“Bagi Orang-Orang Yang Berpikir”

Berapa kali frase itu diulang di Al-Qur’an? Jelas nggak cuma disebutkan sekali saja.

“..bagi kaum yang berpikir.”
“..bagi orang-orang yang berakal.”
“..agar mereka mengambil pelajaran.”
dan frase sejenisnya.

Sebagai orang yang merasa sulit sekali untuk berhenti berpikir (bahkan sering sampe overthinking), hal ini nggak cuma sekali juga terlintas di kepala gw. Entah akhirnya salah atau benar, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Pertama-tama, sedikit latar belakang. Berhubung isi pikiran gw cepet banget lompat-lompatnya, tulisan ini mungkin akan sulit dicerna kalo tanpa penjelasan di beberapa bagian.

Entahlah, mungkin memang bagian dari ketetapan-Nya, mungkin bagian dari proses yang dihadirkan-Nya.. gw masih saja mempertanyakan maksud dan tujuan. Alasan keberadaan. Makna kehidupan.

Atau mungkin.. memang pertanyaan itu sebetulnya tak akan selesai dipertanyakan?

Continue reading ““Bagi Orang-Orang Yang Berpikir””

Ini Aku, atau Ego?

Akhir-akhir ini sering terlintas di pikiran. Soal batas tipis antara kedua ini.

Masih seputar kesadaran. Seputar kenal diri. Menjadi diri yang sejati.

Kembali lagi.. semua itu hanya hipotesa.

Namun ketika berproses, berupaya menjadi diri yang sejati, terkadang sulit mengenali.. apakah ini benar aku? Atau aku sedang memberi makan ego?

Apa betul aku sedang menjadi diriku? Apa betul aku sudah selaras dengan misiku?

Apa yang sedang aku perjuangkan? Apa betul aku sedang memperjuangkan kebenaran?

Atau aku sekedar tidak mau kalah?

Atau aku sekedar tak ingin terlihat lemah?

Teringat suatu kalimat yang sangat menyentuh jiwa yang berupaya terhubung ke langit.

“Apabila kamu mencintai/melekat kepada kebaikan yang kamu perbuat melebihi cintamu kepada Allah, maka bersiaplah kehilangan apa yang kamu cintai itu.” – M. Maula Nurudin

Setiap orang bisa berbuat kebaikan. Banyak hal yang sebetulnya baik dan membaikkan.

Tapi.. baik dan buruk itu sungguh relatif. Tergantung siapa yang menilai dan menggunakan kriteria apa menilainya.

Lalu, kebaikan seperti apa yang sejatinya tercatat sebagai amal shalih?

Tentu saja jika niatnya itu lurus hanya untuk Allah saja. Jika niat itu selaras demi memenuhi maksud dan tujuan sebagai hamba-Nya.

Lalu jika setiap saat aku menolak untuk kalah,
Jika aku terus berupaya untuk mempertahankan apa yang baik meski tak diterima,
Jika yang awalnya niat baik namun berubah menjadi adu menang..

Apakah aku masih berjuang untuk-Nya?

Atau aku sekedar memuaskan ego belaka?

Selesai Dengan Diri Sendiri

Jujur aja, makin lama gue makin merenungkan makna “selesai” dengan diri sendiri. Gue sendiri pun kayaknya baru mulai mudeng sama istilah itu beberapa tahun terakhir.

Ada yang bilang, “orang yang selesai dengan dirinya sendiri, tidak akan tersinggung dengan apa kata orang lain.”

Ada juga yang bilang, “kalau mau menikah, maka lo perlu selesai dengan diri lo sendiri, karena lo akan berbagi hidup, berbagi pikiran dan jiwa dengan orang lain, berbagi masalah dan tantangan dengan orang lain. Kalo lo belum tuntas dengan diri lo sendiri, gimana lo mau memahami pasangan lo?”

Ada juga yang bilang, “orang yang selesai dengan dirinya tidak lagi mencari sesuatu untuk memuaskan dirinya sendiri, dia akan mencari yang lebih besar dan lebih penting dari dirinya.”

Tapi ada juga yang bilang, “kita tidak akan pernah selesai dengan diri kita sendiri. Apa yang kita kenal dari diri kita saat ini itu semua hanya hipotesa. Kita hanya bisa terus ber-‘iterasi’. Selesai itu ya kalau kita mati.”

Semua pemaknaan itu bagi gue masuk akal, tapi akhirnya gue lebih bisa menerima pernyataan yang terakhir.

Kita tidak akan pernah selesai dengan diri sendiri. Kita baru “selesai” ketika kita mati.

Gue baru mulai bisa memahami ketika gue mengalaminya sendiri. Gue nggak mau berasumsi, tapi sepertinya hampir pasti itu terjadi pada setiap orang, pada waktunya masing-masing.

Gue mengalami masa di mana gue mengira bahwa “inilah gue yang sejati”, tapi ternyata hipotesa itu belum tepat, karena seiring berjalannya waktu, gue kembali menghadapi keraguan, ketidaksesuaian. Atau mungkin hipotesa itu sebagian benar, namun belum pada lingkup area yang tepat, atau belum bertemu orang-orang yang tepat. Atau bisa jadi lingkup areanya sudah benar, namun kegiatannya yang belum tepat.

Entahlah. Kalau menurut salah seorang guru saya, Mas Ivandeva, kita hanya bisa ber-iterasi. Mencoba berbagai skenario berbeda, menyesuaikan objek, kegiatan, orang-orang, atau “agenda” yang berbeda, hingga kita bisa menemukan hipotesa yang paling mendekati sebenarnya.

Menurutnya, kebingungan dan titik persimpangan dalam hidup adalah kesempatan. Ia adalah pertanda bahwa ada yang belum selaras. Ia bisa jadi adalah pengingat untuk menyelaraskan kehidupan dengan diri yang sejati.

Dan ternyata, kebingungan dan titik persimpangan ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Bisa jadi terjadi terus-menerus, hingga kita bisa menemukan diri yang sejati. Bisa jadi suatu kali kita (mengira) bahwa kita sudah menemukan “inilah gue”, tapi seiring waktu berlalu, itu bisa berubah. Itu bisa jadi tidak lagi relevan.

Dan ternyata.. itu nggak apa-apa.

Nggak ada yang salah dari diri lo ketika suatu saat lo merasa nggak relevan, nggak dibutuhkan.

Mungkin lo hanya perlu mencari kegiatan lain yang membuat lo berdaya.
Mungkin lo hanya perlu mencari hal lain yang membuat lo berdaya.
Mungkin lo hanya perlu mencari audiens lain yang membutuhkan lo.
Mungkin lo hanya perlu mencari agenda lain yang membutuhkan lo.

Jadi bergeraklah.

Temukan.
Lakukan.
Rasakan.

Oh, hei. Ternyata gue sedang bicara dengan diri sendiri.

Jakarta, 7 Februari 2019.
@nadhilaaz, yang berada di persimpangan entah keberapa.