Yang Paling Dekat

Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan turut berduka cita atas musibah jatuhnya penerbangan Lion Air JT-610 di perairan Karawang, Senin 29 Oktober 2018 lalu. Semoga semua korban ditemukan dalam keadaan sebaik-baiknya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan penenang hati terbaik. Aamiin ya Rabb..

Sejujurnya, bisa dibilang saya termasuk salah satu yang berduka. Setidaknya saya diberikan hikmahNya.

Salah seorang kawan belajar saya di Limitless Campus Lab Batch 2, Vivian Afifa, adalah salah seorang penumpang yang terdaftar di manifest penerbangan JT-610 tersebut.

Sungguh, ketika mendengar kabar tentangnya, saya merasa begitu terkejut. Saya merinding, merasa bahwa memang Allah menunjukkan Kuasa dan Tanda-tanda Nya.

Ketika tulisan ini dibuat, saya baru saja menyimak wawancara di media dengan salah seorang keluarga korban; korban tersebut sempat mengabadikan momen-momen sebelum keberangkatan, termasuk memvideokan boarding pass dan mengirimkan video itu kepada istrinya. Dan sang istri seolah sudah mendapat firasat terkait keberangkatan sang suami, dan sempat meminta sang suami untuk menunda perjalanannya, namun sang suami memutuskan perjalanan tetap perlu dilakukan. Qadarullah, takdir memang sudah ditetapkan, sang suami mengakhiri perjalanan hidupnya pagi itu.

Menyimak kisah mereka.. Saya pun ingin mengabadikan secuplik memori saya bersama Vivian, yang membuat saya merasa mendapat begitu banyak hikmah dari musibah ini. Semoga kawan-kawan yang membaca bisa memetik hikmah-Nya. In syaa Allah.

Februari-Maret 2018

Saya berkenalan dengan Vivian di sebuah platform pengembangan diri bernama Limitless Campus. Kami tergabung dalam suatu program pengembangan diri yang disebut LC Lab yang sudah berjalan dua angkatan, kami adalah bagian dari LC Lab Batch #2. Di sana kami belajar bersama-sama dipandu oleh para mentor dan coach yang ahli di bidangnya, agar kami bisa mengenal potensi diri kami sebenarnya hingga akhirnya kami bisa menghasilkan karya.

Di situlah saya mengenal Vivian, kepribadiannya yang menyenangkan, dan ide-idenya yang menyegarkan. Mungkin interaksi saya dengan Vivian berbeda dengan intensitas interaksi saya dengan beberapa kawan LC lainnya, namun setiap saya berinteraksi dengan Vivian, saya sungguh bisa merasakan passionnya. I can honestly say that she is a brilliant young woman.

Akhir Maret 2018

Saya memasuki masa kelam dan titik balik karier dan hidup saya, yang membuat saya “undur diri” dan “hilang kontak” dengan komunitas Limitless Campus, termasuk Vivian.

Awal Oktober 2018

Saya menemukan hikmahNya dan mulai bangkit. Saya kembali bertemu dengan beberapa orang di komunitas Limitless Campus dalam keadaan berbeda.

Senin, 22 Oktober 2018

Saya kembali memasuki komunitas Limitless Campus, dengan mengikuti kelas Limitless Campus di WeWork Revenue Tower, SCBD. Di sana saya kembali menjalin kontak dengan team LC dan membuat janji untuk bertemu di hari berikutnya.

Selasa, 23 Oktober 2018

Sambil menunggu waktu pertemuan, saya melanjutkan pekerjaan saya di co-working space WeWork. Beberapa waktu berlalu, saya mendengar orang yang akan saya temui mendekat, tetapi tiba-tiba membuka percakapan seru dengan orang lain sehingga saya pun tetap menunggu.

Namun kemudian saya mendengar ia menyebutkan nama saya..

“Eh, ini ada si Dhila juga lho!”

Saya pun menengok dan terkejut melihat wajah yang begitu familiar.

“Eeeh??? Vivian? Kok ada di sini?” Sapa saya dengan sungguh tak menyangka.

“Lhoooo, dari tadi tuh lo duduk di belakang gue?? Yaampun segitu deketnya gak nyadar sama sekali!” Respon Vivian yang tak kalah terkejutnya.

