Start With Why

Sorry. This is not the book review.

Gue cuma sedang mencoba memetakan isi pikiran gue sendiri. Gue sedang mencoba memetakan apa yang gue pikirkan, apa yang gue rasakan, sehingga membuat gue melakukan apa yang gue lakukan sekarang: memperjuangkan pendidikan keluarga.

Gue sedang mencoba merunut kembali, apa yang mendasari pilihan gue itu.The strong why.

The grand why.

Kenapa perjalanan gue mencari model pendidikan yang (mendekati) ideal itu akhirnya mengantarkan gue menuju kesimpulan bahwa pendidikan yang (mendekati) ideal adalah yang sesuai dengan fitrah peserta didiknya.

Dan institusi yang paling (mendekati) ideal untuk menjalankan pendidikan berbasis fitrah itu, adalah keluarga.

Yeah, why?

It always starts with personal pain.

Dari pengamatan gue terhadap pengalaman gue sendiri, dan apa yang gue pelajari dari kisah-kisah hidup orang-orang yang produktif nan inspiratif, gue belajar bahwa setiap orang pasti punya masalah.

Setiap orang pasti melalui kesulitan. Soal tingkat/ukurannya besar atau kecil, itu sangat-sangat relatif. Tergantung pada situasi dan kapasitas orang itu saat itu. Yang pasti, setiap orang pasti punya ujiannya masing-masing, pada waktunya masing-masing, sesuai porsinya masing-masing.

Dan diantara masalah atau kesulitan itu, pasti ada yang dirasa paling berat. Yang dirasa menjadi akar dari banyak masalah dalam kehidupannya. And that is what we usually define as “personal pain”.

As for me, my biggest pain comes from… not knowing myself.

And because of that, I don’t know what to do with my life.
And this happens a lot more than you might think.

Ya, okelah gue tau kalo hidup ini sementara, nanti pasti bakal mati, jadi di dunia ini tujuannya tuh buat ibadah, sehingga nanti menentukan di akhirat bakal masuk surga apa neraka.

That pretty much sums up what I knew. And that’s what we (most of Indonesian Muslims) have been taught, right?

Oh. Ternyata itu sangat belum cukup untuk menggerakkan hidup gue.
Gue tetep gak tau hidup gue mau dibawa kemana.

Still so freakin’ clueless of what to do with my life. (Does this relate to you?)

Setelah gue menyelami lika-liku dunia pendidikan 3 tahun terakhir ini (okelah itu waktu yang singkat, tapi Alhamdulillah, Allah hadirkan banyak pembelajaran penting buat gue), gue akhirnya mulai sadar kenapa.

Kenapa meski gue terpapar pengetahuan agama yang (Alhamdulillah) terbilang cukup luas karena 9 tahun belajar di sekolah berbasis Islam, ternyata itu tetep nggak cukup buat menggerakkan hidup gue.

Karena pengetahuan itu datangnya dari luar.
Gue hanya sekedar tahu, tapi gue nggak paham.
Nggak ter-“internalisasi” dalam diri, mungkin begitu kalo kata para pakar.

Does this relate to you?

Nggak usah heran dan jangan panik, ini nggak sepenuhnya salah lo. Ini kesalahan kolektif kita sebagai masyarakat karena menyuburkan sistem pendidikan yang nggak efektif.

Iya, karena sistem pendidikan kita mendidik pake doktrin.
Ngecekokin pengetahuan dari luar ke dalam.
Nuangin ilmu sebanyak-banyaknya tanpa menyadari “wadah”nya seperti apa. Sanggup nampungnya apa nggak.

Sistem pendidikan (formal) kita menganggap anak sebagai kertas atau wadah kosong yang mesti disuapin pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Padahal, manusia itu terlahir udah ada isinya. Udah ada bekalnya. Atau kalo ibarat komputer, udah ada software bawaannya.

Itulah fitrah.

Fitrah ini cakupannya sebetulnya luas. Tapi dalam makna paling sederhana yang bisa dijelaskan dengan istilah awam, bisa dimaknai sebagai “nature“, “potensi”, “talent“, “strength“, berbagai potensi kekuatan…

Tapi itu belum semua. Fitrah itu bahkan juga termasuk “limitations“, “weakness“, atau potensi kelemahan, kekurangan, atau batasannya.

So it’s a whole package.

Maka kita perlu betul-betul mengenal diri… dan menerimanya.
Semua kelebihan dan kekurangannya.

Itulah yang dimaksud menjadi manusia seutuhnya.

Makanya ada pendekatan-pendekatan self-love, self-awareness dan mindfulness. Intinya adalah merangkul seluruh aspek fitrah yang ada dalam diri.

Dan masing-masing manusia itu fitrahnya unik.
Kalo diibaratkan komputer lagi, masing-masing ada “serial number” nya yang unik, dan nggak ada yang sama persis. Mirip, bisa jadi. Serupa, tapi tak sama.

Bahkan kembar siam sekalipun nggak akan sama persis. Apalagi kakak-adik. Apalagi saudara sepupu. Apalagi teman sekelas, yang isinya pasti lebih dari 10 orang.

Jadi perlakuannya nggak mungkin bisa sama persis. Nggak mungkin ada satu cara yang tepat berlaku untuk semua. Sehingga pada akhirnya yang namanya proses belajar itu pasti personalized. Perlu menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu.

Nah balik lagi masalahnya ada di pola pendidikan kita secara keseluruhan.

Sistem pendidikan kita itu sangat mekanistik. Cenderung mendoktrin. Memerintah untuk menuruti instruksi. Menyuapkan pengetahuan. Outputnya nilai ujian.

Iya, outputnya nilai ujian. Bentuknya ijazah/rapor. Kata siapa outputnya pemahaman? Yang dicek cuma nilainya aja kok. Kan selalu ditanya “kamu dapet nilai berapa”, bukan “kamu paham apa”. Kalo nilainya bagus ya nggak ditanya-tanya, paling dipuji aja. Terus kalo semua nilai bagus kecuali satu-dua matpel, nilai yang bagus ga diapresiasi, tapi nilai yang jelek dipertanyakan. Ha-ha-ha.

Can you relate to that? :))

Nah, jadi jangan heran kalo mayoritas masyarakat kita terbiasa nunggu diperintah, nggak nurut (aturan) kalo nggak diawasi, bergantung pada penilaian eksternal, dlsb.

Jadi gue, dan mungkin lo yang baca ini juga, bahkan bisa jadi mayoritas orang di luar sana, selama ini hidup tanpa kenal diri. Tanpa menyadari seperti apa fitrah diri sendiri.

Karena selama 16 tahun masa emas pertumbuhan kita sebagai manusia (ini nanti bisa jadi bahasan panjang tersendiri tentang fitrah perkembangan), sistem pendidikan kita menuntut, membiasakan, memprogram kita untuk memenuhi standar penilaian orang lain. Mengikuti pola yang ditetapkan oleh orang lain, meski bisa jadi itu sama sekali nggak cocok buat kita.

(To all of you who always feel so wrong and insecure for being different, here’s to you. I feel you. And believe me, there’s nothing wrong with you.)

Sehingga ketika tiba saatnya kita perlu berbuat untuk diri sendiri, mengendalikan hidup kita sendiri, kita bingung. Kita seperti hilang arah, galau, nggak tahu mesti melakukan apa. We’re so clueless on how we’re supposed to live our lives.

Does this relate to you?

I know this happens to many millennials out there; it’s a phase we call “quarter-life crisis”.

(..to be continued.)

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.