The Contradicted Mind

Do you realize why you still suffer?

Because you still care about what others think.

You may say that you don’t, but it’s obvious what you’re doing. You’re hiding. You don’t want anyone to see you because you’re scared of what they might think about you. You still care about how others perceive you. That’s why you keep on pulling yourself away.

Oh, you do that because you don’t want to hurt anyone else? Who are you kidding? You’re not saving anyone, you’re saving yourself, aren’t you? You say that it’s better for people to not know you, because that way, no one else would get hurt by your mistakes, your stupidity, but really, it’s you who’s afraid of getting hurt, isn’t it?

Do you realize why you still feel miserable?

It’s because you still haven’t accepted yourself. Every inch of your being still refuse to believe who you truly are. You reject being yourself. Why? Is it because you don’t want to be wrong?

You’ve been wrong all this time. And you realize you were wrong. But you still won’t admit it. Because you’re afraid to try again, aren’t you? You’re afraid that if you’re wrong again this time, you don’t know what other alternatives there would be.

Or is it because you feel that it’s too late? But you do know that there are people who figured out late as well, don’t you? So why are you so scared? It’s not that late for you. So why are you so afraid?

It’s the former, isn’t it? You’re afraid to believe it because you’re afraid that you’d be wrong again. And you’re afraid to be wrong. Because you’re afraid of what people might say or think about you. And that bothers you a lot.

Do you realize why you’re lonely?

You always think that no one cares, but as soon as someone comes close and ask about you, you push them away. You want to be acknowledged, you want to be appreciated for who you are, but you never show yourself. Did you ever actually showed up?

And now you’re doubting everything. Questioning everything from the very beginning again. You moved two step forward, but then ten steps backward. What on earth are you doing?

You’re thinking of giving up. I know you do. But you’re still here. Which means that there’s at least one thing you still believe in. There’s still one thing that’s keeping you from not doing whatever it is you think of doing.

It’s tiring, isn’t it? Having all those contradictions inside you? Why can’t you just pick a side? Make your choice and be done with it?

Why can’t you just accept it?

Don’t you realize it’s the only way to truly make yourself at ease?

Hidup Itu Dinamis

Judulnya (sok) bijak amat ya. Tenang aja, isinya tetep curhat seperti biasa. #eh

Setelah beberapa waktu hati sama kepala gue error, ga konek bin ga kompak, dengan adanya tulisan ini artinya Alhamdulillah mereka mulai ngobrol lagi. Huft. (Oke keluarin dulu aja keluariiin.)

Eniwei, ada apa sih dengan judul sok bijak gitu?
Nggak apa-apa juga sih, cuma lagi kepikiran aja. Pas banget kayaknya emang dihadirkan pada waktuNya.

Iya, hidup itu dinamis.

You can’t be right all the time.
But you can’t be wrong all the time either.

Di satu waktu kita (merasa) benar.
Tapi di beberapa waktu kemudian kita belum tentu benar.

Atau kalo kata Mark Manson di buku The Art of Not Giving A F*ck, “we’re all wrong”. Kita semua itu salah. Kita cuma berkurang salahnya sedikit demi sedikit seiring perjalanan kita bertumbuh.

Simple, kesannya agak nyeleneh. Tapi oh men, ngena banget sih.

Dan gue, untuk kesekian kalinya, menyadari bahwa gue masih begitu banyak salah mengenai berbagai hal, bahwa gue masih begitu cupu dan bego dalam banyak hal, gue masih sedikit banget ilmu, kemampuan, dan kapasitasnya dalam segala apa yang ada di muka bumi. (Apalagi di langit dan selebihnya…)

Gue mungkin (pernah merasa) benar dalam beberapa hal… tapi tentu saja belum tentu benar dalam banyak hal lainnya.

Gue, kembali berada di persimpangan entah keberapa, dan kembali disadarkan bahwa gue masih belum bener-bener kenal diri sendiri. (Hey, does anyone ever? Seriously.. I’m really asking.)

Tapi kemudian gue juga diingatkan kembali bahwa.. it’s a dynamic process. Menemukan kebenaran, mengenal diri, menemukan tujuan (purpose), dan hal-hal semacam itu bukanlah solusi sekali jadi. Itu butuh proses, dan prosesnya pun nggak linear! Sangat, sangat dinamis. Dan tiap orang pasti prosesnya beda-beda, nggak bisa disamain, nggak bisa dibanding-bandingin. Okelah kita bisa belajar dari pengalaman orang lain (modelling), tapi gimanapun caranya, kita nggak akan bisa copy-paste alias niru plek-plekan.

