Ibadah Karena Butuh, Atau Menggugurkan Kewajiban?

Nyadar nggak, di dunia digital zaman sekarang, isi pikiran kita sibuk banget?

Dikit-dikit terdistraksi, apalagi dengan adanya berbagai notifikasi di smartphone, entah notifikasi sosmed, group chat, bahkan promo ojek online dan e-commerce ;)

Rentang fokus kita sebagai manusia modern yang hidup di zaman serba digital, jadi semakin pendek.

Mungkin karena sekarang ini segala informasi tersedia di sekitar kita, kita jadi nggak merasa terlalu butuh menyimpan informasi.

Sederhananya, karena rentang fokusnya pendek, kita jadi mudah lupa.

Apalagi sekarang zamannya remote-working dan remote-learning. Nggak lagi mesti dibatasi jam masuk dan pulang kantor atau sekolah. Kerja dan belajar bisa di mana saja.

Nah di situlah ternyata manusia memang butuh hal-hal yang bersifat ritual. Entah ritual sesederhana memulai sesuatu dengan doa, dan mengakhirinya juga dengan doa.

Ini pengalaman nyata saya, ketika berkumpul di sebuah forum diskusi santai, ketika belum ditutup dengan “ritual penutupan” dengan membaca hamdalah, istighfar dan doa penutup majlis, semua tak kunjung beranjak dari tempatnya. Padahal kita sudah sama-sama bersepakat untuk menutup diskusi utama, tapi kenapa nggak bubar juga? Barulah ketika “ritual” dilakukan, semua segera beranjak dari tempat duduknya.

Jadi, secara fitrah, manusia memang butuh acuan. Butuh “patokan”.

Inilah esensi dari ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang diatur tata caranya. Karena jika tanpa patokan itu, manusia mungkin akan beraktivitas tanpa jeda. Sibuk sepanjang siang dan malam dengan urusannya sendiri.

Karena itu, Allah perintahkan kita untuk shalat, yang mencegah dari perbuatan keji dan munkar, termasuk mencegah dari berbuat munkar kepada diri kita sendiri. Kepada fisik dan jiwa kita sendiri.

Karena itu pula, ada sebuah perkataan Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dalam hadits Abu Daud dan Ahmad, yang mungkin cukup familiar. Beliau berkata kepada Bilal sebagai muadzin yang diandalkan Rasulullah ﷺ untuk mengumandangkan adzan pada masa itu, “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.”

Ya, ketika seorang hamba menjalani misi keberadaannya di muka bumi, ia akan sangat sibuk sekali. Ia akan sibuk menyebarluaskan kebaikan, demi tugas utama sebagai khalifah fil ardh. Karena itulah ia akan butuh jeda, butuh beristirahat. Itulah waktu-waktu shalat.

Waktu-waktu penting yang menjadi acuan, menjadi patokan di keseharian kita, agar kita berhenti sejenak dari apapun yang menyita tenaga, hati dan pikiran.

Berhenti sejenak dari segala kesibukan yang menyebabkan kita kelelahan.

Berhenti sejenak, untuk menarik nafas, untuk mengingat kembali, “kenapa saya mau berlelah-lelah untuk ini?”

Juga waktu-waktu penting untuk memulai dan mengawali hari. Menandai kapan waktu terbaik untuk memulai dan mengakhiri hari.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” – QS. Ar-Rum [30] : 23

Jadi.. sudah kah kita memaknai shalat sebagai ritual yang “nikmat” dan dibutuhkan? Atau masih sekedar menggugurkan kewajiban?

Jika shalat masih terasa berat, mungkin kesibukan kita yang masih belum cukup berat.
Karena jika segala hal di dunia ini masih terasa begitu nikmat, berarti di sanalah hati kita masih melekat.

_____

Jakarta, 5 Mei 2019 (malam 1 Ramadhan 1440 H)
Nadhila Andanis Zafhira (@nadhilaaz)

Skenario Terindah

Sejujurnya gue telah memutuskan untuk berusaha menghindari menulis dengan bahasa campur-campur, tapi gue lagi terlalu capek dan males mikir untuk nulis dalam bahasa Inggris, sedangkan dalam beberapa hal gue merasa perlu mengekspresikannya dalam bahasa Inggris karena kalo pake Bahasa Indonesia tuh kadang jatohnya “rasa” yang dihasilkan berbeda.

