Indonesia

Aku ingin hidup normal, katanya

Perlu kau tanya kenapa?

Entah apa yang dirasa normal baginya

Tapi ia pernah berkata

Nama itu terlalu berat dipikulnya

Entah kapan ia terakhir merasa bahagia

Kusangka setelah ia menemukan kawan perjalanannya

Ia akhirnya akan bahagia

Namun ternyata terus begitu sendu hatinya

Entah mengapa

 

Mungkin aku memang bukan siapa-siapa baginya

Mungkin aku tak punya tempat lagi di sana

Tapi sungguh ku hanya ingin yang terbaik baginya

Sungguh ku selalu ingin hadir untuk dirinya

Apa yang bisa kulakukan untuknya?

Ketika ia seperti tak ingin mendengar apapun selain isi pikirannya

Bagaimana aku bisa membantunya?

Ketika ia sepertinya sudah menyerah untuk bahagia?

Jakarta, 11 September 2016.

Advertisements

Matahari

Ku awali hari
Tanpa ekspresi
Kusadari datang hadirmu
Hanya sambil lalu

Ku lalui hari
Tanpa mengindahkanmu
Jika tak mengeluhkan sesuatu tentangmu

Ku akhiri hari
Tanpa mempedulikan
Ada tidaknya hadirmu
Seolah kau akan selalu muncul esok hari

Mengapa tak kubiarkan diriku berpikir
Bahwa peranmu begitu besar
Dan hanya sedikit yang ku mampu sadari manfaatnya

Mengapa tak kubiarkan hatiku merasa
Bahwa tanpamu hidupku hampa
Setengah hari-hariku tiada

Tapi aku punya pilihan
Untuk tetap tidak mengindahkan
Ataukah berusaha untuk menyadarkan

Aku tak mau menyiakan kesempatan
Karena hari esok tak ada yang menjanjikan

Aku memilih untuk melakukan perbaikan
Karena hanya itu yang dapat aku perjuangkan

Untukmu, matahariku..

Bandung, 20 Maret 2016 ©nadhilaaz

Featured image taken from here.

The Life of A Twenty-Something

Being twenty-something (especially early twenties) is hard, man..

Remember that time when you were having a transition from high school into university life? It’s much harder than that. At least, that’s what I think..

Yeah, being twenty-something is hard. Especially when you’re unemployed and unmarried. It’s like..we’re moving to a part of life we’ve never been before; real life. The real, uncovered, unmasked life out there, where we are no longer protected by school gates and textbooks and theories and everything. It’s just plain real world out there. And trust me, your whole point of view will change when you get to this point.

Tau gak, kenapa di momen ketika lo denger kabar bahwa temen lo dilamar, temen lo mau akad nikah, bahkan temen lo bakal ngelahirin anak pertama, ketika lo sendiri bahkan belom ngejalaninnya, seketika lo pasti ngerasa campur aduk antara seneng terharu tapi sekaligus galau? Ya, tentunya pasti seneng lah ya kalo denger kabar temen lo dilamar, mau nikahan, mau lahiran, dll dsb.. But at the same time, you just can’t help but contemplating. Lo mau ga mau jadi mikir tentang hidup lo sendiri. It’s like, wow, they got a big thing happening.. what about me? What have I done with my life?

Yea, like I said.. seketika itu pula lo bisa jadi galau.

At least that’s what I’ve been thinking.

It’s like, they’re the people I went to school with. They’re the people I hang out with (although not necessarily all the time). We basically grew up together, and they’re..engaged! They’re..getting married. Or they even have a child on the way.. And so on.

It makes you think, doesn’t it?

Please do read more..

Mengapa Tidak Kamu Saja?

Bumi duduk menikmati secangkir kopi, berkumpul dengan sahabatnya sedari kecil. Teman bermain sejak belum mengenal sekolah, dulu yang pertama kali Bumi malu-malu memberikan permen gula-gula untuknya di hari pertama masuk TK.

Namanya Bulan. Gadis yang dulu ketika kecilnya sering menangis karena melihat ulat daun. Rambutnya dikepang dua sampai kelas tiga, selanjutnya rambutnya dikuncir tunggal.

“Aku kadang berpikir..”, Bumi mengawali kalimatnya sejak setengah jam menikmati dunia masing-masing meski duduk semeja.

Membaca buku masing-masing.

“Apa yang kamu pikirkan, Bum?”, Bulan menimpali.

“Aku kadang berpikir, sudah 25 tahun aku menghabiskan waktu sendirian, didalamnya ada 10 tahun aku mencari-cari sosok perempuan.”

“Hahahahaaa lantas mengapa?”

Baca kelanjutannya..