Start With Why

Sorry. This is not the book review.

Gue cuma sedang mencoba memetakan isi pikiran gue sendiri. Gue sedang mencoba memetakan apa yang gue pikirkan, apa yang gue rasakan, sehingga membuat gue melakukan apa yang gue lakukan sekarang: memperjuangkan pendidikan keluarga.

Gue sedang mencoba merunut kembali, apa yang mendasari pilihan gue itu.The strong why.

The grand why.

Kenapa perjalanan gue mencari model pendidikan yang (mendekati) ideal itu akhirnya mengantarkan gue menuju kesimpulan bahwa pendidikan yang (mendekati) ideal adalah yang sesuai dengan fitrah peserta didiknya.

Dan institusi yang paling (mendekati) ideal untuk menjalankan pendidikan berbasis fitrah itu, adalah keluarga.

Yeah, why?

Continue reading “Start With Why”

Ini Aku, atau Ego?

Akhir-akhir ini sering terlintas di pikiran. Soal batas tipis antara kedua ini.

Masih seputar kesadaran. Seputar kenal diri. Menjadi diri yang sejati.

Kembali lagi.. semua itu hanya hipotesa.

Namun ketika berproses, berupaya menjadi diri yang sejati, terkadang sulit mengenali.. apakah ini benar aku? Atau aku sedang memberi makan ego?

Apa betul aku sedang menjadi diriku? Apa betul aku sudah selaras dengan misiku?

Apa yang sedang aku perjuangkan? Apa betul aku sedang memperjuangkan kebenaran?

Atau aku sekedar tidak mau kalah?

Atau aku sekedar tak ingin terlihat lemah?

Teringat suatu kalimat yang sangat menyentuh jiwa yang berupaya terhubung ke langit.

“Apabila kamu mencintai/melekat kepada kebaikan yang kamu perbuat melebihi cintamu kepada Allah, maka bersiaplah kehilangan apa yang kamu cintai itu.” – M. Maula Nurudin

Setiap orang bisa berbuat kebaikan. Banyak hal yang sebetulnya baik dan membaikkan.

Tapi.. baik dan buruk itu sungguh relatif. Tergantung siapa yang menilai dan menggunakan kriteria apa menilainya.

Lalu, kebaikan seperti apa yang sejatinya tercatat sebagai amal shalih?

Tentu saja jika niatnya itu lurus hanya untuk Allah saja. Jika niat itu selaras demi memenuhi maksud dan tujuan sebagai hamba-Nya.

Lalu jika setiap saat aku menolak untuk kalah,
Jika aku terus berupaya untuk mempertahankan apa yang baik meski tak diterima,
Jika yang awalnya niat baik namun berubah menjadi adu menang..

Apakah aku masih berjuang untuk-Nya?

Atau aku sekedar memuaskan ego belaka?

2018: A (Journey of) Reflection

3 months.

3 months since I somehow got back on my senses.

3 months.. perhaps it’s a reasonable period of time to do a whole lot of things.. until you suddenly feel so tired with no reason whatsoever. Feeling so uneasy completely out of nowhere.

Perhaps it’s a sign that it is time to reflect again.

. . .

For me, 2018 has been a year full of losses.

Yeah, I’ve lost quite a lot. I lost so much time. I lost my (full-time) job. I lost opportunities. I lost my kids. I lost my friend. I lost precious relations..

And I guess for quite some time then.. I lost myself.

I lost sight of who I am. And perhaps I still do, from time to time.

But at the same time, I feel like I keep on getting the chance to find myself all over again.

Does it make sense to you? I don’t mind if it doesn’t.. Everyone has their own timeline to encounter such things.

Losing something precious to you is never easy.

Moving on is never easy. But if you are patient enough to get over it, you sure would grow so much..

Or so I think. You might think otherwise. It’s okay. It’s perfectly fine to have your own opinion.

Either way, it is often harder to forgive yourself than to forgive others.

That one dumb big awful mistake you made, it may ruin you. Broke someone’s heart. Broke relations apart.

And you can’t even do anything to make it right again…

But then again, if it happens then so it happens.

Nothing is a coincidence. It is all meant to be.

It must be part of His Grand Plan, somehow.

. . .

I just hope I can get over it before I fall apart all over again…

Jakarta, soon ending December 2018.
@nadhilaaz