“Bagi Orang-Orang Yang Berpikir”

Berapa kali frase itu diulang di Al-Qur’an? Jelas nggak cuma disebutkan sekali saja.

“..bagi kaum yang berpikir.”
“..bagi orang-orang yang berakal.”
“..agar mereka mengambil pelajaran.”
dan frase sejenisnya.

Sebagai orang yang merasa sulit sekali untuk berhenti berpikir (bahkan sering sampe overthinking), hal ini nggak cuma sekali juga terlintas di kepala gw. Entah akhirnya salah atau benar, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Pertama-tama, sedikit latar belakang. Berhubung isi pikiran gw cepet banget lompat-lompatnya, tulisan ini mungkin akan sulit dicerna kalo tanpa penjelasan di beberapa bagian.

Entahlah, mungkin memang bagian dari ketetapan-Nya, mungkin bagian dari proses yang dihadirkan-Nya.. gw masih saja mempertanyakan maksud dan tujuan. Alasan keberadaan. Makna kehidupan.

Atau mungkin.. memang pertanyaan itu sebetulnya tak akan selesai dipertanyakan?

Lagi-lagi, entahlah. Bagi kebanyakan orang, mungkin terdengar galau. Tapi semakin gw mendalami dunia pendidikan, semakin gw mendalami perilaku manusia, justru gw semakin banyak berpikir, semakin banyak bertanya. Semakin banyak menantang pernyataan-pernyataan yang selama ini dianggap fakta. Mungkin itulah inti dari filsafat.

Dulu, ketika masih lugu dan nggak tau apa-apa, semua pengetahuan serba disuapin aja, entah bagaimana gw mendapat pemahaman bahwa ilmu filsafat itu sesat dan menyesatkan. Namun semakin gw mencari tahu inti pendidikan sebenarnya, semakin gw mempelajari inti dari kehidupan manusia, ternyata momentum-momentum terpenting dari ribuan tahun perkembangan peradaban manusia, semuanya adalah buah dari filsafat. Hasil dari olah pikiran.

Semua ilmu yang ada di dunia (sains), semua cara-cara kita memahami cara semesta bekerja, itu adalah hasil dari filsafat; hasil dari olah pikiran kita.

Hasil dari berbagai pemikiran. Hasil dari pemaknaan. Hasil dari mempertanyakan, “mengapa demikian?”

Semakin gw menyimak kisah-kisah sejarah, semakin gw memaknai bahwa inti dari kehidupan manusia sebenarnya itu-itu saja. Zamannya mungkin berbeda, teknologinya berbeda, fisiologisnya mungkin juga berbeda, tapi inti manusia tetaplah sama.

Hanya saja saya pun merasa belum bisa merumuskannya dalam satu kata sederhana.

Tapi hasil olah pikir yang ingin gw tuangkan saat ini adalah sebagaimana yang tertuang pada judul; tentang orang-orang yang berpikir. Kenapa ternyata kata-kata itu banyak diulang dalam Al-Qur’an?

Saya sedang mengamati bahwa agaknya memang manusia hidup mengikuti pola. Sekumpulan orang yang bersepakat hidup dalam pola yang sama, itulah yang membentuk budaya. Budaya yang diwariskan turun temurun dan diikuti tanpa banyak tanya, itulah adat istiadat.

Yah, itu pemahaman awam saya.

Di masyarakat modern ini kelihatannya seolah kita meninggalkan adat istiadat, tapi menurut pandangan saya sepertinya kita justru sedang (atau bahkan telah) membentuk adat istiadat baru. Semua berubah kembali ketika dihadapkan dengan era informasi.

Entah itu adat istiadat lampau atau adat istiadat modern, bagaimanapun juga, ternyata akan selalu ada konflik di sana. Anehnya, ternyata adat istiadat yang berdasarkan Islam pun ternyata tidak selalu benar. Contohnya, budaya Minangkabau yang sempat dikritik oleh Buya Hamka pada zamannya melalui karya “Tenggelamnya Kapal van der Wijk”.

Bukan, bukan Islam nya yang salah. Dan ini bukan soal salah atau benar. Gw pun bukan sedang membahas ini dari sisi sastra atau ilmiah. Terserah lah. Toh gw hanya menuangkan olah pikir saja.

Yang sedang gw pertanyakan adalah, kenapa meski adat Minang itu (katanya) sudah sedemikian “Islami”, tapi ternyata tak selalu manusiawi?

Mengapa tampaknya hidup tetap nelangsa, beribadah pun banyak yang terpaksa, tampak jauh dari sempurna?

Kenapa budaya Minang meski kental pengaruh Islam-nya, tapi terkesan “menjajah”, menekan dan memaksa? Karena banyak dari adat istiadat masyarakat awalnya memang terbiasa memaksa. Nggak cuma adat Minang, masyarakat Arab Mekah dahulu sebelum datangnya Rasulullah ﷺ kan juga budayanya “menjajah”? Di mana salah satu adatnya adalah kebiasaan membunuh bayi perempuan. Nah kalo di Minang misalnya, dalam konteks yang dikritisi Buya Hamka saat itu adalah perlakuan terkait perbedaan suku dan strata sosial (di antara hal-hal lainnya).

Sekali lagi, bukan salah Islam nya. Kelemahannya lagi-lagi ada di manusianya.

Sebuah pemahaman yang bisa gw maknai dari cuplikan-cuplikan sejarah itu adalah bahwa Islam itu hadir sebagai rangkuman dari kisah perjalanan peradaban manusia selama sekitar 6.000 tahun, sebagai referensi, petunjuk dan pembelajaran dari inti-inti kehidupan.

Kita nggak akan pernah bener-bener sanggup mengalami segala hal yang mungkin terjadi di muka bumi, maka dari itulah kita dikasih referensi, sistem hidup yang di-Ridhoi oleh Allah Yang Maha Menciptakan. Itulah Islam dengan Al-Qur’an sebagai pedomannya.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

(QS. Al Ma’idah: 3)

Di sisi lain, manusia nggak sempurna, dan nggak akan pernah sempurna.

Manusia bukan makhluk yang diciptakan untuk menurut saja. Manusia juga bukan makhluk yang ditetapkan untuk membangkang selamanya.

Mungkin ini sudah sering disebutkan dalam pelajaran agama, tapi ternyata memang tidak mudah memahami tanpa mengalaminya, atau setidaknya benar-benar diberi kesempatan memaknainya.

Keistimewaan manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya adalah akal.

Apa artinya? Manusia adalah satu-satunya makhluk yang punya kemampuan memilih (free will). Dan itulah yang dimaksud akal.

Akal bukan sekedar pikiran. Bukan sekedar intelektual. Akal adalah gabungan dari hati dan pikiran. Emosional dan intelektual. Dan antara keduanya hanya bisa terhubung sempurna dengan spiritual.

Mungkin itulah yang dimaksud “orang-orang yang berpikir” dengan sebenar-benarnya.

Yang mendayagunakan hati dan pikiran untuk menjalankan maksud dan tujuan kehidupan, alasan keberadaan di muka bumi. Bukan sekedar menuruti status sosial, harta, tahta, simbol-simbol dunia. Bukan sekedar meneruskan budaya dan adat istiadat, tapi merenungi asal mula dan maksudnya. Memaknai apa manfaat dan mudharatnya.

Lalu memilih, mana yang paling selaras dengan tujuannya.

Jakarta, 22 April 2019
@nadhilaaz

Author: nadhilaaz

Still trying to figure it out.

Let me know what you think :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.