Skenario Terindah

Sejujurnya gue telah memutuskan untuk berusaha menghindari menulis dengan bahasa campur-campur, tapi gue lagi terlalu capek dan males mikir untuk nulis dalam bahasa Inggris, sedangkan dalam beberapa hal gue merasa perlu mengekspresikannya dalam bahasa Inggris karena kalo pake Bahasa Indonesia tuh kadang jatohnya “rasa” yang dihasilkan berbeda.

So, I hope you don’t mind if I mix in some English sentences once in a while.
If you mind.. ya gak usah baca aja kaleee. :D

Oh dan satu hal lagi, mengingat gue itu kalo cerita suka heboh dan detail banget, ini posting sepertinya bakal cukup panjang. Cuma mau ngasihtau aja sih, daripada sampeyan misuh-misuh karena ceritanya kepanjangan, kalo emang gak terlalu suka baca tulisan panjang, ya gak usah dilanjutin aja bacanya. Hehehe.

Jadi begini..

Sampe sekarang gue masih sering gagal paham sama cara kerja skenarionya Allah. Bener-bener deh, rencana-Nya itu super ajaib. Seringkali sama sekali gak kita prediksi. Kok ya tau-tau aja bisa begitu, di luar kebiasaan, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah kejadian dalam 24 jam yang lalu dari hidup gue.

Continue reading “Skenario Terindah”

Meeting Your 10-Years-Old Self: Evaluation on Life

A few weeks ago, I saw this #komik10tahun on Instagram and it sort of went viral among comic artists. There were many inspiring stories of how they imagine themselves meeting their 10-years-old self.

These stories inspired me to do an activity with my students.
I shared with my students about how most people actually “plan their lives” when they’re 10 years old. Not in high school. Not in college. Your real dreams and ambitions are created when you’re 10 years old.

It’s a prime age where dreams and imaginations start to meet the real world.

Continue reading “Meeting Your 10-Years-Old Self: Evaluation on Life”

Matahari

Ku awali hari
Tanpa ekspresi
Kusadari datang hadirmu
Hanya sambil lalu

Ku lalui hari
Tanpa mengindahkanmu
Jika tak mengeluhkan sesuatu tentangmu

Ku akhiri hari
Tanpa mempedulikan
Ada tidaknya hadirmu
Seolah kau akan selalu muncul esok hari

Mengapa tak kubiarkan diriku berpikir
Bahwa peranmu begitu besar
Dan hanya sedikit yang ku mampu sadari manfaatnya

Mengapa tak kubiarkan hatiku merasa
Bahwa tanpamu hidupku hampa
Setengah hari-hariku tiada

Tapi aku punya pilihan
Untuk tetap tidak mengindahkan
Ataukah berusaha untuk menyadarkan

Aku tak mau menyiakan kesempatan
Karena hari esok tak ada yang menjanjikan

Aku memilih untuk melakukan perbaikan
Karena hanya itu yang dapat aku perjuangkan

Untukmu, matahariku..

Bandung, 20 Maret 2016 ©nadhilaaz

Featured image taken from here.