Mengapa Tidak Kamu Saja?

Bumi duduk menikmati secangkir kopi, berkumpul dengan sahabatnya sedari kecil. Teman bermain sejak belum mengenal sekolah, dulu yang pertama kali Bumi malu-malu memberikan permen gula-gula untuknya di hari pertama masuk TK.

Namanya Bulan. Gadis yang dulu ketika kecilnya sering menangis karena melihat ulat daun. Rambutnya dikepang dua sampai kelas tiga, selanjutnya rambutnya dikuncir tunggal.

“Aku kadang berpikir..”, Bumi mengawali kalimatnya sejak setengah jam menikmati dunia masing-masing meski duduk semeja.

Membaca buku masing-masing.

“Apa yang kamu pikirkan, Bum?”, Bulan menimpali.

“Aku kadang berpikir, sudah 25 tahun aku menghabiskan waktu sendirian, didalamnya ada 10 tahun aku mencari-cari sosok perempuan.”

“Hahahahaaa lantas mengapa?”

Baca kelanjutannya..

Aku Mencintaimu, Kamu Tidak Perlu Tahu

Itulah cerita tentang Bumi, laki-laki seusia kita yang sedang diam-diam menyukai adik kelasnya. Namanya Mentari.

Hampir setiap hari Bumi mencuri pandang kepada Mentari, tapi namanya saja Mentari, setiap kali berusaha melihatnya, Bumi cepat-cepat menunduk, silau. Bumi selalu merasakan kehadirannya, merasakan kehilangannya ketika malam tiba.

Resah sekali laki-laki ini. Setiap hari tak pernah terlewatkan hatinya menyebut nama Mentari dan selalu lebih dari sekali, minimal 5 kali sehari. Aku yang mengenal Bumi, pernah menasihatinya, mengapa ia tak mengungkapkannya saja kepada Mentari, Bumi menolak mentah-mentah.

“Kau tau kawan, seandainya aku mengungkapkannya, akan ada banyak hal yang hancur.”

Aku tidak mengerti, apanya yang hancur.

Baca kelanjutannya..