The three of us talked about what’s happening recently. Ternyata Vivian dan tim Limitless Campus bekerja di gedung bahkan working space yang sama, hanya saja belum pernah berpapasan sebelumnya. Kami pun bertukar cerita, saling update kabar; Vivian bercerita tentang pekerjaan dan organisasi tempatnya bergiat saat itu, dan kita pun bertukar kabar seputar Limitless Campus.

It was a pleasant surprise.

Saya tidak begitu ingat apakah sempat mengucapkan kata selamat berpisah ketika kami tak lagi duduk berbelakangan di tempat tadi, karena kami pun kembali pada urusan masing-masing. Namun saya ingat kata-kata terakhir yang saya ucapkan dalam dialog terakhir dengan Vivian.

“Thanks ya, Vi!”

Kata-kata terakhir saya padanya setelah saya merepotkannya untuk membuka akses menuju mushalla.

Dan saya bersyukur, saya sempat menyampaikannya pada Vivian.

Senin, 29 Oktober 2018

Sekitar pukul 07.30 WIB

Pagi itu saya menyalakan televisi dan menyimak berita tentang sebuah pesawat Lion Air yang hilang kontak tak begitu lama setelah lepas landas dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Berita yang sungguh mendebarkan, karena semua pihak yang terlibat masih melacak di mana keberadaan pesawat tersebut.

Sekitar pukul 09.00 WIB

Saya sedang bersiap untuk beranjak dari rumah sambil tetap menyimak Breaking News di televisi.

“Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan dekat Karawang”

Ya Allah.. Innalillahi. Musibah bertubi-tubi menimpa negeri. Ampuni kami ya Allah…

Sekitar pukul 12.30 WIB

Saya mendapat pesan dari team LC yang saya temui dan berpapasan dengan Vivian pekan lalu.

“Vivian korban Lion Air yang jatuh, Nad..”

Allahu akbar…

Saya merinding.

Apakah benar??? Tapi kan baru saja saya ketemu dengannya minggu lalu, setelah sekian lama tanpa berkabar.

Baru saja saya kembali berkabar dengan Vivian, merasakan kembali semangatnya dalam berkarya..

Namun kini dia sudah sedemikian jauhnya?

Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..

Sungguh, kita adalah milik Allah dan sungguh hanya kepadaNya kita kembali.

Saya sama sekali tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan Vivian.

Dan saya sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah pertemuan kami yang terakhir kali.

Sungguh, mungkin perasaan saya dan kondisi saya saat ini bisa jadi berbeda seandainya saya tidak dipertemukan kembali dengan Vivian kala itu.

Sungguh, mungkin ini semua benar adalah bagian dari skenario-Nya.

Sungguh, semua ini sudah menjadi Ketetapan-Nya..

Bahwa yang paling dekat dengan kita sejatinya adalah akhir perjalanan kita.

Kematian. Akhir dari segala perjalanan.

Tak ada yang mampu menduga kapan dan di mana akhir dari perjalanan kita..

Allaahu Rabbii.. segala puji bagi Engkau.
Terima kasih telah engkau hadirkan sosok Vivian dalam hidup kami.
Terima kasih telah Engkau izinkan diri ini untuk menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Terima kasih telah Engkau berikan kesempatan bagi diri ini untuk menyampaikan pesan yang baik di akhir pertemuan dengannya.
Terima kasih telah Engkau berikan hikmah bagi diri yang hina ini untuk belajar dari perjalanan hidup Vivian.
Semoga Engkau akhirkan perjalanan Vivian dan menyambutnya dalam keadaan terbaik…

Allaahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fuanhaa..
Allaahummaa laa tahrimnaa ajrahaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa..

Dear Vivian Afifa, selamat berjalan kembali menuju Rabbmu.
Semoga kita dipertemukan kembali dalam keadaan terbaik di hadapan-Nya.

Aamiin…

Jakarta, 31 Oktober 2018. ©nadhilaaz, seorang kawan dan seorang makhluk yang penuh kealpaan.

Gejolak Rasa

Ketika sedang begitu penuh semangatnya
Belum juga selesai menyampaikan ide namun langsung ditolaknya

Bagaimana rasanya?

