Hanya Tak Ingin Merasa Sendiri

Kadang gue merasa gemes sama diri gue sendiri. (Bukan, bukan gemes yang begitu.)

Sebenernya gue gemes sama mayoritas manusia sih. Yah, sebelum nunjuk orang lain gue nunjuk diri sendiri dulu lah ya. Eniwei, hal serupa dilakukan oleh banyak manusia soalnya.. dan kayaknya itu jadi mempengaruhi pola pikir kita sebagai masyarakat. (Kita? Lo aja kali.)

Entahlah, tiba-tiba gue gemes aja sama diri gue sendiri. Lalu gue mulai bertanya-tanya sama diri gue sendiri.

Kenapa sih Dhil elo tuh kalo nulis mesti dicakep-cakepin?
Atau nulisnya tuh nunggu mood bagus dulu?
Atau mau ngepost cuma kalo tulisannya bagus, kalo kira-kira tulisannya “layak dibaca”?

Kenapa sih elo tuh berani nulis dan di-publish kalo lagi “waras” aja?

Yah, oke, mungkin gue bisa menyediakan berbagai alasan untuk menjawab itu, tapi sekarang rasa-rasanya ingin menuangkan dulu aja apa yang dirasa dan juga apa yang ada di dalam kepala.

Iya ya, kenapa gue tuh lebih sering nulis kalo lagi “waras” aja? Padahal kalo pas lagi butek, lagi kacrut justru banyak banget pikiran yang muter-muter aja terus di kepala. Nggak beres banget gitu isi kepala.

Nah terus ketika gue lagi kacrut dan ngeliat tulisan-tulisan “bagus” nan “waras” yang pernah gue publish, kok yha rasanya malah bikin tambah kacrut. Rasa-rasanya kayak di kepala gue ada yang bilang, “Yaelah, bisa-bisanya lo waktu itu nulis kayak gitu, terus sekarang lo kayak begini. Bullsh*t lo, Dhil!”

Lalu ketika mulai kembali “waras” gue berpikir lagi, “Oh wow, I could be so mean to myself.”

Entahlah, di satu sisi mungkin gue memahami (dan masih meyakini) bahwa menjaga image sebagai seorang Muslim, untuk menjadi “teladan” atau menjadi “representasi Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin” itu perlu. Bahwa itu misi utama tiap-tiap orang yang beriman.

Tapi di sisi lain, terkadang gue merasa sedang menipu diri sendiri, dan mungkin menipu orang lain. Karena gue ternyata belum sebaik itu. Ternyata gue masih terlalu kacrut. Dan menjaga “image baik” ketika gue belum cukup baik itu capek bener brooooo.

Gue merasa seperti tidak menjadi diri gue sendiri.

Gue tuh selalu ciut melihat tulisan-tulisan orang lain, temen-temen gue sendiri, yang mereka tuh ya kok tulisannya positif-positif banget. Iya sih mereka memulai tulisan mereka dengan suatu “masalah”, tapi kok ya mereka bisa meramu itu jadi tulisan yang bagus dan bermuatan positif ya..

Kenapa gue enggak?
Kenapa gue tetep aja kacrut?

Lalu itu bikin gue makin kacrut.

Makin merasa ga cukup baik. Terus merasa ga berguna. Useless. Hopeless. Jadi tuh gue bisanya apaa? Kenapa gue begini-begini ajaaa?

Yha terus aja berputar-putar dalam lingkaran kekacrutan.

Entahlah, mungkin gue ternyata cukup beruntung bertemu dengan sumber ilmu, dengan para guru yang mengajarkan gue bahwa “it’s okay to be not okay”.

Bahwa jadi kacrut itu nggak apa-apa kok.
Nggak ada yang salah dari diri lo.

Jadi kacrut bukan berarti lo ga berguna.
Jadi kacrut bukan berarti elo ga bisa apa-apa.

