Back (Again)!

Hey there! Wow.. Lama amat ya gue ga ngepost, gile hampir setahun, itupun postingan nyomot, hahaha.. Udah biasa sih sebenernya, haha seperti biasa timbul tenggelam dalam dunia per-blog-an :p

Sebenernya gue kembali ke blog ini pun gara-gara ngeklik link postingan yang pernah gue share ke orang.. Terus pas gue baca lagi tulisan gue, kok kayaknya gue malu ya sama diri gue sendiri.. Bro, lu dulu pernah nulis kayak gitu loh bro. Sekarang lu udah menghasilkan apa, hah? *berpikir keras*

Anyway, mungkin itu dulu sedikit (another) welcoming (back) speech dari gue, sekarang saatnya gue merenung dan berpikir dalam-dalam tentang apa yang sebaiknya gue tulis di postingan berikutnya.. Haha semoga blog ini kembali terisi oleh tulisan-tulisan yang mungkin tetep garing tapi agak berbobot dan cukup layak agar tidak menyakiti mata dan pikiran para pembaca..hahaha.

See you around, folks!

Advertisements

Galau: An Overrated, Over-abused Word

Rasanya, lama-lama, kata “galau” makin terlalu sering dipake dan disalahgunakan deh.

Dan terkadang, rasanya berlebihan, dan lama-lama bahkan menyebalkan, saking terlalu sering dikatakan. Kadang sesuatu yang sebenernya nggak galau pun jadi terkesan galau karena ada yang berkomentar sesuatu itu galau!

Apa nggak ada istilah lain selain “galau”? Kan banyak pilihan kata lain yang bisa mendeskripsikan suatu ekspresi, misalnya sedih, sendu, haru, pilu, gundah, masygul, atau apalah itu..

Kan nggak harus “galau”?

Sejak kapan kata sifat dalam Bahasa Indonesia menjadi sebegitu sempitnya?

Saya jengah dengan kata galau.

Ya, karena saya sering dibilang galau. Sebenarnya saya juga nggak ngerti kenapa saya dibilang galau. Saya nggak merasa galau, kok.

Saya menulis. Dalam bentuk apa pun itu; posting di blog, Tumblr, kicauan di Twitter, bahkan sampai komentar di wall Facebook, dan semacamnya.. Itu pun menulis, kan?

Menulis itu mengekspresikan diri. Menyalurkan emosi. Dan perlu diketahui, yang namanya emosi itu nggak cuma negatif. Ada juga emosi positif. Dan ada juga campuran antara keduanya.

Menulis itu cuma salah satu cara untuk menyalurkannya, dan menurut saya, ini satu cara yang positif. Bolehlah menulis, asal tahu tempat dan waktunya. Bolehlah menulis, memanfaatkan media yang ada.

Dan faktanya, banyak karya-karya terbaik, tulisan-tulisan terbaik, merupakan ekspresi dari emosi pembuatnya. Entah itu emosi positif, atau emosi negatif, atau kombinasi antara keduanya.

Tapi, haruskah dikatakan “galau”?

Ketika mungkin sang penulis mencoba mengekspresikan rasa yang lain?

Bagi Anda yang sering mengucapkan kata “galau”, apakah Anda tahu apa sebenarnya arti kata “galau” itu sendiri?

ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau

Itulah definisi “galau” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Lalu apakah ketika seseorang merasa sedih, sendu, pilu, ataupun haru.. lantas bisa dikatakan “galau”?

Ketika sebenarnya rasa itu sederhana, tidak kacau, dan tidak beramai-ramai?

Silakan Anda simpulkan sendiri.

10-11-12

Hari ini, tanggal 10 November 2012, atau yang kalo disingkat jadi tanggal cantik: 10-11-12.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, tentunya tanggal cantik ini ga disia-siakan banyak orang yang pengen momen spesialnya jadi begitu terkesan dan mudah diingat, jadilah banyak orang yang menetapkan hari ini sebagai hari pernikahan.

Salah satu duanya, dua temen gue dari jaman SMP, the sweetest and best couple in our time; Meyta Laras Chanti & Adimas Imbang.

Yang paling unyu tentang mereka adalah bahwa mereka udah jadi couple sejak kita SMP, lebih dari 8 tahun yang lalu.. Ih waw, jaman-jaman kita masih cupu-cupunya sekaligus unyu-unyunya.. Hahahaha. Walaupun sepengetahuan gue, sejak lulus SMP, mereka sempet putus-nyambung dan bahkan menurut info dari temen gue, mereka sempet sama-sama jadian sama orang lain, tapi ternyata akhirnya hari ini mereka bener-bener ‘jadi’ juga.

Finally! After more than 8 long years.. they’re married! Awwww~ Congratulations, you guys~~

Ayo baca lanjutannya..

He is charming, but is he my Prince Charming?

Oh heavens, why is he so beautiful?
Not only the way he looks
But also the way he talks, the way he moves
The way he socializes, the way he lives his life
Oh heavens, why is everything about him so beautiful?

Oh heavens,
He’s a man who knows what he wants
A man who knows what he does
Oh heavens,
He’s a man who stands on solid ground

Oh heavens, we used to be close
We used to tell stories
We used to joke around
Oh heavens, we used to be friends

But oh heavens,
Distance did its part,
We had to be apart,
And oh heavens,
He met someone and landed his heart

Oh heavens,
Am I being delusional?
Would it be wrong if I wait for him?
Would he be worth the wait?

Oh heavens,
He is unbelievably charming,
But is he my ‘Prince Charming’?

Beasiswa

Kenapa kebanyakan beasiswa itu cuma buat mahasiswa yang “tidak mampu”? Harus bikin “Surat Keterangan Tidak Mampu dari RT/RW”, dsb..

Kenapa ga ada beasiswa buat mahasiswa yang “mampu tapi buat bayar kuliah mesti ngutang sana-sini”?

Kenapa jarang ada beasiswa buat mahasiswa yang emang berprestasi, tanpa embel-embel “surat keterangan tidak mampu”?

Kenapa ga ada beasiswa untuk mahasiswa yang “secara akademis biasa aja tapi berprestasi di bidang non-akademis”?

Kenapa pendidikan sekarang serba mahal?

Kenapa ilmu pengetahuan jadi sesuatu yang diperjualbelikan?

________

Hanya sesuatu yang sempat terpikir beberapa waktu yang lalu, dan rasanya sayang kalau dibiarkan teronggok di draft begitu saja..