It’s My Life

It’s my life
It’s now or never
I ain’t gonna live forever
I just wanna live while I’m alive

It’s my life
My heart is like an open highway
Like Franklin said, “I did it my way”
I just wanna live while I’m alive

Bon Jovi – It’s My Life

Lagu ini masih terus terngiang-ngiang di kepala gue sampe saat ini, tetapi itu nggak bikin gue kesel (seperti mungkin umumnya lagu yang terngiang-ngiang di pikiran), justru bikin gue lebih semangat :)

Ya, baru dalam 4 hari kebelakang ini gue bener-bener mendalami lirik lagu ini, dan meresapi maknanya. Ini hidup gue. Hidup gue adanya sekarang; nanti, besok, lusa, siapa yang tahu? Only Allah knows. Gue punya pilihan untuk menentukan hidup gue. Mau seperti apa? Mau dibawa kemana?

Dan ternyata gue udah pernah menulis tentang pilihan loh di sini. (Baru nyadar, hahaha. Terus sekarang nulis apa dong yah.)

Oh, iya. Kalau gitu sekarang gue nulis tentang kesadaran deh. Bahasa kerennya (eh, Bahasa Inggrisnya ding) sih awareness.

Apa itu awareness? Awareness adalah kesadaran. (Lah, dibolak-balik doang.)

Continue Reading

Ultimate You

Bukan, ini gue bukan mau mengulas bukunya Rene Suhardono. Tapi in syaa Allah intinya serupa. Sebelum itu, coba dengerin dulu lagu di bawah ini sambil liat mbake Lindsay Lohan main gitar solo (entah beneran apa ala-ala).

 

You’re the kind of friend who always bends when I’m broken
Like remember when
You took my heart and put it back together again?

I’ve been wasting time with clueless guys
But now it’s over
Let me tell you why I’m through
I’ve met someone new who’s just like you

You’re it, you’re the ultimate
It’s automatic, I’m sure of it
No lie
So don’t even try to tell me that you’re not the guy
‘Cause I’ve been waiting all my life
For someone just like you
But you’re it, you’re the ultimate you

You’re the kind of guy whose hands and mind
Send shivers up and down my spine
I want to do to you what you do to me

You’re the kind of guy that blows my mind
But now it’s my turn
You’ve been right in front of me
Everything I need, why didn’t I see?

You’re it, you’re the ultimate
It’s automatic, I’m sure of it
No lie
So don’t even try to tell me that you’re not the guy
‘Cause I’ve been waiting all my life
For someone just like you
But you’re it, you’re the ultimate you

Lindsay Lohan – Ultimate

Continue Reading

Semangat Baruku

Sunday is over
We are all going home
No reason to stay here
But no one has made a move

We know that for sure
Nothing lasts forever
But we have too many things
Gone too fast

Let’s make a wish, easy one
That you are not the only one
And someone’s there next to you holding your hand

Make a wish, you’ll be fine
Nothing’s gonna let you down
Someone’s there next to you holding you now

Make a wish, easy one
You are not the only one
Someone’s there next to you holding your hand

Make a wish, you’ll be fine
Nothing’s gonna let you down
Someone’s there next to you holding you now
Along the paths you walk

ELLEGARDEN – Make A Wish

Ya, lagu itulah yang sangat pas mengiringi perpisahan kami di Villa Merah, 20 Maret 2016 kemarin. Seluruh rangkaian acara telah selesai, tapi kami tak kunjung beranjak pergi. Seolah jiwa-jiwa kami belum ingin berpisah. Padahal, kami belum pernah bertemu sebelumnya. Kami “hanya” bertemu selama 4 hari, namun ternyata, momen itu mengubah hidup-hidup kami.

Atau setidaknya, mengubah hidup gue.

Kalo biasanya gue bikin postingan panjang-panjang banget, kali ini gue speechless.

Mereka semua orang hebat.

Mereka semua keren.

Mereka semua tadinya orang-orang yang sama sekali asing.

Tapi kemudian mereka semua mengubah gue.

Mereka semua jadi keluarga baru gue.

Mereka semua semangat baru gue.