Ternyata dalam Islam, kekacrutan itu sah-sah aja kok.
Bahwa kacrut itu juga bagian dari fitrah sebagai manusia.
Bahwa kekacrutan itu cuma sementara. Waras, produktif, efektif, itu juga cuma sementara. Semua itu dipergilirkan. (QS 3:140)

Jadi.. nggak apa-apa. Terima aja.

Kacrut lo banyak, tapi pasti lo punya kelebihan/kebaikan juga kok.
Nggak apa-apa. Terima aja.

Terima aja dulu kekacrutan lo.

You made mistakes.
You feel bad.
You feel hopeless.
You feel lost.

It’s okay.
Feel it.
Accept it.

It’s all a part of being human.

Mungkin justru itulah kenapa kekacrutan itu ada.
Karena manusia itu nggak mungkin sempurna.
Kacrut itu hanya sebagian dari esensi menjadi manusia.

Ketika lo ngerasa kacrut sedemikian rupa,
Nggak bisa cerita sama siapa-siapa,
Bahkan nggak tau mesti gimana menjelaskannya,
Cuma ada rasa nggak enak sampe menyesak di dalam dada..

Ketika lo merasa sedemikian kacrutnya, bahkan sampe rasanya ga sanggup lagi berbuat apa-apa…

Lo berpaling kepada siapa?

Lo ngadu sama siapa?
Lo minta pertolongan kepada siapa?

Ya sama siapa lagi kan kalo bukan kepada Dia yang menghadirkan lo di muka bumi?

Oh iya, jangan-jangan memang kekacrutan itu ada,
Bahkan terkadang nggak bisa dijelasin kenapa nya,
Cuma karena Allah pengen lo curhat sama Dia.

Mungkin itu “kode” dari Sang Pencipta, supaya lo ngobrol sama Dia aja.
Supaya lo mendekat sama Allah ‘Azza wa Jalla.

Lalu gue serasa diingatkan dan makin bisa memikirkan kenapa tujuan (purpose) hidup kita itu untuk beribadah (menghamba) kepada-Nya. (QS 51:56)

Karena emang elo tuh sejatinya bukan apa-apa selain hamba-Nya.

Kalo segala apa yang berharga; harta, jabatan, keluarga, segala status lo di dunia udah dikuliti, dilucuti sampe lo ga tau gimana cara mendefinisikan diri lo lagi… lo cuma tinggal punya satu hal yang bisa mendeskripsikan diri lo:

Hamba Allah.

Lantas kalo emang status lo cuma sebagai hamba, apa lagi yang mesti dilakukan, kalo bukan mengabdi, menjalankan tugas dari-Nya?

Apa lagi yang bisa lo lakukan untuk lepas dari segala kekacrutan diri lo, selain nurut aja apa kata Yang Menguasai diri lo?

Hati lo aja dengan mudahnya Dia bolak-balikkan.
Seketika aja dibalik jadi kacrut, lo bisa apa???

Eniwei… Kembali ke bahasan soal tulisan bagus nan waras versus tulisan kacrut. Apa hubungannya dah?

Ya.. itu. Gue tuh keseringan ngepost yang bagus-bagus aja. Padahal ternyata nulis pas lagi kacrut itu juga bisa jadi berfaedah.

Kadang.. menemukan bahwa ada orang lain yang juga menghadapi kekacrutan yang serupa, itu bisa jadi obat yang manjur juga.

Kadang, lo cuma butuh diyakinkan bahwa lo nggak sendirian.

Bukan, bukan untuk membenarkan “oh ada juga kok yang kacrut selain gue, berarti gue begini terus juga nggak apa-apa.”

Hellooooow~ emangnya enak yak berkubang dalam kekacrutan?

Bukan, bukan begitu.. justru ketika lo menemukan bahwa lo nggak sendirian, bahwa orang lain juga terkadang terjebak dalam kekacrutan, lalu dia berhasil melaluinya.. berarti lo juga bisa.

Iya.. mungkin kita, manusia, hanya tak ingin merasa sendiri.

As simple as that.

Jakarta, 9 Februari 2019.
@nadhilaaz, yang sedang menampol diri sendiri agar bangkit dari kekacrutan ini.

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.