Hidup Itu Dinamis

Judulnya (sok) bijak amat ya. Tenang aja, isinya tetep curhat seperti biasa. #eh

Setelah beberapa waktu hati sama kepala gue error, ga konek bin ga kompak, dengan adanya tulisan ini artinya Alhamdulillah mereka mulai ngobrol lagi. Huft. (Oke keluarin dulu aja keluariiin.)

Eniwei, ada apa sih dengan judul sok bijak gitu?
Nggak apa-apa juga sih, cuma lagi kepikiran aja. Pas banget kayaknya emang dihadirkan pada waktuNya.

Iya, hidup itu dinamis.

You can’t be right all the time.
But you can’t be wrong all the time either.

Di satu waktu kita (merasa) benar.
Tapi di beberapa waktu kemudian kita belum tentu benar.

Atau kalo kata Mark Manson di buku The Art of Not Giving A F*ck, “we’re all wrong”. Kita semua itu salah. Kita cuma berkurang salahnya sedikit demi sedikit seiring perjalanan kita bertumbuh.

Simple, kesannya agak nyeleneh. Tapi oh men, ngena banget sih.

Dan gue, untuk kesekian kalinya, menyadari bahwa gue masih begitu banyak salah mengenai berbagai hal, bahwa gue masih begitu cupu dan bego dalam banyak hal, gue masih sedikit banget ilmu, kemampuan, dan kapasitasnya dalam segala apa yang ada di muka bumi. (Apalagi di langit dan selebihnya…)

Gue mungkin (pernah merasa) benar dalam beberapa hal… tapi tentu saja belum tentu benar dalam banyak hal lainnya.

Gue, kembali berada di persimpangan entah keberapa, dan kembali disadarkan bahwa gue masih belum bener-bener kenal diri sendiri. (Hey, does anyone ever? Seriously.. I’m really asking.)

Tapi kemudian gue juga diingatkan kembali bahwa.. it’s a dynamic process. Menemukan kebenaran, mengenal diri, menemukan tujuan (purpose), dan hal-hal semacam itu bukanlah solusi sekali jadi. Itu butuh proses, dan prosesnya pun nggak linear! Sangat, sangat dinamis. Dan tiap orang pasti prosesnya beda-beda, nggak bisa disamain, nggak bisa dibanding-bandingin. Okelah kita bisa belajar dari pengalaman orang lain (modelling), tapi gimanapun caranya, kita nggak akan bisa copy-paste alias niru plek-plekan.

Orang-orang yang ketemu dan ngobrol deep sama gue 6 bulan terakhir mungkin sempet menyimak gue cerita atau menyebutkan bahwa 3 tahun terakhir ini adalah masa remedial besar-besaran dalam hidup gue. Maksudnya gimana? Yaaa tau kan remedial? Perbaikan. Menuntaskan apa yang belum tuntas. Dan ternyata buanyaaaak banget pelajaran yang belum tuntas dalam hidup gue.

Gile lama juga ya remedial 3 tahun. Terus sekarang udah tuntas? Belum juga!

Ya gimana nggak lama, dan banyak yang belum tuntas? Materi paling dasarnya aja belum tuntas!

Apa materi dasarnya? Yep, you guessed it: KENAL DIRI.

Balik lagi ke kutipan legendaris, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Rabb-nya. Kenal diri adalah koentji.

Tapi lagi-lagi gue juga masih belum menemukan, apa standar ketuntasannya. Soalnya, lagi-lagi tiap manusia itu unik. Nggak bisa disamain, nggak bisa dibanding-bandingin.

Apalagi semakin gue mempelajari tentang esensi menjadi manusia, esensi kehidupan, fitrah, purpose of life, and so on.. gue semakin yakin bahwa jalan hidup manusia itu unik, tiap-tiap manusia itu punya potensi unik, sekaligus dibekali dengan misi dan peran spesifik sesuai keunikan yang sudah dirancang dalam dirinya. Tapi masalahnya adalah.. banyak dari kita yang nggak memahami itu.

Boro-boro paham, nyadar pun enggak.

Mendapat kesadaran itu enggak mudah. Kesadaran (awareness) aja ada berlapis-lapis levelnya. (Coba deh belajar tentang Neuro-Logical Level. Seru banget.) Udah sadar pun, menemukan, memahami, dan menjalaninya juga enggak mudah. Tapi.. kenyamanan, kenikmatan, dan ketenangan yang didapatkan tentu berbeda.

