It’s My Life

It’s my life
It’s now or never
I ain’t gonna live forever
I just wanna live while I’m alive

It’s my life
My heart is like an open highway
Like Franklin said, “I did it my way”
I just wanna live while I’m alive

Bon Jovi – It’s My Life

Lagu ini masih terus terngiang-ngiang di kepala gue sampe saat ini, tetapi itu nggak bikin gue kesel (seperti mungkin umumnya lagu yang terngiang-ngiang di pikiran), justru bikin gue lebih semangat :)

Ya, baru dalam 4 hari kebelakang ini gue bener-bener mendalami lirik lagu ini, dan meresapi maknanya. Ini hidup gue. Hidup gue adanya sekarang; nanti, besok, lusa, siapa yang tahu? Only Allah knows. Gue punya pilihan untuk menentukan hidup gue. Mau seperti apa? Mau dibawa kemana?

Dan ternyata gue udah pernah menulis tentang pilihan loh di sini. (Baru nyadar, hahaha. Terus sekarang nulis apa dong yah.)

Oh, iya. Kalau gitu sekarang gue nulis tentang kesadaran deh. Bahasa kerennya (eh, Bahasa Inggrisnya ding) sih awareness.

Apa itu awareness? Awareness adalah kesadaran. (Lah, dibolak-balik doang.)

Continue Reading

Why Do I Choose to Focus on Education?

This post is mostly a reminder to myself, but I guess it’d be great if it gives any benefit to anyone else, so here goes..

First of all, I believe that there is an eternal life after death. I believe in the afterlife. I believe that how or where we end up in the afterlife, is determined on how we “perform” in this life on earth. Surely we would want to end up in the best place in afterlife. Therefore, there’s a purpose in this life. There are missions to complete. It’s all stated in the Qur’an.

I choose to pursue a career in education because I believe it gives me a wide opportunity to reach that purpose. Given the reality of our country’s education up until today, I realize that I have goals, ideas and wishes I want to accomplish in the field of education.

It’s true that learning is a never ending journey. We’re all actually learning as we live. Even so, not many of us realize that. It’s possible that it is caused by the way we’ve been educated in schools, where we usually don’t really feel the joy of learning. Well, do you? I mean, do you remember all those tests you had to take when you were in school? Did you actually enjoy learning all those things? Did you actually want to learn all those things? Or did you learn them just because you’re told to do so? Did you learn them just because you had to pass all those tests? Did you know why you had to learn all those things? Did you make use most of those things you learnt?

If you answered no to most of those questions, don’t be disappointed. I’m quite sure most people might answered the same. At least I did. :)

Continue Reading

What’s Your Elevator Pitch?

What are you excited about? Why are you excited about it?

I’m excited about making a reformation on education in Indonesia. I’m excited about how learning is supposed to be an enjoyable journey. I like sharing ideas about how school is supposed to be, and how school can be like. I’m excited about learning about Finland’s education system.

Why education? Because I believe that education is a powerful thing that shapes us as human, improving our qualities and our lives. I believe that education can influence many people, touch a lot of lives. School ages are the golden ages, where children learn many things, interact with different people, getting to know the world, experiencing many things that eventually build their character. It’s a critical phase in life, and it would be such a shame if we falsely focused on testing and standardizing children’s abilities, and losing the substance of learning process.

It’s sad to see the reality of education in Indonesia (or even in many parts of the world), where the quality of education is so uneven. High quality means high costs; therefore only wealthy ones have the chance of getting high quality education. That being said, higher cost doesn’t always guarantee the quality either. Since the system always focuses on testing and grading students, school seems to be such a dreadful place, where kids feel pressured to meet so many standards, because they are judged based on what they can or cannot do. It ignores the unique nature in every individual, as if turning them away from who they really are. Perhaps that’s why we are often so unsure about our lives, not daring to push ourselves and find what we’re truly passionate about.

I believe school is supposed to be preparing us to live in the real world, teaching us the know-hows, helping us to realize our potentials, our passion; instead of pushing us to learn many things and pass standardized tests without knowing how to apply it in our lives. I believe teachers are supposed to be mentors, who actually know their students personally, helping them to grow, to personally develop theirselves. I believe teachers should be the ones who know their students best (aside of the parents, of course) so they’d know better how to “test” their competence -because students’ capabilities are different!-, instead of a national curriculum that changes everytime.

I’m excited to share these kind of ideas with people who have similar concerns, and willing to do something to create a more learning-friendly environment. Those who are willing to make the best experience out of our schools, our education. I want to make education better in Indonesia. It’s a very long way to go, but I’m excited to start the journey.

Bismillah..

My Ultimate Dream

Fix. My ultimate dream is to revolutionize Indonesia’s education.

Membuat revolusi di dunia pendidikan Indonesia? Kenapa?

