The Art of Enjoying Life

Sorry, this is also not a book review.

..walaupun judul itu memang terinspirasi dari buku yang berkaitan, tapi mohon dimaklumi, tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk memberikan resensi atau review tentang buku tersebut. (Karena saya sendiri juga belum baca, hahahaha.)

Qadarullah, saya malah berkesempatan berguru sama penulisnya langsung sebelum baca bukunya. Asik kan? :)

Anggep aja asik lah ya.

Anyway, since we all like stories (well at least I do), here’s a little background story..

Yak, sejak ikutan Limitless Campus Lab, gue jadi kenal sama sebuah metode pembelajaran yang namanya coaching, dan dari LC Lab itu, Qadarullah gue dipertemukan dengan coach yang kayaknya cucok banget sama gue, namanya mba Arie Kusuma Dewi.

Singkat cerita, gue jadi keterusan coaching sama beliau. Lalu gue pun menemukan bahwa beliau ini jejaringnya luas banget cyiiin, dan semangat banget belajar dari berbagai forum. Nggak cuma terlibat di Limitless Campus, beliau juga sempet aktif di komunitas Enlightening Parenting, terus juga aktif di ESQ Coaching Academy / ESQ Business School, sampe Indonesia NLP Society.

Nah, ekosistem yang terakhir ini lah yang jadi bahasan hari ini.

Setelah berulang kali berinteraksi sama beliau, gue baru nyadar ternyata beliau ini sering banget menyebutkan seorang tokoh yang dari cerita beliau kayaknya kok keren banget, tapi gue belum pernah denger namanya, yaitu mas Teddi Prasetya Yuliawan. Di sisi lain ternyata beliau juga beberapa kali merekomendasi gue untuk ikut trainingnya yaitu NLP Essentials, yang katanya tergolong paling terjangkau untuk kategori training NLP.

Nggak tahu ya, awal-awal gue dengerinnya kayak menarik, tapi kayak sekedar nice info aja gitu. Gue belum terlalu berniat untuk follow up.

Singkat cerita, sekian bulan berlalu, gue makin yakin untuk mempelajari skill coaching. Di sisi lain, gue semakin desperate karena tabungan pun semakin menipis, hahahaha. Yaudah deh mumpung masih ada yang bisa dialokasikan buat budget belajar, cusss daftar wae.

Jujur aja sebenernya yang bikin gue akhirnya mantep memilih untuk daftar di NLP Essentials-nya Indonesia NLP Society adalah karena gue mengetahui tentang adanya kegiatan Practice Group secara rutin, di mana mas Teddi sebagai founder seringkali menggaungkan komunitas ini sebagai komunitas pembelajar. Dan.. gue suka sih nyimak insight pembelajaran ala mas Teddi, seperti yang dituangkan di buku-buku beliau

(Gue baru baca dua bukunya sih, itupun belum khatam, hehehe. Tapi gue suka dengan cara beliau berbagi insight.)

Eniwei, singkat cerita lagi (banyak amat disingkatnya yak… nanti lah, kalo semua diceritain sekarang gak seru dong :p), akhirnya gue ikut training NLP Essentials. Kelar kedua modul dalam 4x sesi full-day, gue langsung ikutan Practice Group edisi terdekat. (Semangat banget yak hahaha mumpung masih fresh lah.)

Jadi Practice Group (PG) itu adalah sesi belajar/latihan sambil kumpul rutin INLPS, yang udah ada beberapa chapter di antaranya Jakarta, Bandung, Jogja, CBD (Cibubur-Bogor-Depok), dan ada juga PG Nusantara. (CMIIW)

Nah, dalam pertemuan PG itu, ada PIC yang ditentukan yang akan membuka, membahas sekaligus menjadi moderator dalam pembelajaran terkait satu topik dari buku NLP: The Art of Enjoying Life karya mas Teddi. (Yes, this explains the title.)

Terus, dapet apaan dari situ?

Wagelaseh pokoknya, gue jadi bersyukur akan pengalaman-pengalaman yang dihadirkanNya selama 3 tahun terakhir, yang memperkaya referensi dan interaksi gue sehingga ketika gue belajar tentang NLP gue langsung sadar apa yang terjadi dengan diri gue dan interaksi yang gue alami selama ini.

Gue jadi bersyukur gue tahu dan belajar tentang NLP setelah ketemu beberapa komunitas/ekosistem belajar yang lain, ketemu guru-guru yang lain, sehingga gue bisa memaknai dengan lebih utuh, lebih holistik. Mungkin, mungkin aja, itu gak akan terjadi sekiranya gue belajar tentang NLP dulu baru ketemu ekosistem yang lain. Mungkin, mungkin aja, pembelajaran yang didapet akan jauh berbeda.

Entahlah, kalo diminta nulis insight tentang PG kemarin, mungkin insight yang gue share justru lebih banyak perihal topik-topik dan ide yang diobrolin ketimbang teknik yang dilatih/disimulasikan dalam sesi PG itu (kemarin lagi belajar tentang teknik “new behavior generator” ). Paragraf sebelumnya bisa dibilang juga merupakan salah satu insight yang gue dapet dari sesi perdana gue ikutan PG sih, hehe.

Seriously though, mungkin gue emang tipe orang yang lebih suka menarik pembelajaran dari obrolan atau contoh kejadian, ketimbang sesuatu yang sifatnya technical. Yah, dua-duanya bisa jadi sama penting sih… entahlah. Yang jelas saat ini, setelah sekian lama menjadi manusia yang terlalu teknis nan mekanistis… mungkin memang ini saatnya gue melatih hati, mengolah rasa.

Jadi, apa pembelajaran yang gue dapat dari Practice Group kemarin?

“Batas antara memori dan imaji dalam pikiran itu ternyata tipis sekali.
Sebagaimana tipisnya batas antara realita dan imajinasi.

Pikiran kita tak bisa membedakan mana memori dan mana imaji.
Itulah mengapa penting untuk senantiasa hadir di sini kini.”

Jakarta, 30 Maret 2019
@nadhilaaz

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.