Dan semua itu dimulai dari kenal diri. Sebagaimana nasehat yang entah dari zaman kapan selalu ada sampe dianggap klise:

“Be yourself”.

Simple. On point.
Tapi tidak semudah itu Fergusooo.

Yah kalo mudah ngapain kita semua ada di bumi yekaaan. Kalo mau gampang ongkang-ongkang kaki mah tempatnya di surga. Tapi di sini kan tempatnya berjuang ya Esmeraldah. (Mumpung lagi ga konslet bisa nulis begini Alhamdulillah. Walo rasanya pengen selftoyor berkali-kali sampe nembus tembok.)

Jadi seputar kenal diri ini.. apa standar ketuntasannya? Gimana taunya udah beneran tuntas apa belum?

Gue masih belum tahu.
Gue nggak tahu apakah gue akan pernah tahu.

Apa mungkin nggak pernah ada yang sepenuhnya tahu.
Apa mungkin… ketuntasan itu kembali ke makna tuntas itu sendiri.

Tuntas itu artinya selesai.
Selesai dengan diri artinya selesai menjalankan misi.
Selesai menjalankan misi artinya selesai dengan kehidupan di dunia ini.

Kalau memang demikian… mungkin standar ketuntasan sebenarnya adalah ketika kita mati?

الله اعلم

The Art of Enjoying Life

Sorry, this is also not a book review.

..walaupun judul itu memang terinspirasi dari buku yang berkaitan, tapi mohon dimaklumi, tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk memberikan resensi atau review tentang buku tersebut. (Karena saya sendiri juga belum baca, hahahaha.)

Qadarullah, saya malah berkesempatan berguru sama penulisnya langsung sebelum baca bukunya. Asik kan? :)

Anggep aja asik lah ya.

Anyway, since we all like stories (well at least I do), here’s a little background story..

Continue reading “The Art of Enjoying Life”

Hanya Tak Ingin Merasa Sendiri

Kadang gue merasa gemes sama diri gue sendiri. (Bukan, bukan gemes yang begitu.)

Sebenernya gue gemes sama mayoritas manusia sih. Yah, sebelum nunjuk orang lain gue nunjuk diri sendiri dulu lah ya. Eniwei, hal serupa dilakukan oleh banyak manusia soalnya.. dan kayaknya itu jadi mempengaruhi pola pikir kita sebagai masyarakat. (Kita? Lo aja kali.)

Entahlah, tiba-tiba gue gemes aja sama diri gue sendiri. Lalu gue mulai bertanya-tanya sama diri gue sendiri.

Kenapa sih Dhil elo tuh kalo nulis mesti dicakep-cakepin?
Atau nulisnya tuh nunggu mood bagus dulu?
Atau mau ngepost cuma kalo tulisannya bagus, kalo kira-kira tulisannya “layak dibaca”?

Kenapa sih elo tuh berani nulis dan di-publish kalo lagi “waras” aja?

Yah, oke, mungkin gue bisa menyediakan berbagai alasan untuk menjawab itu, tapi sekarang rasa-rasanya ingin menuangkan dulu aja apa yang dirasa dan juga apa yang ada di dalam kepala.

Continue reading “Hanya Tak Ingin Merasa Sendiri”

Yang Paling Dekat

Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan turut berduka cita atas musibah jatuhnya penerbangan Lion Air JT-610 di perairan Karawang, Senin 29 Oktober 2018 lalu. Semoga semua korban ditemukan dalam keadaan sebaik-baiknya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan penenang hati terbaik. Aamiin ya Rabb..

Sejujurnya, bisa dibilang saya termasuk salah satu yang berduka. Setidaknya saya diberikan hikmahNya.

Salah seorang kawan belajar saya di Limitless Campus Lab Batch 2, Vivian Afifa, adalah salah seorang penumpang yang terdaftar di manifest penerbangan JT-610 tersebut.

Sungguh, ketika mendengar kabar tentangnya, saya merasa begitu terkejut. Saya merinding, merasa bahwa memang Allah menunjukkan Kuasa dan Tanda-tanda Nya.