So, I hope you don’t mind if I mix in some English sentences once in a while.
If you mind.. ya gak usah baca aja kaleee. :D

Oh dan satu hal lagi, mengingat gue itu kalo cerita suka heboh dan detail banget, ini posting sepertinya bakal cukup panjang. Cuma mau ngasihtau aja sih, daripada sampeyan misuh-misuh karena ceritanya kepanjangan, kalo emang gak terlalu suka baca tulisan panjang, ya gak usah dilanjutin aja bacanya. Hehehe.

Jadi begini..

Sampe sekarang gue masih sering gagal paham sama cara kerja skenarionya Allah. Bener-bener deh, rencana-Nya itu super ajaib. Seringkali sama sekali gak kita prediksi. Kok ya tau-tau aja bisa begitu, di luar kebiasaan, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah kejadian dalam 24 jam yang lalu dari hidup gue.

Continue reading “Skenario Terindah”

Sahabat: Tentang Menerima dan Demi Allah Saja

Secara psikologis, manusia selalu mencari “keluarga”. Ini dapat kita lihat dari kecenderungan mereka, insan dunia, menemukan orang-orang yang cocok dengan hati dan karakter dirinya. Dapat mengisi lubang dalam jiwa. Mau menemani dan berbahagia bersama. Kita makhluk sosial, itu kesimpulan yang membuka semua sangka. Dan pura-pura. Untuk mendalami dan mengkritisi perilaku kita. Yang ternyata: amat rapuh dan mencari sandaran untuk sesuatu yang mendesak dalam ingin. Yang terselubung bersama pikir dan asa. Fajar dan senja. Di pagi dan malam-malamnya.

Dorongan ini membuat manusia berbondong, diam, dan terang, mencari kawan. Sahabat. Saudara. Apalah namanya. Berjuang dan kadang sedih juga. Ikhtiar, tapi kadang kecewa pula. Lamat-lamat berpikir, adakah sosok-sosok yang diperuntukkan untuk kita? Benarkah Allah menciptakannya—atau Dia menakdirkan hidup kita dalam sunyi belaka?

Mungkin, sedari awal, kitalah yang kurang peka. Atau, tidak paham konsep syukur dan ilmu-Nya. Tidak menghargai apa yang ada di sekitar kita. Orang-orang itu, mereka, dikirimkan Allah untuk kita. Ya, mereka punya kekurangan. Namun, jika mereka adalah orang yang membantumu untuk bertakwa, karunia apa lagi yang engkau pinta?

Saudara, dalam arti sebenarnya, adalah mereka yang mendekatkanmu. Mengingatkanmu. Menjagamu. Bukan dalam pengertian emosional, sebab Allah jauh lebih besar dari sekadar tujuan dangkal kemanusiaan.

Ada rasa bahagia punya saudara. Ada rasa bahagia punya teman-teman yang peduli pada kebaikan. Dan kebahagiaan itu tidak memperosokkanmu pada kejahatan dan kebatilan. Maka, baarakallaahulakaBaarakallaahulaka. Ditambah, ditambah, berkah hidup dan cinta.

Karenanya, jika engkau hendak berharap, janganlah meminta sahabat yang sempurna. Mintalah saja kelapangan dada untuk menerima kekurangan sahabatmu dengan sempurna. Mintalah sahabat yang mau dan sepakat denganmu: kita, bersaudara, lillaahi ta’aala.

_____

Ditulis oleh Asa Mulchias.
Sumber: http://blog.proumedia.co.id/sahabat-tentang-menerima-dan-demi-allah-saja/

	

Pernah Ada Masa-masa

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
Kita lekat bagai api dan kayu
Bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
Hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
Tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
Kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
Merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
Namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
Mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
Bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
Saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis, lembut, dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

________

“…Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah lah yang telah menyatupadukan mereka…”
[QS. Al-Anfaal: 63]

________

dikutip dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah", karya Salim A. Fillah.

Berkatalah Yang Baik Atau Diam

Hello readers! (Berasa banyak yang baca)

Iya, akhirnya saya muncul lagi. Iya, kemaren-kemaren saya ngilang lagi. Iya, blog ini sekian lama terlantar lagi.

Nggak cuma dari blog ini sih, beberapa waktu ini sejujurnya gue emang ngilang dari mana-mana, hahaha. Istilah kerennya MIA (Missing In Action). *Emangnya gue abis beraksi ngapain gitu?

Anyways, akhir-akhir ini gue emang ga punya sesuatu buat ditulis sih. Eh nggak deng, sesuatu buat ditulis sih sebenernya selalu ada.. cuma gak ada sesuatu yang baik buat ditulis.

Entah sejak kapan gue jadi bener-bener berusaha buat mempraktikkan salah satu Hadits, yang bunyinya begini:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terus?