Selesai Dengan Diri Sendiri

Jujur aja, makin lama gue makin merenungkan makna “selesai” dengan diri sendiri. Gue sendiri pun kayaknya baru mulai mudeng sama istilah itu beberapa tahun terakhir.

Ada yang bilang, “orang yang selesai dengan dirinya sendiri, tidak akan tersinggung dengan apa kata orang lain.”

Ada juga yang bilang, “kalau mau menikah, maka lo perlu selesai dengan diri lo sendiri, karena lo akan berbagi hidup, berbagi pikiran dan jiwa dengan orang lain, berbagi masalah dan tantangan dengan orang lain. Kalo lo belum tuntas dengan diri lo sendiri, gimana lo mau memahami pasangan lo?”

Ada juga yang bilang, “orang yang selesai dengan dirinya tidak lagi mencari sesuatu untuk memuaskan dirinya sendiri, dia akan mencari yang lebih besar dan lebih penting dari dirinya.”

Tapi ada juga yang bilang, “kita tidak akan pernah selesai dengan diri kita sendiri. Apa yang kita kenal dari diri kita saat ini itu semua hanya hipotesa. Kita hanya bisa terus ber-‘iterasi’. Selesai itu ya kalau kita mati.”

Semua pemaknaan itu bagi gue masuk akal, tapi akhirnya gue lebih bisa menerima pernyataan yang terakhir.

Kita tidak akan pernah selesai dengan diri sendiri. Kita baru “selesai” ketika kita mati.

Gue baru mulai bisa memahami ketika gue mengalaminya sendiri. Gue nggak mau berasumsi, tapi sepertinya hampir pasti itu terjadi pada setiap orang, pada waktunya masing-masing.

Gue mengalami masa di mana gue mengira bahwa “inilah gue yang sejati”, tapi ternyata hipotesa itu belum tepat, karena seiring berjalannya waktu, gue kembali menghadapi keraguan, ketidaksesuaian. Atau mungkin hipotesa itu sebagian benar, namun belum pada lingkup area yang tepat, atau belum bertemu orang-orang yang tepat. Atau bisa jadi lingkup areanya sudah benar, namun kegiatannya yang belum tepat.

Entahlah. Kalau menurut salah seorang guru saya, Mas Ivandeva, kita hanya bisa ber-iterasi. Mencoba berbagai skenario berbeda, menyesuaikan objek, kegiatan, orang-orang, atau “agenda” yang berbeda, hingga kita bisa menemukan hipotesa yang paling mendekati sebenarnya.

Menurutnya, kebingungan dan titik persimpangan dalam hidup adalah kesempatan. Ia adalah pertanda bahwa ada yang belum selaras. Ia bisa jadi adalah pengingat untuk menyelaraskan kehidupan dengan diri yang sejati.

Dan ternyata, kebingungan dan titik persimpangan ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Bisa jadi terjadi terus-menerus, hingga kita bisa menemukan diri yang sejati. Bisa jadi suatu kali kita (mengira) bahwa kita sudah menemukan “inilah gue”, tapi seiring waktu berlalu, itu bisa berubah. Itu bisa jadi tidak lagi relevan.

Dan ternyata.. itu nggak apa-apa.

Nggak ada yang salah dari diri lo ketika suatu saat lo merasa nggak relevan, nggak dibutuhkan.

Mungkin lo hanya perlu mencari kegiatan lain yang membuat lo berdaya.
Mungkin lo hanya perlu mencari hal lain yang membuat lo berdaya.
Mungkin lo hanya perlu mencari audiens lain yang membutuhkan lo.
Mungkin lo hanya perlu mencari agenda lain yang membutuhkan lo.

Jadi bergeraklah.

Temukan.
Lakukan.
Rasakan.

Oh, hei. Ternyata gue sedang bicara dengan diri sendiri.

Jakarta, 7 Februari 2019.
@nadhilaaz, yang berada di persimpangan entah keberapa.

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.