Ini Aku, atau Ego?

Akhir-akhir ini sering terlintas di pikiran. Soal batas tipis antara kedua ini.

Masih seputar kesadaran. Seputar kenal diri. Menjadi diri yang sejati.

Kembali lagi.. semua itu hanya hipotesa.

Namun ketika berproses, berupaya menjadi diri yang sejati, terkadang sulit mengenali.. apakah ini benar aku? Atau aku sedang memberi makan ego?

Apa betul aku sedang menjadi diriku? Apa betul aku sudah selaras dengan misiku?

Apa yang sedang aku perjuangkan? Apa betul aku sedang memperjuangkan kebenaran?

Atau aku sekedar tidak mau kalah?

Atau aku sekedar tak ingin terlihat lemah?

Teringat suatu kalimat yang sangat menyentuh jiwa yang berupaya terhubung ke langit.

“Apabila kamu mencintai/melekat kepada kebaikan yang kamu perbuat melebihi cintamu kepada Allah, maka bersiaplah kehilangan apa yang kamu cintai itu.” – M. Maula Nurudin

Setiap orang bisa berbuat kebaikan. Banyak hal yang sebetulnya baik dan membaikkan.

Tapi.. baik dan buruk itu sungguh relatif. Tergantung siapa yang menilai dan menggunakan kriteria apa menilainya.

Lalu, kebaikan seperti apa yang sejatinya tercatat sebagai amal shalih?

Tentu saja jika niatnya itu lurus hanya untuk Allah saja. Jika niat itu selaras demi memenuhi maksud dan tujuan sebagai hamba-Nya.

Lalu jika setiap saat aku menolak untuk kalah,
Jika aku terus berupaya untuk mempertahankan apa yang baik meski tak diterima,
Jika yang awalnya niat baik namun berubah menjadi adu menang..

Apakah aku masih berjuang untuk-Nya?

Atau aku sekedar memuaskan ego belaka?