Sedih… kah?
Kecewa… kah?

Dan mulailah memicu rasa-rasa lainnya.
Yang membuat seperti tak berdaya.

Mungkin itu yang seringkali menyebabkan kesepian.
Membuatmu terus berjuang sendirian.

Akankah itu membuatmu berhenti di sini?
Mungkin akan terjebak dalam kegelapan itu lagi

Ataukah kau akan belajar mengelola ekspektasi?
Mungkin akan temukan mereka yang setia menemani

Pada waktunya nanti…

Thanks For Saving Me

Mungkin agak terlambat sehari, tapi gue pengen mendedikasikan tulisan ini untuk Hari Kesehatan Mental Dunia, 10 Oktober 2018.

Gue emang bukan lulusan psikologi, apalagi ahli kejiwaan. Gue hanya menuliskan ini berdasarkan pengalaman gue sendiri yang tampaknya juga sempat mengalami ketidakstabilan mental.

Gue sendiri gak yakin sih apakah yang gue alami ketika itu (atau mungkin hingga saat ini?) adalah gangguan kesehatan mental atau bukan, tapi orang lain mungkin menganggap kondisi gue memang kurang wajar atau nggak umum. Gue sendiri pun mengakui sih bahwa keadaan kayak gitu tuh nggak sehat. Tapi gue juga akhirnya belajar bahwa berpatokan pada orang lain tuh justru yang bikin mental jadi nggak stabil. (Ini nanti bisa jadi bahasan panjang tersendiri.)

Anyway, pada akhirnya gue pun menyimpulkan bahwa ternyata kesehatan mental itu memang sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan itu adalah sesuatu yang nggak bisa kita anggap remeh.

Dan ya, di masyarakat kita pun masih lekat stigma negatif seputar kesehatan mental. Ini yang perlu sama-sama kita luruskan.

Continue reading “Thanks For Saving Me”

Ekspektasi

Ketika ada semangat dan tujuan, ada satu bahaya yang akan mengikuti.

Ekspektasi.

Satu hal yang mungkin akan membuat jatuh kembali.

Ketika muncul ekspektasi, ada yang menghadang jika ia tak terpenuhi.

Rasa kecewa. Yang mungkin akan menimbulkan rasa-rasa lainnya, jika tak dikelola dengan semestinya.

Rasa lemah. Rasa tak berdaya. Rasa tak berguna.

Yang mungkin sebenarnya hanya dalam pikiran saja.

Ketika rencana tak berjalan sesuai keinginan, ketika ajakan tak diterima sesuai harapan.

Ketika yang dilakukan ternyata tak relevan dengan tujuan.

Mungkin saja itu akan membuat mundur beraturan.

Entahlah.. akankah kau belajar dari pengalaman?

Skenario Terindah

Sejujurnya gue telah memutuskan untuk berusaha menghindari menulis dengan bahasa campur-campur, tapi gue lagi terlalu capek dan males mikir untuk nulis dalam bahasa Inggris, sedangkan dalam beberapa hal gue merasa perlu mengekspresikannya dalam bahasa Inggris karena kalo pake Bahasa Indonesia tuh kadang jatohnya “rasa” yang dihasilkan berbeda.

So, I hope you don’t mind if I mix in some English sentences once in a while.
If you mind.. ya gak usah baca aja kaleee. :D

Oh dan satu hal lagi, mengingat gue itu kalo cerita suka heboh dan detail banget, ini posting sepertinya bakal cukup panjang. Cuma mau ngasihtau aja sih, daripada sampeyan misuh-misuh karena ceritanya kepanjangan, kalo emang gak terlalu suka baca tulisan panjang, ya gak usah dilanjutin aja bacanya. Hehehe.

Jadi begini..

Sampe sekarang gue masih sering gagal paham sama cara kerja skenarionya Allah. Bener-bener deh, rencana-Nya itu super ajaib. Seringkali sama sekali gak kita prediksi. Kok ya tau-tau aja bisa begitu, di luar kebiasaan, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah kejadian dalam 24 jam yang lalu dari hidup gue.

Continue reading “Skenario Terindah”