Ketika tulisan ini dibuat, saya baru saja menyimak wawancara di media dengan salah seorang keluarga korban; korban tersebut sempat mengabadikan momen-momen sebelum keberangkatan, termasuk memvideokan boarding pass dan mengirimkan video itu kepada istrinya. Dan sang istri seolah sudah mendapat firasat terkait keberangkatan sang suami, dan sempat meminta sang suami untuk menunda perjalanannya, namun sang suami memutuskan perjalanan tetap perlu dilakukan. Qadarullah, takdir memang sudah ditetapkan, sang suami mengakhiri perjalanan hidupnya pagi itu.

Menyimak kisah mereka.. Saya pun ingin mengabadikan secuplik memori saya bersama Vivian, yang membuat saya merasa mendapat begitu banyak hikmah dari musibah ini. Semoga kawan-kawan yang membaca bisa memetik hikmah-Nya. In syaa Allah.

Februari-Maret 2018

Saya berkenalan dengan Vivian di sebuah platform pengembangan diri bernama Limitless Campus. Kami tergabung dalam suatu program pengembangan diri yang disebut LC Lab yang sudah berjalan dua angkatan, kami adalah bagian dari LC Lab Batch #2. Di sana kami belajar bersama-sama dipandu oleh para mentor dan coach yang ahli di bidangnya, agar kami bisa mengenal potensi diri kami sebenarnya hingga akhirnya kami bisa menghasilkan karya.

Di situlah saya mengenal Vivian, kepribadiannya yang menyenangkan, dan ide-idenya yang menyegarkan. Mungkin interaksi saya dengan Vivian berbeda dengan intensitas interaksi saya dengan beberapa kawan LC lainnya, namun setiap saya berinteraksi dengan Vivian, saya sungguh bisa merasakan passionnya. I can honestly say that she is a brilliant young woman.

Akhir Maret 2018

Saya memasuki masa kelam dan titik balik karier dan hidup saya, yang membuat saya “undur diri” dan “hilang kontak” dengan komunitas Limitless Campus, termasuk Vivian.

Awal Oktober 2018

Saya menemukan hikmahNya dan mulai bangkit. Saya kembali bertemu dengan beberapa orang di komunitas Limitless Campus dalam keadaan berbeda.

Senin, 22 Oktober 2018

Saya kembali memasuki komunitas Limitless Campus, dengan mengikuti kelas Limitless Campus di WeWork Revenue Tower, SCBD. Di sana saya kembali menjalin kontak dengan team LC dan membuat janji untuk bertemu di hari berikutnya.

Selasa, 23 Oktober 2018

Sambil menunggu waktu pertemuan, saya melanjutkan pekerjaan saya di co-working space WeWork. Beberapa waktu berlalu, saya mendengar orang yang akan saya temui mendekat, tetapi tiba-tiba membuka percakapan seru dengan orang lain sehingga saya pun tetap menunggu.

Namun kemudian saya mendengar ia menyebutkan nama saya..

“Eh, ini ada si Dhila juga lho!”

Saya pun menengok dan terkejut melihat wajah yang begitu familiar.

“Eeeh??? Vivian? Kok ada di sini?” Sapa saya dengan sungguh tak menyangka.

“Lhoooo, dari tadi tuh lo duduk di belakang gue?? Yaampun segitu deketnya gak nyadar sama sekali!” Respon Vivian yang tak kalah terkejutnya.

The three of us talked about what’s happening recently. Ternyata Vivian dan tim Limitless Campus bekerja di gedung bahkan working space yang sama, hanya saja belum pernah berpapasan sebelumnya. Kami pun bertukar cerita, saling update kabar; Vivian bercerita tentang pekerjaan dan organisasi tempatnya bergiat saat itu, dan kita pun bertukar kabar seputar Limitless Campus.

It was a pleasant surprise.

Saya tidak begitu ingat apakah sempat mengucapkan kata selamat berpisah ketika kami tak lagi duduk berbelakangan di tempat tadi, karena kami pun kembali pada urusan masing-masing. Namun saya ingat kata-kata terakhir yang saya ucapkan dalam dialog terakhir dengan Vivian.

“Thanks ya, Vi!”

Kata-kata terakhir saya padanya setelah saya merepotkannya untuk membuka akses menuju mushalla.

Dan saya bersyukur, saya sempat menyampaikannya pada Vivian.

