It’s My Life

It’s my life
It’s now or never
I ain’t gonna live forever
I just wanna live while I’m alive

It’s my life
My heart is like an open highway
Like Franklin said, “I did it my way”
I just wanna live while I’m alive

Bon Jovi – It’s My Life

Lagu ini masih terus terngiang-ngiang di kepala gue sampe saat ini, tetapi itu nggak bikin gue kesel (seperti mungkin umumnya lagu yang terngiang-ngiang di pikiran), justru bikin gue lebih semangat :)

Ya, baru dalam 4 hari kebelakang ini gue bener-bener mendalami lirik lagu ini, dan meresapi maknanya. Ini hidup gue. Hidup gue adanya sekarang; nanti, besok, lusa, siapa yang tahu? Only Allah knows. Gue punya pilihan untuk menentukan hidup gue. Mau seperti apa? Mau dibawa kemana?

Dan ternyata gue udah pernah menulis tentang pilihan loh di sini. (Baru nyadar, hahaha. Terus sekarang nulis apa dong yah.)

Oh, iya. Kalau gitu sekarang gue nulis tentang kesadaran deh. Bahasa kerennya (eh, Bahasa Inggrisnya ding) sih awareness.

Apa itu awareness? Awareness adalah kesadaran. (Lah, dibolak-balik doang.)

Continue Reading

SKCK Tanpa Surat Pengantar (Jakarta Selatan)

Okeh, kalau Anda berharap ini adalah panduan membuat SKCK yang ditulis dengan rapi dan informatif, mohon maaf Anda tertipu judul (ya terus kenapa juga sih bikin judulnya begitu)

Saya nulis ini based on pengalaman aja, sekalian curcol sih sebenernya, siapa tau bisa membantu memudahkan Anda sekalian para pencari kerja ataupun pemburu beasiswa yang butuh SKCK.. Hope this post can save you the trouble of tetek bengek ngurusin surat pengantar yang huft banget.

Continue Reading

Why Do You Write A Blog?

Oh well, just in time! Because I can see the old habit started kicking in, hahaha. It happened all the time; I’d be on fire and started writing something for the blog again, promising myself -if not the readers- to post regularly again, but then I lost the mood, life happens, etc, and I’d just go on hiatus until I started to write again, and the cycle repeats itself. Apparently it’s quite easy to start, but being consistent is the hardest part. Thanks to Dira, I found this blogging challenge. Hopefully it will stimulate me to write more consistently. Let’s break that evil chain, eh?

So why did I start a blog in the first place?

I guess it started with the Friendster blog back then. I saw some people write blogs, then I guess I thought it’d be a good place to post some of my work. I liked writing poetry back in high school. So I started posting my poems in that Friendster blog. I was also terrible at keeping a journal/diary, and I don’t always have a friend to tell my stories to, so I guess it could be a place for me to share my stories too –ones that are not private business, of course.

So I kept writing about personal experiences, mostly the ones that are out of my ordinary days, just as a way to share my life story with others. A couple years later, after I migrated my blog to WordPress (because Friendster was getting less popular), I started to contemplate more about life and the things around me. And I just thought that maybe I can get people to stop once in a while and think about such things too. Maybe I could affect or inspire people in some way through my writings. I started writing more about things that I think about, and less about daily experiences.

I kept writing (although less frequently, because I only write if I believe it’s worth to think about), because I want to affect people to change. I want to make people think, and change their point of view, change their attitude, and become a better person, do better for others around them. For a better world, eventually.

A wise man once said, “To read is to know the world, to write is to know thyself.”

So that’s it, I guess. I write a blog to inspire, not only people, but also myself. Let all these writings remind me of who I was, who I am, and who I want to become.

Budaya Menghukum dan Menghakimi dalam Sistem Pendidikan Kita

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

Baca lanjutannya..

Galau: An Overrated, Over-abused Word

Rasanya, lama-lama, kata “galau” makin terlalu sering dipake dan disalahgunakan deh.

Dan terkadang, rasanya berlebihan, dan lama-lama bahkan menyebalkan, saking terlalu sering dikatakan. Kadang sesuatu yang sebenernya nggak galau pun jadi terkesan galau karena ada yang berkomentar sesuatu itu galau!

Apa nggak ada istilah lain selain “galau”? Kan banyak pilihan kata lain yang bisa mendeskripsikan suatu ekspresi, misalnya sedih, sendu, haru, pilu, gundah, masygul, atau apalah itu..

Kan nggak harus “galau”?

Sejak kapan kata sifat dalam Bahasa Indonesia menjadi sebegitu sempitnya?

Saya jengah dengan kata galau.

Ya, karena saya sering dibilang galau. Sebenarnya saya juga nggak ngerti kenapa saya dibilang galau. Saya nggak merasa galau, kok.

Saya menulis. Dalam bentuk apa pun itu; posting di blog, Tumblr, kicauan di Twitter, bahkan sampai komentar di wall Facebook, dan semacamnya.. Itu pun menulis, kan?

Menulis itu mengekspresikan diri. Menyalurkan emosi. Dan perlu diketahui, yang namanya emosi itu nggak cuma negatif. Ada juga emosi positif. Dan ada juga campuran antara keduanya.

Menulis itu cuma salah satu cara untuk menyalurkannya, dan menurut saya, ini satu cara yang positif. Bolehlah menulis, asal tahu tempat dan waktunya. Bolehlah menulis, memanfaatkan media yang ada.

Dan faktanya, banyak karya-karya terbaik, tulisan-tulisan terbaik, merupakan ekspresi dari emosi pembuatnya. Entah itu emosi positif, atau emosi negatif, atau kombinasi antara keduanya.

Tapi, haruskah dikatakan “galau”?

Ketika mungkin sang penulis mencoba mengekspresikan rasa yang lain?

Bagi Anda yang sering mengucapkan kata “galau”, apakah Anda tahu apa sebenarnya arti kata “galau” itu sendiri?

ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau

Itulah definisi “galau” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Lalu apakah ketika seseorang merasa sedih, sendu, pilu, ataupun haru.. lantas bisa dikatakan “galau”?

Ketika sebenarnya rasa itu sederhana, tidak kacau, dan tidak beramai-ramai?

Silakan Anda simpulkan sendiri.