Ini adalah salah satu orang yang gue perlu minta maaf sebesar-besarnya karena menghilang dari peredaran. Bahkan gue masih punya “utang” sama dia. Dia ini merupakan coach panutanqu, bahkan juga merupakan sobat baiknya mentor panutanque. Gue malu. Gue gak tau mau ngomong apa kalo ketemu dia. Gue menghindar untuk ketemu, dan duduk agak jauh dari dia. Lalu gue pun menyimak acara yang diisi oleh sang mentor panutanqu.

And it inspired me.
It was honest. It was authentic. It was true.
It all makes sense.

Memang pengalaman adalah guru terbaik, dan dari pengalaman orang lain pun kita bisa ikut belajar.

Dan sang coach, seperti biasa tetap menunjukkan karismanya. Bahkan semakin indah, setelah berhijrah, ketika apa yang disampaikan bermuatan dakwah.

Setelah talkshow selesai, gue pun lagi-lagi tergerak. Untuk menyapa sang coach serta sang mentor panutanqu. Mungkin apa yang disampaikan sang mentor di talkshow tadi yang menginspirasi gue; “Hijrah itu nggak bisa sendirian. Kita butuh support system. Dan support system itu nggak cuma keluarga. Tapi juga circle pertemanan kita. Kita yang berhijrah juga harus siap untuk jadi support system bagi teman-teman lain yang ingin berhijrah.” Kurang lebih begitulah yang terangkum oleh gue.

Dan ya, gue butuh support system ini. Gue butuh dimentori dan di-coaching lagi oleh orang-orang ini, dan kali ini dengan orientasi, niat, dan tujuan yang in syaa Allah lebih lurus, lebih bermakna.

Bismillah. Gue pun menyapa sang coach..
Dan singkat cerita.. entah bagaimana gue yang hanya butiran debu ini bisa menghabiskan waktu dalam circle mereka. Mendapat berbagai ilmu baru dari mereka.
Gue yang pernah mendapat kesempatan berinteraksi sama mereka tapi malah dengan bodohnya menyia-nyiakan kesempatan itu, entah bagaimana justru jadi selangkah lebih dekat dengan mereka.

Singkat cerita.. entah bagaimana ini in syaa Allah membuka pintu untuk jalan baru ke depannya.

Qadarullah. Semua terjadi begitu saja.
Mungkin sudah rencana-Nya.
Mungkin memang semua dalam skenario-Nya.

Gue lah yang selalu tidak paham cara-Nya Mengatur semuanya.
Gue lah yang selalu sibuk berprasangka pada-Nya.

Tapi pada akhirnya.. Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk kembali sadar;

Allah.. Rencana-Mu selalu indah.. :’)

20181006_213934 (2)
Murid yang nggak lulus LC, qadarullah malah dipertemukan lagi dengan coach dan mentor yang sefrekuensi. Mungkin memang sudah skenario-Nya. Semoga rencana yang dibuat mendapat Ridho-Nya.

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.