Gue belajar banyak dari mereka, dan ternyata mereka pun belajar dari gue. Mereka semua membuat gue menjadi orang yang lebih baik, dengan atau tanpa mereka sadari. Mereka bersedia mendengar gue, mendukung gue, menyampaikan apa adanya pada gue, mengamini mimpi-mimpi gue. Pun gue untuk mereka. Mereka bahkan lebih dulu percaya sama gue daripada gue percaya sama diri gue sendiri.

(((LUAR BIASA)))

Terlalu banyak hal yang bisa gue ekspresikan buat mereka. Terlalu besar rasa terima kasih gue untuk mereka.

Tapi kemudian gue kembali ke dunia nyata.

Ada saat-saat dimana gue kembali merasa kesepian. Sendirian.

Dan dunia luar itu begitu keras.

Emosi negatif begitu mudah menghampiri.

Begitu mudah kembali meracuni hati ini.

Dunia nyata terasa jauh lebih kejam ketika sendirian.

Tapi aku adalah aku.

Aku yang kalian percaya.

Aku yang kalian berikan hati kalian sepenuhnya.

Aku yang bisa memilih, apakah aku akan larut dalam kesepian

Ataukah aku akan menjaga dengan baik hati yang kalian titipkan.

Dan aku pun terbangun dengan pesan-pesan kalian.

Aku terbangun dengan semangat baru

Aku kembali terbangun dengan kesadaran.

Ternyata kalian masih bersedia mengingatkan.

Terima kasih, SIAware 25. Terima kasih, keluarga besar SIAware.

Akan kujaga hati yang kalian berikan.

I love you.

I give all my heart to you.

 IMG-20160321-WA0010-1-1

Jakarta, 22 Maret 2016. ©nadhilaaz

Sahabat: Tentang Menerima dan Demi Allah Saja

Secara psikologis, manusia selalu mencari “keluarga”. Ini dapat kita lihat dari kecenderungan mereka, insan dunia, menemukan orang-orang yang cocok dengan hati dan karakter dirinya. Dapat mengisi lubang dalam jiwa. Mau menemani dan berbahagia bersama. Kita makhluk sosial, itu kesimpulan yang membuka semua sangka. Dan pura-pura. Untuk mendalami dan mengkritisi perilaku kita. Yang ternyata: amat rapuh dan mencari sandaran untuk sesuatu yang mendesak dalam ingin. Yang terselubung bersama pikir dan asa. Fajar dan senja. Di pagi dan malam-malamnya.

Dorongan ini membuat manusia berbondong, diam, dan terang, mencari kawan. Sahabat. Saudara. Apalah namanya. Berjuang dan kadang sedih juga. Ikhtiar, tapi kadang kecewa pula. Lamat-lamat berpikir, adakah sosok-sosok yang diperuntukkan untuk kita? Benarkah Allah menciptakannya—atau Dia menakdirkan hidup kita dalam sunyi belaka?

Mungkin, sedari awal, kitalah yang kurang peka. Atau, tidak paham konsep syukur dan ilmu-Nya. Tidak menghargai apa yang ada di sekitar kita. Orang-orang itu, mereka, dikirimkan Allah untuk kita. Ya, mereka punya kekurangan. Namun, jika mereka adalah orang yang membantumu untuk bertakwa, karunia apa lagi yang engkau pinta?

Saudara, dalam arti sebenarnya, adalah mereka yang mendekatkanmu. Mengingatkanmu. Menjagamu. Bukan dalam pengertian emosional, sebab Allah jauh lebih besar dari sekadar tujuan dangkal kemanusiaan.

Ada rasa bahagia punya saudara. Ada rasa bahagia punya teman-teman yang peduli pada kebaikan. Dan kebahagiaan itu tidak memperosokkanmu pada kejahatan dan kebatilan. Maka, baarakallaahulakaBaarakallaahulaka. Ditambah, ditambah, berkah hidup dan cinta.

Karenanya, jika engkau hendak berharap, janganlah meminta sahabat yang sempurna. Mintalah saja kelapangan dada untuk menerima kekurangan sahabatmu dengan sempurna. Mintalah sahabat yang mau dan sepakat denganmu: kita, bersaudara, lillaahi ta’aala.

_____

Ditulis oleh Asa Mulchias.
Sumber: http://blog.proumedia.co.id/sahabat-tentang-menerima-dan-demi-allah-saja/