Surviving (Near-)Depression and Building Something Meaningful

I’m baaaack! (Yeah, well, you know the drill. As usual, I’m such a seasonal blogger.)

The last few months hasn’t been great for me actually. I almost fell into depression, if not actually depressed. And the last post about a place I belong? Boy how I was so wrong. Sekolah Alam is only great from the outside, but inside, it’s just as conventional as the school next door. At least that’s what I can say, based on my own experience. Not to belittle other Sekolah Alam, though.

Anyway, so now I’ve left the job at Sekolah Alam. I’m not proud of how I did, but I’m kinda glad I made the decision. I did went through terrible time after I resigned, I was in a very low point in the last few months, as if I didn’t know how to live anymore (yes, it was that bad)..but somehow I was able to pull myself back up. All praise to Allah, Alhamdulillah. And I finally figured out what I’m meant to do, or at least, what I really aspire to do.

Currently I’m back teaching as a freelance, looking for a suitable teaching job in alternative schools, and building networks in education. Last month I went to #PestaPendidikan in Bandung, and also joined Fitrah Based Education workshop. They were very insightful. I realized that what I enjoy the most is learning, and I’m always excited to learn, be it through seminars and workshop, or through interacting with people. I like talking about and spreading ideas, and get very excited when the people I talk to share the similar ideas.

Now I’m very excited to build @sekolahparenting, as a fitrah based education community. (Please do join! Any parents, parents to-be, educators or anyone who wants to learn and share about parenting are very welcomed.) Later when the community is solid, I think it’ll be much easier to build and develop a fitrah based school together. I’m very optimistic on this. Bismillah, I hope Allah Gives blessing on this plan.

It’s still a long way to go, but I think it’s gonna be an interesting journey.. Let’s collaborate! :)

Advertisements

Sahabat: Tentang Menerima dan Demi Allah Saja

Secara psikologis, manusia selalu mencari “keluarga”. Ini dapat kita lihat dari kecenderungan mereka, insan dunia, menemukan orang-orang yang cocok dengan hati dan karakter dirinya. Dapat mengisi lubang dalam jiwa. Mau menemani dan berbahagia bersama. Kita makhluk sosial, itu kesimpulan yang membuka semua sangka. Dan pura-pura. Untuk mendalami dan mengkritisi perilaku kita. Yang ternyata: amat rapuh dan mencari sandaran untuk sesuatu yang mendesak dalam ingin. Yang terselubung bersama pikir dan asa. Fajar dan senja. Di pagi dan malam-malamnya.

Dorongan ini membuat manusia berbondong, diam, dan terang, mencari kawan. Sahabat. Saudara. Apalah namanya. Berjuang dan kadang sedih juga. Ikhtiar, tapi kadang kecewa pula. Lamat-lamat berpikir, adakah sosok-sosok yang diperuntukkan untuk kita? Benarkah Allah menciptakannya—atau Dia menakdirkan hidup kita dalam sunyi belaka?

Mungkin, sedari awal, kitalah yang kurang peka. Atau, tidak paham konsep syukur dan ilmu-Nya. Tidak menghargai apa yang ada di sekitar kita. Orang-orang itu, mereka, dikirimkan Allah untuk kita. Ya, mereka punya kekurangan. Namun, jika mereka adalah orang yang membantumu untuk bertakwa, karunia apa lagi yang engkau pinta?

Saudara, dalam arti sebenarnya, adalah mereka yang mendekatkanmu. Mengingatkanmu. Menjagamu. Bukan dalam pengertian emosional, sebab Allah jauh lebih besar dari sekadar tujuan dangkal kemanusiaan.

Ada rasa bahagia punya saudara. Ada rasa bahagia punya teman-teman yang peduli pada kebaikan. Dan kebahagiaan itu tidak memperosokkanmu pada kejahatan dan kebatilan. Maka, baarakallaahulakaBaarakallaahulaka. Ditambah, ditambah, berkah hidup dan cinta.

Karenanya, jika engkau hendak berharap, janganlah meminta sahabat yang sempurna. Mintalah saja kelapangan dada untuk menerima kekurangan sahabatmu dengan sempurna. Mintalah sahabat yang mau dan sepakat denganmu: kita, bersaudara, lillaahi ta’aala.

_____

Ditulis oleh Asa Mulchias.
Sumber: http://blog.proumedia.co.id/sahabat-tentang-menerima-dan-demi-allah-saja/

			

Pernah Ada Masa-masa

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
Kita lekat bagai api dan kayu
Bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
Hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
Tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
Kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
Merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
Namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
Mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
Bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
Saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis, lembut, dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

________

“…Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah lah yang telah menyatupadukan mereka…”
[QS. Al-Anfaal: 63]

________

dikutip dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah", karya Salim A. Fillah.

Berkatalah Yang Baik Atau Diam

Hello readers! (Berasa banyak yang baca)

Iya, akhirnya saya muncul lagi. Iya, kemaren-kemaren saya ngilang lagi. Iya, blog ini sekian lama terlantar lagi.

Nggak cuma dari blog ini sih, beberapa waktu ini sejujurnya gue emang ngilang dari mana-mana, hahaha. Istilah kerennya MIA (Missing In Action). *Emangnya gue abis beraksi ngapain gitu?

Anyways, akhir-akhir ini gue emang ga punya sesuatu buat ditulis sih. Eh nggak deng, sesuatu buat ditulis sih sebenernya selalu ada.. cuma gak ada sesuatu yang baik buat ditulis.

Entah sejak kapan gue jadi bener-bener berusaha buat mempraktikkan salah satu Hadits, yang bunyinya begini:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terus?

Save Gaza, Save Humanity

My post for today is a tribute to all the people in Gaza. This isn’t about religion. This isn’t about race. This is about humanity. Please do read and let’s do everything we can do to help Gaza.

The picture below shows a Palestinian orphan sleeping beside his mother drawing. The kid misses his mother who became victim of Israel attack on Palestine.

This phenomenon depicts one of humanitarian impacts from Israel attack to Gaza. For decades, Israel has attacked Palestinians, especially those living in Gaza, causing death for thousand people anywhere in Gaza Strip. The exact amout of victims in Gaza is not clear as it keeps increasing. However, much more important than number, the impact of those tragedy for humanity is uncountable. A death of human being due to the attack could mean an abuse against right to life for him and losing everithing for others.

People around the world has condemning this tragedy and put it as humanitarian issue rather than religious affair. Obviously, this is considered as one of the biggest crimes against humanitarian after World War II. However, political leaders who have authority to stop this attack seems not showing any willingness to solve the tragedy. Protests by people around the world have yet to end up to responding polices, in fact the keys for problem solving are laid in their hands.

This petition insist world political leaders, among others, Benjamin Netayahu (Israel Prime Minister), Barrack Obama (President of United States) and Ban Ki Moon (UN Secretary General) on stopping Israel attack to Gaza Street. Those leaders are holding key authority to stop the attack by their policies or actions.

Support this petition for stopping Israel attack to Gaza!

Petition for Gaza: http://bit.ly/savegaza

– – –

Continue Reading