Tuhan Kecil

Jangan jadi tuhan kecil, wahai orangtua!
Hanya karena memiliki wewenang atas anaknya,
Lantas jadi merasa sedemikian berkuasa.
Mengatur dan mengkritik setiap gerak-geriknya sedemikian rupa.
Seolah anak itu makhluk tak berdaya.
Padahal setiap manusia diciptakan dengan kehendak bebas olehNya.

Jangan jadi tuhan kecil, wahai orangtua!
Hanya karena berperan jadi jalan lahir bagi anaknya,
Dan memberikan sandang, pangan, papan semasa kecilnya,
Lantas merasa memiliki seluruh kehidupannya,
Mengendalikan hidupnya sedemikian rupa.
Padahal bukankah anak itu hanyalah titipanNya?

Jangan jadi tuhan kecil, wahai orangtua!
Tuhan saja tidak mengekang makhluknya,
Tapi kalian lebih banyak menghakiminya,
Apresiasi pun tak diberikan juga,
Hingga tumbuh besar namun kerdil jiwanya,
Senantiasa mencari validasi dari luar dirinya,
Jangan-jangan malah tertanam benih syirik di hatinya,
Karena lebih takut dinilai orangtua daripada Tuhannya.

Jangan jadi tuhan kecil, wahai orangtua!
Ini adalah kisah nyata,
Bahkan tak sedikit kejadiannya,
Anak-anak yang semakin menjauh dari orangtua,
Karena tak mendapatkan relasi emosi yang sehat dari mereka.

Berapa banyak orang yang terseok-seok menjalani kehidupan,
Bergelut dengan dalamnya luka pengasuhan,
Karena orang yang selayaknya berperan sebagai teladan, teman dan konsultan,
Malah berlaku seolah-olah sebagai Tuhan.

“Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
 
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
 
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
 
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
 
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
 
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
 
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
 
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.”

Kahlil Gibran, “Anakmu Bukan Anakmu”

Jakarta,
25 Mei 2020 / 2 Syawal 1441

Start With Why

Sorry. This is not the book review.

Gue cuma sedang mencoba memetakan isi pikiran gue sendiri. Gue sedang mencoba memetakan apa yang gue pikirkan, apa yang gue rasakan, sehingga membuat gue melakukan apa yang gue lakukan sekarang: memperjuangkan pendidikan keluarga.

Gue sedang mencoba merunut kembali, apa yang mendasari pilihan gue itu.The strong why.

The grand why.

Kenapa perjalanan gue mencari model pendidikan yang (mendekati) ideal itu akhirnya mengantarkan gue menuju kesimpulan bahwa pendidikan yang (mendekati) ideal adalah yang sesuai dengan fitrah peserta didiknya.

Dan institusi yang paling (mendekati) ideal untuk menjalankan pendidikan berbasis fitrah itu, adalah keluarga.

Yeah, why?

Continue reading “Start With Why”