Thanks For Saving Me

Mungkin agak terlambat sehari, tapi gue pengen mendedikasikan tulisan ini untuk Hari Kesehatan Mental Dunia, 10 Oktober 2018.

Gue emang bukan lulusan psikologi, apalagi ahli kejiwaan. Gue hanya menuliskan ini berdasarkan pengalaman gue sendiri yang tampaknya juga sempat mengalami ketidakstabilan mental.

Gue sendiri gak yakin sih apakah yang gue alami ketika itu (atau mungkin hingga saat ini?) adalah gangguan kesehatan mental atau bukan, tapi orang lain mungkin menganggap kondisi gue memang kurang wajar atau nggak umum. Gue sendiri pun mengakui sih bahwa keadaan kayak gitu tuh nggak sehat. Tapi gue juga akhirnya belajar bahwa berpatokan pada orang lain tuh justru yang bikin mental jadi nggak stabil. (Ini nanti bisa jadi bahasan panjang tersendiri.)

Anyway, pada akhirnya gue pun menyimpulkan bahwa ternyata kesehatan mental itu memang sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan itu adalah sesuatu yang nggak bisa kita anggap remeh.

Dan ya, di masyarakat kita pun masih lekat stigma negatif seputar kesehatan mental. Ini yang perlu sama-sama kita luruskan.

Ya, setiap orang tentu punya pengalaman melalui “darkest moments” masing-masing ya.. Entah sih gue juga kurang paham pada batas apa kondisi “down” nya seseorang itu masuk dalam kategori depresi…atau cuma sekedar bad day atau mood swing aja.

Again, I am not an expert.. and I haven’t got myself checked or diagnosed either.
But I hope I can avoid people’s your judgment if I say that there are moments where I had suicidal thoughts.

Yes, I had those moments.
The times where I feel so lonely, helpless, worthless.
The times where I couldn’t do anything for anyone.

The times where I couldn’t figure out my purpose. Maybe I knew, or I thought I knew, but I feel like it’s impossible for me to reach.

The times where I couldn’t even figure myself out.
Why am I here? Why do I even exist?

The times where I couldn’t find the strength to go on.
And I wished I never existed.

The times where I wished for my existence to be erased.
Because I felt so useless. Because I felt that I don’t benefit anyone with my existence. Because I felt that my existence does more harm than good.
Because the world could go on without me.

And it does, doesn’t it?

I may have gone through some self-harm, but thank God, Alhamdulillah, I never actually tried to end my life.

Thank God, I still have a little piece of faith. And seeing how I am still alive today to write this, clearly shows that He still has other plans for me.

Dan gimana gue bisa tiba-tiba bangkit lagi itupun gue nggak paham gimana caranya. Andai gue jatuh lagi ke kondisi seperti itu, gue juga nggak tahu apa yang mesti gue lakukan untuk keluar dari kondisi itu.

I don’t know how I snapped out of it. But I know what might have helped.

Empathy.

Ya, empati.

Dalam kondisi mental yang kurang sehat, katakanlah depresi.. Orang depresi itu nggak bisa mikir rasional bos! Se-religius gimanapun, secerdas apapun, kalo kondisinya depresi.. nggak bisa dipaksa untuk berhenti dari kondisi itu / snap out of it begitu aja.

Jadi dalam kondisi depresi tuh lo kayak tau bahwa ini tuh ga bener. Harusnya tuh nggak begini.. harusnya tuh begitu.. dlldsb. Tapi yaa gimana namanya mentalnya lagi nggak sehat, ya nggak bisa tiba-tiba jadi bener aja gitu!

Ibarat sakit fisik, tulang lo retak lah misalnya, atau sesimpel lo pilek aja, ya nggak ujug-ujug tiba-tiba jadi sehat kan? Cuman ya bedanya kesehatan fisik sama kesehatan mental, urusan mental ini emang lebih susah diraba ya, secara abstrak gitu kan.. urusannya pikiran sama hati, ya mau gimana bos? Kaga bisa di-rontgen atau dicek pake stetoskop juga.

Gue gak paham ya soal kesehatan mental apa ada hubungannya dengan keimanan atau kedekatan sama Tuhan. Tapi gue rasa hubungan sama Tuhan itu tentunya selalu berpengaruh sih dalam hidup.

Buktinya, gue nggak nurutin apa kata suicidal thoughts gue dan masih bisa survive buat nulis ini tuh ya berkat sepercik iman yang Alhamdulillah masih diilhamkan dalam hati gue. Siapa lagi yang bisa menggerakkan hati manusia, ya kan? Ya Alhamdulillah aja gitu, gue yang masih sering berprasangka terhadap-Nya, ternyata Dia masih ngasih gue kesempatan. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal..

Walaupun bukan berarti penyakit mental bisa serta-merta sembuh dengan sembahyang atau doa, tapi gue rasa nggak tepat juga kalau lantas orang-orang masih ber-stigma bahwa orang yang depresi atau penyakit mental tuh lemah iman, kurang ibadah, kurang ngaji, atau semacamnya.

Bro, tolong jangan berkomentar soal itu sama orang depresi. Bukannya ngebantu, lo malah bikin tambah depresi tau nggak?

Iya, serius. Yang ngelakuin kayak gitu tuh namanya menghakimi. Judgment. Meski mungkin hal-hal tersebut bisa jadi faktor, tapi bukan berarti lo mesti seenaknya komentar kayak gitu sama orangnya dong?

Judgment. Ini musuh nomor satu kesehatan mental. Bahkan bisa jadi inilah yang jadi pemicu utama gangguan kesehatan mental.

Mungkin ini yang bikin banyak orang di masyarakat kita rentan terhadap gangguan kesehatan mental.

Judgment; ini yang paling ditakutin sama orang depresi. Mungkin itu sebabnya orang depresi cenderung menarik diri, menghindari sosialisasi. Karena takut dikomentarin orang lain!

And yes, that’s what I tried to avoid in my darkest days. That’s why I’ve been M.I.A, especially from social media.

Ya, gue rasa menarik diri dari sosial media cukup membantu gue untuk tetep waras.

Tapi yang paling membantu gue untuk bangkit, lagi-lagi adalah… Empati.

Sesederhana tindakan beberapa orang kawan lama, yang tiba-tiba berkunjung bawa bocah masing-masing, tanpa menghakimi, tanpa menginterogasi, cuma dateng haha-hihi bercerita update kabar, ngobrolin tingkah bocah serta kerempongan emak-emak, dan memastikan, “Lo baik-baik aja kan?”

Itu….cukup.
Lebih dari cukup.

Thanks to them, here I am, writing my story.
Thanks to them, here I am, finding my purpose and passion again.

Here I am, trying to pick up the pieces again..

Alhamdulillah, all praise to Allah who has sent His blessing in a form of friends like you.

Thank you…

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.