Hari ini gue kembali dapet pencerahan. Jadi sebenernya gue abis dapet materi training tentang presentation skill. Tapi materi ini ga mentok cuma membekali cara-cara atau tips n trick gimana biar bisa presentasi dengan baik dan benar, tapi juga tentang how to be a leader. Sebenernya gue sedikit banyak bisa relate tentang materi training ini, yang dibawain oleh fasilitator Loy Nadal, dengan materi lain yang pernah gue baca, yaitu bukunya Ust. Felix Siauw. Intinya tentang habits. Bahwa apa yang kita lakukan selama ini, apa yang jadi perilaku kita, mau dalam bergaul, beraktivitas, bersikap, sampe cara mempresentasikan sesuatu, itu adalah akibat dari habits (kebiasaan). Contohnya, ketika presentasi kita mungkin sering bilang “eeh..” atau “nggg..” atau mungkin juga sambil lirik kesana kemari, badan goyang-goyang, dll dsb. Itu semua karena habits. Nah, gimana biar kita bisa presentasi dengan lancar dan percaya diri, ga pake bilang ngg ngg lagi? Caranya ya by breaking the habits!

Nah, habits ini juga berkaitan dengan apa yang mau gue bahas. Jadi dari yang gue dapet tadi, intinya untuk masuk dunia kerja, terutama untuk jadi leader di dunia kerja, itu kan perlu banget soft skill. Perlu positive attitude. Dari yang gue pahami, soft skill dan positive attitude inilah yang pengen ditanamkan dalam seorang calon leader, especially di perusahaan. Ini lho yang harus dijadikan habit oleh seorang leader, supaya bisa membuat perubahan, kemajuan, dll.

Yang namanya habits itu kan dilakukan secara otomatis, biasanya ga pake mikir, yang berarti adanya di alam bawah sadar kita. Jadi bisa diibaratkan kayak iceberg (bongkahan es), di mana bagian yang tampak di permukaan kan cuma sebagian, kira-kira cuma 8-12% aja, sedangkan sisa 88-92% ada di bawah permukaan air, ga keliatan. Nah seperti itulah habits, yang udah terbentuk dalam alam bawah sadar kita. Makanya soft skill dan positive attitude ini harus jadi habit seorang leader, supaya bisa otomatis dilakukan dan akan jadi perilaku dan perbuatannya setiap waktu.

Nah, kalo emang soft skill itu justru yang penting, yang jadi bagian terbesar dari iceberg, kenapa ga ditanemin dari dulu? Kenapa ga diajarin dari dulu di sekolah? Kenapa kita ga dididik dengan cara seperti itu? Bahkan waktu gue cerita begini ke nyokap, nyokap langsung deh ujung2nya nyalahin budaya, nyalahin mentalnya yang udah ngaco, emang udah dari sananya begitu.. Padahal kan sebenernya bisa diubah! Terutama dari pendidikan, karena kita dari kecil sampe gede, masa2 optimal kita, kan belajarnya dari sekolah! Tapi terbukti bahwa banyak orang yang ga mau berubah, makanya ujung2nya cuma bisa nyalahin keadaan. Padahal kalo mau mengubah, bisa kok diusahain. Susah? Pasti. Tapi bukan ga mungkin kan?

That’s why gue pengen nyari, di mana sih sebenernya akar masalahnya? Siapa yang bikin sistem pendidikan kita jadi ngaco kayak sekarang ini? Kenapa ga ada usaha lebih lanjut buat membenahi tenaga kerja guru supaya bisa bener-bener mendidik, ga cuma ngajar doang? Apa emang salah sistemnya? Salah manajemennya? Salah programnya? Itu yang pengen gue cari tau.

Gue juga pengen studi banding, ngebandingin sama pendidikan Finlandia yang katanya terbaik di dunia. Kayak apa sih sebenernya? Gimana sih caranya kok bisa gitu? Gimana caranya biar kita bisa berubah jadi kayak gitu? Sumpah gue penasaran. That’s why gue pengen banget ke Finlandia, ngeliat langsung dan hopefully bisa terlibat langsung, experience sendiri kayak apa pendidikan di sana, gimana ngatur sistemnya, dll dsb. Gue belom tau apa tepatnya yang bisa gue lakuin buat nyampe ke sana. Tapi yang gue tau, insyaAllah sekarang gue lagi belajar buat dapetin ilmu untuk jadi leader. Ilmu dan pengalaman buat me-manage orang. Me-manage sistem.

Yah, basically, I’m on my way to learn to be a future leader, hopefully. Through this program in this company, I want to learn to be a good leader that can manage people and the system, so that I can apply it in a greater cause, hopefully in not a too distant future.

Budaya Menghukum dan Menghakimi dalam Sistem Pendidikan Kita

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

Baca lanjutannya..