Orang-orang yang ketemu dan ngobrol deep sama gue 6 bulan terakhir mungkin sempet menyimak gue cerita atau menyebutkan bahwa 3 tahun terakhir ini adalah masa remedial besar-besaran dalam hidup gue. Maksudnya gimana? Yaaa tau kan remedial? Perbaikan. Menuntaskan apa yang belum tuntas. Dan ternyata buanyaaaak banget pelajaran yang belum tuntas dalam hidup gue.

Gile lama juga ya remedial 3 tahun. Terus sekarang udah tuntas? Belum juga!

Ya gimana nggak lama, dan banyak yang belum tuntas? Materi paling dasarnya aja belum tuntas!

Apa materi dasarnya? Yep, you guessed it: KENAL DIRI.

Balik lagi ke kutipan legendaris, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Rabb-nya. Kenal diri adalah koentji.

Tapi lagi-lagi gue juga masih belum menemukan, apa standar ketuntasannya. Soalnya, lagi-lagi tiap manusia itu unik. Nggak bisa disamain, nggak bisa dibanding-bandingin.

Apalagi semakin gue mempelajari tentang esensi menjadi manusia, esensi kehidupan, fitrah, purpose of life, and so on.. gue semakin yakin bahwa jalan hidup manusia itu unik, tiap-tiap manusia itu punya potensi unik, sekaligus dibekali dengan misi dan peran spesifik sesuai keunikan yang sudah dirancang dalam dirinya. Tapi masalahnya adalah.. banyak dari kita yang nggak memahami itu.

Boro-boro paham, nyadar pun enggak.

Mendapat kesadaran itu enggak mudah. Kesadaran (awareness) aja ada berlapis-lapis levelnya. (Coba deh belajar tentang Neuro-Logical Level. Seru banget.) Udah sadar pun, menemukan, memahami, dan menjalaninya juga enggak mudah. Tapi.. kenyamanan, kenikmatan, dan ketenangan yang didapatkan tentu berbeda.

Dan semua itu dimulai dari kenal diri. Sebagaimana nasehat yang entah dari zaman kapan selalu ada sampe dianggap klise:

“Be yourself”.

Simple. On point.
Tapi tidak semudah itu Fergusooo.

Yah kalo mudah ngapain kita semua ada di bumi yekaaan. Kalo mau gampang ongkang-ongkang kaki mah tempatnya di surga. Tapi di sini kan tempatnya berjuang ya Esmeraldah. (Mumpung lagi ga konslet bisa nulis begini Alhamdulillah. Walo rasanya pengen selftoyor berkali-kali sampe nembus tembok.)

Jadi seputar kenal diri ini.. apa standar ketuntasannya? Gimana taunya udah beneran tuntas apa belum?

Gue masih belum tahu.
Gue nggak tahu apakah gue akan pernah tahu.

Apa mungkin nggak pernah ada yang sepenuhnya tahu.
Apa mungkin… ketuntasan itu kembali ke makna tuntas itu sendiri.

Tuntas itu artinya selesai.
Selesai dengan diri artinya selesai menjalankan misi.
Selesai menjalankan misi artinya selesai dengan kehidupan di dunia ini.

Kalau memang demikian… mungkin standar ketuntasan sebenarnya adalah ketika kita mati?

الله اعلم

“Bagi Orang-Orang Yang Berpikir”

Berapa kali frase itu diulang di Al-Qur’an? Jelas nggak cuma disebutkan sekali saja.

“..bagi kaum yang berpikir.”
“..bagi orang-orang yang berakal.”
“..agar mereka mengambil pelajaran.”
dan frase sejenisnya.

Sebagai orang yang merasa sulit sekali untuk berhenti berpikir (bahkan sering sampe overthinking), hal ini nggak cuma sekali juga terlintas di kepala gw. Entah akhirnya salah atau benar, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Pertama-tama, sedikit latar belakang. Berhubung isi pikiran gw cepet banget lompat-lompatnya, tulisan ini mungkin akan sulit dicerna kalo tanpa penjelasan di beberapa bagian.

Entahlah, mungkin memang bagian dari ketetapan-Nya, mungkin bagian dari proses yang dihadirkan-Nya.. gw masih saja mempertanyakan maksud dan tujuan. Alasan keberadaan. Makna kehidupan.

Atau mungkin.. memang pertanyaan itu sebetulnya tak akan selesai dipertanyakan?

Continue reading ““Bagi Orang-Orang Yang Berpikir””

The Art of Enjoying Life

Sorry, this is also not a book review.

..walaupun judul itu memang terinspirasi dari buku yang berkaitan, tapi mohon dimaklumi, tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk memberikan resensi atau review tentang buku tersebut. (Karena saya sendiri juga belum baca, hahahaha.)

Qadarullah, saya malah berkesempatan berguru sama penulisnya langsung sebelum baca bukunya. Asik kan? :)

Anggep aja asik lah ya.

Anyway, since we all like stories (well at least I do), here’s a little background story..

Continue reading “The Art of Enjoying Life”