Senin, 29 Oktober 2018

Sekitar pukul 07.30 WIB

Pagi itu saya menyalakan televisi dan menyimak berita tentang sebuah pesawat Lion Air yang hilang kontak tak begitu lama setelah lepas landas dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Berita yang sungguh mendebarkan, karena semua pihak yang terlibat masih melacak di mana keberadaan pesawat tersebut.

Sekitar pukul 09.00 WIB

Saya sedang bersiap untuk beranjak dari rumah sambil tetap menyimak Breaking News di televisi.

“Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan dekat Karawang”

Ya Allah.. Innalillahi. Musibah bertubi-tubi menimpa negeri. Ampuni kami ya Allah…

Sekitar pukul 12.30 WIB

Saya mendapat pesan dari team LC yang saya temui dan berpapasan dengan Vivian pekan lalu.

“Vivian korban Lion Air yang jatuh, Nad..”

Allahu akbar…

Saya merinding.

Apakah benar??? Tapi kan baru saja saya ketemu dengannya minggu lalu, setelah sekian lama tanpa berkabar.

Baru saja saya kembali berkabar dengan Vivian, merasakan kembali semangatnya dalam berkarya..

Namun kini dia sudah sedemikian jauhnya?

Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..

Sungguh, kita adalah milik Allah dan sungguh hanya kepadaNya kita kembali.

Saya sama sekali tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan Vivian.

Dan saya sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah pertemuan kami yang terakhir kali.

Sungguh, mungkin perasaan saya dan kondisi saya saat ini bisa jadi berbeda seandainya saya tidak dipertemukan kembali dengan Vivian kala itu.

Sungguh, mungkin ini semua benar adalah bagian dari skenario-Nya.

Sungguh, semua ini sudah menjadi Ketetapan-Nya..

Bahwa yang paling dekat dengan kita sejatinya adalah akhir perjalanan kita.

Kematian. Akhir dari segala perjalanan.

Tak ada yang mampu menduga kapan dan di mana akhir dari perjalanan kita..

Allaahu Rabbii.. segala puji bagi Engkau.

Terima kasih telah engkau hadirkan sosok Vivian dalam hidup kami.

Terima kasih telah Engkau izinkan diri ini untuk menjadi bagian dari kisah hidupnya.

Terima kasih telah Engkau berikan kesempatan bagi diri ini untuk menyampaikan pesan yang baik di akhir pertemuan dengannya.

Terima kasih telah Engkau berikan hikmah bagi diri yang hina ini untuk belajar dari perjalanan hidup Vivian.

Semoga Engkau akhirkan perjalanan Vivian dan menyambutnya dalam keadaan terbaik…

Allaahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fuanhaa..

Allaahummaa laa tahrimnaa ajrahaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa..

Dear Vivian Afifa, selamat berjalan kembali menuju Rabbmu.

Semoga kita dipertemukan kembali dalam keadaan terbaik di hadapan-Nya.

Aamiin…

Jakarta, 31 Oktober 2018.
@nadhilaaz, seorang kawan dan seorang makhluk yang penuh kealpaan.

Skenario Terindah

Sejujurnya gue telah memutuskan untuk berusaha menghindari menulis dengan bahasa campur-campur, tapi gue lagi terlalu capek dan males mikir untuk nulis dalam bahasa Inggris, sedangkan dalam beberapa hal gue merasa perlu mengekspresikannya dalam bahasa Inggris karena kalo pake Bahasa Indonesia tuh kadang jatohnya “rasa” yang dihasilkan berbeda.

So, I hope you don’t mind if I mix in some English sentences once in a while.
If you mind.. ya gak usah baca aja kaleee. :D

Oh dan satu hal lagi, mengingat gue itu kalo cerita suka heboh dan detail banget, ini posting sepertinya bakal cukup panjang. Cuma mau ngasihtau aja sih, daripada sampeyan misuh-misuh karena ceritanya kepanjangan, kalo emang gak terlalu suka baca tulisan panjang, ya gak usah dilanjutin aja bacanya. Hehehe.

Jadi begini..

Sampe sekarang gue masih sering gagal paham sama cara kerja skenarionya Allah. Bener-bener deh, rencana-Nya itu super ajaib. Seringkali sama sekali gak kita prediksi. Kok ya tau-tau aja bisa begitu, di luar kebiasaan, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah kejadian dalam 24 jam yang lalu dari hidup gue.

Continue reading “Skenario Terindah”