Gawat Darurat Pendidikan

Disclaimer: Lo boleh nggak setuju, lo boleh punya pendapat lain, bebas. Yang jelas ini pendapat gue. Kalo nggak suka, nggak usah baca. Kalo nggak setuju, nggak usah ribut. Mending lo tawarin solusi nyata. Kalo nggak bisa, gak usah berisik, mending diem aja. Kalo lo pengen ngelakuin sesuatu tapi nggak tau mulai darimana, ayo ngobrol tatap muka. Intinya jangan cuma mendebat di komen aja. (Yaelah, kayak masih ada aja yang baca!)

Eniwei, jujur entah bagaimana gue kesel, kesel banget, ketika melihat seseorang atau pihak tertentu mengangkat tema “Indonesia Gawat Darurat Pendidikan”, lalu lantas mengaitkannya dengan data sekolah. Entah itu karena tidak bersekolah atau putus sekolah.

Anjrit, gue kesel. Semudah itu semua orang melempar kesalahan dan menunjuk ke satu pihak: sekolah.

Kenapa sih, tiap ngomongin “pendidikan”, kita selalu mengacunya ke “sekolah”?

Wake up, man! Pendidikan itu nggak sesempit sekolah!

Udah 2019 cuy! Mindset lo masih sesempit itu?

Iya, gue paham. Sekolah masih jadi sarana mainstream “pendidikan”. Tapi plis lah, udah sekian tahun, sekian dekade, udah bentar lagi seabad Indonesia merdeka, lo nggak ngerasa kalo sistem persekolahan nggak berhasil mendidik SDM bangsa kita? Okelah ada beberapa SDM yang keren abis, revolusioner, out of the box dan semacamnya.. tapi itu tuh berapa persen dari populasi jebolan persekolahan, men? Sisanya apa kabar?

Yang sekolah sampe SMA terus kerjanya tawuran, nge-bully orang lain, ada. Yang kuliah S1 kerjanya nyinyir bin julid di sosmed, banyak. Yang sampe S2 tapi gak becus ngurus keluarga, ada. Yang sampe sertifikasi ini-itu tralala trilili terus korupsi, banyak.

Jadi persekolahan membuktikan apa???

Enggak, gue enggak bilang bersekolah itu jelek, bukan. Hanya saja.. terlalu banyak kasus yang udah mengindikasikan bahwa sekolah itu bukan solusi efektif isu pendidikan!

Silakan cari sendiri, di tahun 2018 aja udah berapa banyak kasus seputar masalah persekolahan? Gimana di 5 tahun terakhir? 10 tahun terakhir?

Masalahnya gitu-gitu melulu, sob! Lalu tiap ganti presiden, ganti menteri, ada perubahan apa? Yang mutlak terjadi cuma perubahan kurikulum, yang malah bikin “pendidikan” di sekolah makin nggak efektif, makin membingungkan.

Jadi apa nggak wajar kalo gue kesel, ketika kita membahas soal “Gawat Darurat Pendidikan”, dan yang dibahas adalah soal tidak bersekolah dan putus sekolah? Masalahnya jauh lebih gawat daripada itu, bro en sis!

Negeri kita ini krisis moral.. krisis karakter.. krisis empati. Kurang jelas apa semua itu digambarkan oleh mayoritas netizen kita?

Emangnya hal kayak gitu bisa diselesaikan di sekolah? Lo nggak liat kelakuan anak sekolah zaman sekarang kayak apa? Lo nggak liat kelakuan orangtuanya kayak apa?

Lo nggak liat, nggak sedikit siswa dan mahasiswa setres dan bunuh diri karena nggak sanggup ngadepin beban “sekolah”?

Lo nggak liat, banyak orang yang lulus “sekolah” lalu kerjanya buang-buang waktu dan tenaga, nyari duit kerja lembur bagai kuda tanpa terpuaskan batinnya, lalu demi melepas penat rela “bakar” uang, foya-foya, pesta pora, mabok dunia, lalu ketika kehabisan duit lantas menghalalkan segala cara, sampe korupsi harta negara?

Plis lah, sob.. ketika kita ngomongin “gawat darurat pendidikan”, nggak bisa kita serta merta menunjuk “sekolah” sebagai fokus utamanya. Pendidikan sejati selalu terjadi dalam keluarga.

Sebaik, seburuk apapun seorang anak.. ia adalah didikan keluarganya.
Sebaik, seburuk apapun guru dan sekolah.. anak selalu kembali kepada keluarganya. Anak selalu akan meniru orangtuanya.

Karena memang demikianlah fitrahnya.

Maka.. daripada membuat semua mata memandang dan menunjuk pihak sekolah..
Tidakkah lebih elok jika kita tengok keluarga kita?
Tidakkah lebih baik jika kita mengambil tanggungjawab mendidik keluarga kita?
Tidakkah lebih efektif jika kita mulai dari diri sendiri, melengkapi diri dengan kemampuan untuk mendidik dan mengasuh anak-anak kita dengan lebih baik?

Jika mendidik seorang anak berarti memperbaiki kualitas kehidupan banyak manusia di masa depan.. apakah tidak sebaiknya kita mulai dari mendidik diri kita sendiri? Agar kita sanggup mengambil tanggungjawab mendidik anak-anak kita sendiri, bukan melempar tanggungjawabnya ke pihak lain.

Lagipula.. siapakah yang akan diminta pertanggungjawaban akan anak-anak kita di Hari Akhir kelak? Sekolah, atau orangtuanya?

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.